Halaman

Selasa, 07 November 2017

Meraih kebahagiaan berdasarkan sudut pandang agama dan psikologi


            Kalau saya menanyakan kata bahagia apa yang ada dalam pikiran kalian? Jika saya menebaknya mungkin ada kata senang, tersenyum, dan bahkan menjadi tujuan dalam hidup. Kebahagiaan merupakan satu kata yang termasuk kedalam hal yang positif. Setiap manusia pasti menginginkan kata positif itu ada dalam perjalanan hidupnya terbukti tatkala kesedihan melanda orang lantas menyebutkan ingin sekali bahagia. Dengan demikian, kata bahagia ini berkaitan dengan kehidupan seseorang dan selalu dinginkan oleh setiap manusia.
            Kebahagiaan tidak terkait dengan latarbelakang usia, kekayaan, dan status sosial. Contohnya, seorang anak tentu terlihat lebih bahagia menurut orang dewasa tetapi belum tentu setiap anak merasakan setiap hari bahagia dalam hidupnya. Kemudian, seseorang yang kaya hartanya seperti memiliki rumah mewah, mobil banyak, perusahaan banyak dan menghabiskan uang berjuta-juta seakan menghabiskan uang seratus perak yang tidak begitu berharga baginya. Namun, orang tersebut tinggal sendirian atau bahkan selalu bermasalah dengan orang-orang terdekatnya apa menurut kalian dia akan bahagia? Tentu tidak, karena setiap manusia itu pasti butuh manusia lainnya. Contoh lainnya yaitu mengenai status sosial. Seseorang memiliki pangkat yang tertinggi di negaranya, dihormati, dan bahkan mudah melakukan apapun dengan akses yang ia miliki. Namun, karena ia merupakan sorotan masyarakat ada beban dikehidupannya untuk bersikap layaknya persepsi masyarakat yang ada. Coba saya Tanya apakah dia akan bahagia? Tentu bahagia namun ada beban ketika dipandang baik-baik dan selalu dihormati masyarakat sehingga kebahagiaannya itu tak akan bertahan lama. Dengan demikian, kebahagiaan itu semu, tak bisa selalu bahagia dalam hidupnya dan semua kalangan dengan latar belakang apapun pasti pernah merasakan kehilangan kebahagiaannya.
            Kebahagiaan apakah yang ideal dan bisa kita munculkan dalam kehidupannya? Allah telah menjawabnya bahwa kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Seperti do’a yang sangat terkenal : “Rabbanaa atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqiina ‘adzabannar”. Kebahagiaan dalam agama Islam itu bukan hanya kebahagiaan yang diraih didunia tetapi juga diakhirat karena kita akan hidup dua kali yaitu di dunia dan di akhirat.
Dalam tasawuf islam, kebahagiaan hakiki itu ada ketika kita senantiasa dekat dengan Allah swt. Ketika manusia berusaha mendekatkan diri kepada Allah swt aka nada rasa ketenangan dalam hidup yang tidak banyak orang lain miliki. Selain itu, Manusia mampu meraih kebahagiaan apabila berusaha mengubah keadaan diri mereka lebih baik seperti dalam Q.S Ar-Ra’d [13] ayat 11

Artinya : bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Keterangan :[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.[768] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Kebahagiaan menurut ilmu psikologi yaitu ketika manusia mampu menemukan dan mengubah kondisi hidupnya lebih baik. Manusia mampu menemukan makna hidup yang ia jalani seperti halnya teori makna hidup yang dikemukakan oleh Victor Frankl bahwa setiap manusia menginginkan diriinya berharga, penting, bermartabat dan berarti bagi dirinya, keluarga, lingkungan dan Tuhan. Aspek Tuhan dalam teori Victor Frankl merupakan aspek spiritual yang terlibat dalam aspek psikologis setiap manusia. Teori ini memang bukan muncul dari orang islam karena teori psikologi memang lebih banyak teori barat ketimbang teori spiritual apalagi islam yang masih berusaha dikembangkan di Indonesia. Meskipun demikian, teori tersebut bermanfaat bagi kehidupan kita.
Berikut metode menemukan makna hidup :
Ø  Pemahaman diri.
Sebelum kita memahami orang lain maka alangkah lebih baik pahamilah diri sendiri. Pahamilah kekuatan dan kelemahan diri dengan demikian kita dapat mengembangkan potensi atau kekuatan yang ada.
Ø  Bertindak positif setelah berpikir positif
Ketika mendapat masalah sering kali pikiran negatif yang menguasai pandangan kita. Maka, kita perlu mengendalikan diri untuk berpikir positif supaya setiap lagkah kita akan senantiasa positif.
Ø  Meningkatkan hubungan yang baik dengan orang lain seperti keluarga agar saling menyayangi dan mempercayai. Pada poin ini, sesuai dengan teorinya abraham maslow mengenai kebutuhan manusia yang harus dipenuhi dan salah satunya yaitu cinta dan kebutuhan sosial. Maka dari itu, manusia pasti menginginkan adanya cinta dalam kehidupannya.
Ø  Dapat memenuhi sumber makna hidup seperti bertanggung jawab pada tugas, berbuat baik, menghayati nilai-nilai kebenaran, dan yakin menuju perbuatan yang lebih baik.
Ø  Tahapan yang paling penting yaitu ibadah. Dengan beribadah kepada Allah swt akan mendatangkan ketenangan dalam hidup sehingga memunculkan kebahagiaan di setiap perkara kehidupannya.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, terdapat dua sudut pandang yaitu agama dan psikologi yang saling melengkapi sehingga menjadikan pembahasan yang utuh mengenai kebahagiaan. Dengan demikian, terdapat suatu simpulan bahwa kebahagiaan itu bukan dari orang lain tapi mulai dari diri kita yang berusaha menghadirkannya.


 (Redaksi : Irma Maesaroh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar