Diskriminasi
dalam Sekolah
Wajahku ditaruh di atas meja yang kasar ini. Memikirkan
masalah yang selalu membuatku geram sekali. Tidak geram kenapa? Sekolah
mengadakan kelas unggulan. Aku awalnya setuju tetapi ketika tahu kelas unggulan
yang diadakan dari program IPA! Apa guru-guru itu tidak tahu, jika program
Bahasa selalu merasa terpinggirkan dari dulu! Kabar yang beredar juga makin
memanas saat guru-guru beserta program IPS ikut menentang kelas unggulan.
Menurutku bahasa, IPA, IPS dan agama juga semua susah kok! Gak ada yang gampang.
Lalu, kenapa hanya jurusan IPA yang diadakan unggulan? Toh kan, semua jurusan
juga unggulan! Huf, aku menghelas nafas dalam-dalam begitu geram sekali makin
memikirkan hal itu.
Hari sabtu yang seharusnya ditutup dengan hari keindahan
tetapi sebaliknya. Hari yang makin makin panas… Guru-guru dari pihak IPS,
bahasa bahkan agama yang sependapat menginginkan diadakan musyawarah ulang
untuk program unggulan. Tetapi kesiswaan bahkan WAKAMAD menolak hal itu. Semua
murid juga setiap hari membahas persoalan kelas unggulan. Tidak hanya aku yang
merasa geram, teman-teman dan guru-guruku juga begitu!
Saat malam tiba, sepi dan sunyi datang padaku. Aku tak
berpikir panjang segera mengambil wudhu dan sholat tahajud. Aku berdoa begitu
panjang. Kali ini soal kelas unggulan. Tak tertahankan air mata menetes
memikirkan betapa malangnya pada murid yang pintar tapi tak punya modal untuk
beli laptop, betapa malangnya anak yang kurang dalam pelajaran merasa
tersudutkan sekali melihat anak yang pintar begitu dihargai sedangkan dia tidak
dirangkul sama sekali. Sungguh, itukah sekolah yang ku impikan? Kenapa jadi
begini nasib sekolahku yang ikut-ikutan dengan cara yang salah diadakan kelas
unggulan! Ya allah, Ya Rabb apakah itu karena keserakahan manusia yang ingin
seperti sekolah lain ada kelas dimana anak-anaknya membawa laptop
masing-masing? Apakah itu Ya Allah jalan satu-satunya agak banyak anak yang
berprestasi? Lalu kututup renungan di malam hari dengan doa.
Hari senin, cuaca begitu panas seperti suasana yang
sangat sangat panas. Ketika kepala sekolah dipersilahkan untuk memberi amanat,
beliau memberitahu bahwa hari ini diadