Kalau saya menanyakan kata bahagia
apa yang ada dalam pikiran kalian? Jika saya menebaknya mungkin ada kata
senang, tersenyum, dan bahkan menjadi tujuan dalam hidup. Kebahagiaan merupakan
satu kata yang termasuk kedalam hal yang positif. Setiap manusia pasti
menginginkan kata positif itu ada dalam perjalanan hidupnya terbukti tatkala
kesedihan melanda orang lantas menyebutkan ingin sekali bahagia. Dengan demikian,
kata bahagia ini berkaitan dengan kehidupan seseorang dan selalu dinginkan oleh
setiap manusia.
Kebahagiaan tidak terkait dengan
latarbelakang usia, kekayaan, dan status sosial. Contohnya, seorang anak tentu
terlihat lebih bahagia menurut orang dewasa tetapi belum tentu setiap anak
merasakan setiap hari bahagia dalam hidupnya. Kemudian, seseorang yang kaya
hartanya seperti memiliki rumah mewah, mobil banyak, perusahaan banyak dan menghabiskan
uang berjuta-juta seakan menghabiskan uang seratus perak yang tidak begitu
berharga baginya. Namun, orang tersebut tinggal sendirian atau bahkan selalu
bermasalah dengan orang-orang terdekatnya apa menurut kalian dia akan bahagia? Tentu
tidak, karena setiap manusia itu pasti butuh manusia lainnya. Contoh lainnya
yaitu mengenai status sosial. Seseorang memiliki pangkat yang tertinggi di
negaranya, dihormati, dan bahkan mudah melakukan apapun dengan akses yang ia
miliki. Namun, karena ia merupakan sorotan masyarakat ada beban dikehidupannya
untuk bersikap layaknya persepsi masyarakat yang ada. Coba saya Tanya apakah
dia akan bahagia? Tentu bahagia namun ada beban ketika dipandang baik-baik dan
selalu dihormati masyarakat sehingga kebahagiaannya itu tak akan bertahan lama.
Dengan demikian, kebahagiaan itu semu, tak bisa selalu bahagia dalam hidupnya
dan semua kalangan dengan latar belakang apapun pasti pernah merasakan
kehilangan kebahagiaannya.
Kebahagiaan apakah yang ideal dan
bisa kita munculkan dalam kehidupannya? Allah telah menjawabnya bahwa
kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Seperti do’a
yang sangat terkenal : “Rabbanaa atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah
waqiina ‘adzabannar”. Kebahagiaan dalam agama Islam itu bukan hanya kebahagiaan
yang diraih didunia tetapi juga diakhirat karena kita akan hidup dua kali yaitu
di dunia dan di akhirat.
Dalam tasawuf islam, kebahagiaan hakiki itu ada ketika kita
senantiasa dekat dengan Allah swt. Ketika manusia berusaha mendekatkan diri
kepada Allah swt aka nada rasa ketenangan dalam hidup yang tidak banyak orang
lain miliki. Selain itu, Manusia mampu meraih kebahagiaan apabila berusaha
mengubah keadaan diri mereka lebih baik seperti dalam Q.S Ar-Ra’d [13] ayat 11
Artinya : bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Keterangan :[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.[768] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.
Kebahagiaan menurut ilmu
psikologi yaitu ketika manusia mampu menemukan dan mengubah kondisi hidupnya
lebih baik. Manusia mampu menemukan makna hidup yang ia jalani seperti halnya
teori makna hidup yang dikemukakan oleh Victor Frankl bahwa setiap manusia
menginginkan diriinya berharga, penting, bermartabat dan berarti bagi dirinya,
keluarga, lingkungan dan Tuhan. Aspek Tuhan dalam teori Victor Frankl merupakan
aspek spiritual yang terlibat dalam aspek psikologis setiap manusia. Teori ini
memang bukan muncul dari orang islam karena teori psikologi memang lebih banyak
teori barat ketimbang teori spiritual apalagi islam yang masih berusaha
dikembangkan di Indonesia. Meskipun demikian, teori tersebut bermanfaat bagi
kehidupan kita.
Berikut metode
menemukan makna hidup :
Ø Pemahaman diri.
Sebelum kita memahami orang lain maka alangkah
lebih baik pahamilah diri sendiri. Pahamilah kekuatan dan kelemahan diri dengan
demikian kita dapat mengembangkan potensi atau kekuatan yang ada.
Ø Bertindak positif setelah berpikir
positif
Ketika mendapat masalah sering kali pikiran negatif
yang menguasai pandangan kita. Maka, kita perlu mengendalikan diri untuk
berpikir positif supaya setiap lagkah kita akan senantiasa positif.
Ø Meningkatkan hubungan yang baik dengan orang lain seperti
keluarga agar saling menyayangi dan mempercayai. Pada poin ini, sesuai dengan
teorinya abraham maslow mengenai kebutuhan manusia yang harus dipenuhi dan
salah satunya yaitu cinta dan kebutuhan sosial. Maka dari itu, manusia pasti
menginginkan adanya cinta dalam kehidupannya.
Ø Dapat memenuhi sumber makna hidup seperti bertanggung
jawab pada tugas, berbuat baik, menghayati nilai-nilai kebenaran, dan yakin
menuju perbuatan yang lebih baik.
Ø Tahapan yang paling penting yaitu ibadah. Dengan beribadah
kepada Allah swt akan mendatangkan ketenangan dalam hidup sehingga memunculkan
kebahagiaan di setiap perkara kehidupannya.
Berdasarkan penjelasan
sebelumnya, terdapat dua sudut pandang yaitu agama dan psikologi yang saling
melengkapi sehingga menjadikan pembahasan yang utuh mengenai kebahagiaan. Dengan
demikian, terdapat suatu simpulan bahwa kebahagiaan itu bukan dari orang lain
tapi mulai dari diri kita yang berusaha menghadirkannya.
(Redaksi : Irma Maesaroh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar