Halaman

Kamis, 04 Oktober 2012

Cerpen : Diskriminasi dalam Sekolah


Diskriminasi dalam Sekolah
            Wajahku ditaruh di atas meja yang kasar ini. Memikirkan masalah yang selalu membuatku geram sekali. Tidak geram kenapa? Sekolah mengadakan kelas unggulan. Aku awalnya setuju tetapi ketika tahu kelas unggulan yang diadakan dari program IPA! Apa guru-guru itu tidak tahu, jika program Bahasa selalu merasa terpinggirkan dari dulu! Kabar yang beredar juga makin memanas saat guru-guru beserta program IPS ikut menentang kelas unggulan. Menurutku bahasa, IPA, IPS dan agama juga semua susah kok! Gak ada yang gampang. Lalu, kenapa hanya jurusan IPA yang diadakan unggulan? Toh kan, semua jurusan juga unggulan! Huf, aku menghelas nafas dalam-dalam begitu geram sekali makin memikirkan hal itu.
            Hari sabtu yang seharusnya ditutup dengan hari keindahan tetapi sebaliknya. Hari yang makin makin panas… Guru-guru dari pihak IPS, bahasa bahkan agama yang sependapat menginginkan diadakan musyawarah ulang untuk program unggulan. Tetapi kesiswaan bahkan WAKAMAD menolak hal itu. Semua murid juga setiap hari membahas persoalan kelas unggulan. Tidak hanya aku yang merasa geram, teman-teman dan guru-guruku juga begitu!
            Saat malam tiba, sepi dan sunyi datang padaku. Aku tak berpikir panjang segera mengambil wudhu dan sholat tahajud. Aku berdoa begitu panjang. Kali ini soal kelas unggulan. Tak tertahankan air mata menetes memikirkan betapa malangnya pada murid yang pintar tapi tak punya modal untuk beli laptop, betapa malangnya anak yang kurang dalam pelajaran merasa tersudutkan sekali melihat anak yang pintar begitu dihargai sedangkan dia tidak dirangkul sama sekali. Sungguh, itukah sekolah yang ku impikan? Kenapa jadi begini nasib sekolahku yang ikut-ikutan dengan cara yang salah diadakan kelas unggulan! Ya allah, Ya Rabb apakah itu karena keserakahan manusia yang ingin seperti sekolah lain ada kelas dimana anak-anaknya membawa laptop masing-masing? Apakah itu Ya Allah jalan satu-satunya agak banyak anak yang berprestasi? Lalu kututup renungan di malam hari dengan doa.
            Hari senin, cuaca begitu panas seperti suasana yang sangat sangat panas. Ketika kepala sekolah dipersilahkan untuk memberi amanat, beliau memberitahu bahwa hari ini diadakan musyawarah besar yang diikuti oleh perwakilan tiap kelas tentang kelas unggulan. Semua bersorak ria, kecuali program IPA yang sepertinya merasa tersudutkan oleh program-program lain yang menentang hal itu. Selesai upacara, aku masuk ke kelas dan datanglah guru-guru bahasa. Kelas XI Bahasa 2, wali kelasku mengirim aku sebagai perwakilan. Siap tak siap aku harus mempersiapkan mentalku untuk berdebat nanti.
Pukul 10.00 wib. Semua sudah siap di ruang aula. Udara terasa panas karena hati kami begitu menggebu-gebu. Setiap anak duduk sesuai programnya, dan di depannya ada guru-guru yang siap membantu mereka. Pak Hary, Kepala Sekolah kami yang membuka rapat. Kemundian, MC membacakan aturan-aturan rapat. Kemudian, mempersilahkan setiap perwakilan program menyampaikan ketidaksetujuannya. Lagi-lagi aku dipilih menjadi juru bicara jurusan Bahasa! Padahal masih ada kelas tiga yang ikut dalam rapat itu.
“Kami dari program IPS tidak setuju sama sekali dengan kelas unggulan. Dikarenakan kelas unggulan itu hanya ada di kelas IPA. Padahal, semua jurusan juga mempunyai unggulannya masing-masing”
“Kami dari program Agama kurang setuju terhadap kelas unggulan karena program lain juga berhak mengadakan kelas unggulan”
Aku maju ke depan podium dengan perasaan gugup. Tetapi aku harus berani demi membela murid-murid yang merasa terpinggirkan! “Kami dari program Bahasa sangat tidak setuju. Adapun alasannya : Pertama, Kami merasa terpinggirkan selama ini oleh sekolah dengan selalu mengutamakan program IPA…”. Pembicaraanku berhenti saat semua orang dari jurusan IPS bertepuk tangan. MC menyuruh aku melanjutkan “Kedua, semua jurusan juga mempunyai kesulitan tersendiri sehingga juga pantas sekali mempunyai kelas unggulan. Ketiga, kasihan kepada anak yang pintar tetapi orangtua mereka kurang mampu membiayai untuk membeli fasilitas di kelas unggulan sepeti laptop. Keempat, kami menilai dan menimbang jika banyak anak yang oleh sekolah. kelima, sebenarnya psikologi yang begitu hebat terhadap anak yang masuk kelas unggulan dan semua memandang iri pada mereka yang masuk sehingga merasa beban pada anak yang masuk kelas unggulan”. Selesai mengajukan alasan, aku kembali ke tempat dudukku. Semua bertepuk tangan dan Jurusan IPS dan Agama mengucapkan “Setuju….”. dari tadi, ku lihat jurusan IPA diam seribu bahasa, tak ada reaksi apapun dari mereka. Tetapi setelah aku maju kedepan ada seorang perwakilan yang maju ke depan.
“Kami mengakui alasan yang dikemukakan dari program Bahasa bahwa banyak dampak negative. Tetapi kami sebagai jurusan IPA berhak mengadakan kelas unggulan”
Dari pihak IPS dan Bahasa sontak menyoraki perwakilan IPA itu. Kemudian, giliran Pak Hary yang kala itu menjadi hakim dalam musyawarah.
“Apakah ada yang disampaikan dari pihak yang mengadakan kelas unggulan? (terlihat WAKAMAD mengangguk) kalau begitu silahkan kepada WAKAMAD untuk menyampaikan pendapatnya terlebih dahulu.
“Memang kapan jurusan Bahasa terpinggirkan oleh sekolah?”
Ibu guru bahasa jepang dipersilahkan berbicara “ketika lomba ada, kami dar jurusan bahasalah yang seharusnya diajukan bukan dari jurusan IPA. Kami memiliki anak-anak yang pintar dalam sastra karena di jurusan bahasa ada bahasannya. Sementara IPA tidak ada sama sekali bahasan yang lebih rinci tentang kesusastraan! Apakah sekolah tidak mengakui anak-anak kami pintar? Jika begitu kami bisa memasukan anak didik kami mengikuti lomba matematika?! Seharusnya semua dilakukan secara professional dan sesuai dengan jurusan masing-masing”
“Em, saya baru menyadari ananda dari kelas Bahasa merasa terpinggirkan. Baik untuk urusan itu aka nada pelanjutan yang jelas. Bahasa akan mengirimkan lomba sesuai bidangnya dan begitu juga dengan IPA”
“Maaf pak, saya ingin berpendapat” sahut Pak Beny yang ikut dalam pihak kelas unggulan
“Silahkan…” sahut Pak Hary
“Maaf, kelas unggulan ini merupakan inisiatif dari guru-guru IPA saja. Mungkin guru-guru sekalian yang kurang kreatif tidak mengadakan seperti kami”
“Pak, saya meminta izin untuk menanggapi hal tersebut” sahut Ibu Tina dari pihak IPS
“Silahkan…” jawab Pak Hary
“Kami mengakui kurang kreatif. Tetapi anda seharusnya tidak menjelek-jelekkan jurusan lain! Saya banyak keluhan dari anak didik saya yang mengaku orangtua mereka merasa jurusan IPA yang terbaik akibat dari perkataan anda pada orangtua murid!”
“Kalau begitu mana buktinya?” lawan Pak Beny
“Ayo harap maju ke depan bagi anak-anak yang orangtuanya mendengar perkataan Pak Beny menjelek-jelekkan jurusan lain”
Suasana semakin memanas. Semua terlihat gaduh ketika Ibu Tina mengatakan hal yang mengejutkan. Murid-murid banyak sekali yang maju, tidak hanya jurusan IPS, dari jurusan Bahasa dan Agamapun ada murid yang ikut maju ke depan. Pak hary terlihat kaget.
“Sebanyak ini…?” sahut Pak Hary masih tak percaya
“Pak, orangtua saya menjadi tidak setuju saya masuk jurusan IPS. Karena kata Pak Beny juga jurusan IPA adalah jurusan terbaik dan terbagus”
“Iya pak orangtua saya berkata begitu!” sahut salah seorang murid
“Pak beny apakah anda masih tidak yakin dengan bukti ini…?!” sahut Pak Hary dengan nada yang keras. Mungkin beliau kesal pada perbuatan Pak Beny yang tidak terpuji itu.
“Saya mengaku melakukannya…” sesal Pak Beny
“Sebagai guru seharusnya anda panutan murid-murid! Sebagai guru seharusnya anda menghargai betul itu jurusan-jurusan! Jadi harap anda meminta maaf pada mereka semua!” bentak Pak Hary
“Sa….. saya meminta maaf pada semua perkataan yang membuat murid-murid merasa dirugikan. Saya bersalah dan meminta maaf. Sesungguhnya saya hanya seorang manusia yang lemah”
Semua murid yang maju ke depan bersorak merasa sudah puas dengan pengakuan Pak Beny. Tiba-tiba seseorang datang dari pintu aula. Semua orang menatap wajah sosok itu.
“Maaf pak, ada kiriman surat dari Depdiknas. Saya lupa untuk menyampaikannya pada anda. Surat ini kemarin sampainya” sahut satpam sekolah yang kemudian segera beranjak ke luar ruangan
            Pak hary membuka surat itu. Tak lama membacanya dengan suara keras.
“……Bahwa Depdiknas menyarankan untuk mempunyai kelas unggulan”
Semua terlihat memelas lemah tak berdaya. Kemudian, Pak Hary segera memberi keputusan dan dibuat surat keputusannya secara resmi esok hari.
“Saya sebagai hakim dalam musyawarah ini akan memutuskan bahwa kelas unggulan akan tetap diadakan…”
Semua terlihat gaduh, bahkan banyak helaan nafas dari kami.
“Musyawarah ini memutuskan mensahkan kelas unggulan di jurusan IPA. Akan tetapi musyawarah akan diadakan lagi enam bulan kemudian setelah melihat, menimbang fakta tentang kelas unggulan. Harap semua menyetujuinya. Besok akan dibuat surat pernyataan dan setiap guru dari pihak Bahasa, IPS dan Agama harus menandatanganinya.
Palu diketuk oleh Pak Hary. Bukan sorak bahagia yang mereka pertontonkan tapi sorak kekecewaan pada Pak Hary.
            Hari demi hari, aku mulai melupakan masalah itu. Capek dan kesal jika aku mengingatnya! Sudahlah, lagipula palu sudah diketuk tak kan bisa ditarik lagi. Pulang sekolah hujan turun begitu deras. Aku sengaja pulang sambil hujan-hujanan untuk menghilangkan setres. Bersama kedua temanku, aku menari-nari riang di atas bumi ini.
            Suasana sekolah sudah tak begitu panas. Akan tetapi masih banyak pembicaraan kecil mengenai kelas unggulan. Aku sudah lupa bahkan tidak peduli lagi. Tapi aku masih mengamati kelas unggulan. Kelihatannya mereka yang masuk kelas unggulan tambah banyak. Akan tetapi mereka menjadi diperolok-olok karena kesombongan mereka yang seolah-olah anak paling pintar di sekolah ini. Padahal nilai psycotest mereka kalah dengan Ryana yang tidak ikut dan menolak kelas unggulan!
            Pulang sekolah, aku menunggu temanku yang juga ikut-ikutan masuk kelas unggulan. Begitu lama sekali aku menunggu tetapi aku tak begitu bosan karena SMSan dengan teman yang sedang belajar! Ya itulah kelas unggulan seusngguhnya. Setahuku banyak guru yang mengeluh anak unggulan memakai laptopnya untuk Fb-an saat pelajaran berlangsung.
            Enam bulan tak begitu terasa bagiku. Tetapi bagi anak-anak yang masih menentang begitu terasa dan begitu menyedihkan. Faktanya sekarang bukan makin meningkatnya prestasi malahan murid-murid yang kurang merasa tak perduli terhadap pelajaran karena mereka beralasan sekolah tidak mengharapkan dan tidak memperdulikan mereka.
            Musyawarah digelar kembali setelah pembagian prestasi. Ternyata yang jadi juara umum bukan dari anak unggulan malah dari anak yang menentang kelas unggulan. Semua bukti sudah terkumpul, semua pendapat sudah dikemukakan. Hasilnya sama, Bahasa, IPS bahkan sekarang Agama menjadi ikut menentang kelas unggulan. Dari sekian banyak manfaat, tetapi kenyataannya siswa unggulan memakai fasilitas itu untuk hal yang tidak bermanfaat! Berulangkali, pihak IPA masih kukuh ingin tetap lanjut. Kemudian, Pak Hary menanyakan perasaan menjadi siswa yang masuk kelas unggulan.
“Saya merasa beban sekali. Setiap ditanya kelas berapa, aku jawab kelas Star yang berarti kelas unggulan. Mereka semua seakan-akan memandang iri dan memperolok-olok saya. Saya mengaku senang ada laptop, tetapi rasanya tak tertahankan jika laptop yang dilengkapi hot spot ingin membuka Fb saat belajar!” sahut temanku yang ikut dalam kelas unggulan
“Menurut saya, adanya laptop seperti pisau yang akhirnya menggoda saya juga teman-teman untuk menggunakan kepada hal-hal yang tidak bermanfaat”  sahut salah seorang murid dari kelas unggulan
“Saya sangat senang masuk kelas unggulan dan membuat motifasi setiap hari. Tetapi saya tidak senang dengan situasi sekolah yang masih memanas”
Pak hary diam sejenak. Semua sudah gaduh sekali. Kemudian, beliau mendekatkan mic ke depan mulutnya.
“Saya memutuskan…….. untuk tidak melanjutkan kelas unggulan. Dikarenakan fakta yang menunjukkan anak-anak menyalah gunakan hal itu! Saya harap semua pihak menyetujuinya”
Semua bersorak riang.
            “Hari hari kedepan, sekolah akan menjadi damai” sahutku dalam hati. Kemudian pihak sekolah mengganti kelas unggulan dengan bimbingan khusus untuk murid yang ingin sekali pandai entah itu jurusan IPA, IPS, Bahasa bahkan Agama. Tak ayal, banyak murid yang tertarik karena benar-benar dibimbing dengan baik.
            Hari senin yang begitu indah, tahun 2013 yang begitu damai. Aku merasakan banyak anak yang semangat belajar. Aku juga ikut bimbingan psycology dimana mendapat arahan dan motivasi dalam belajar… 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar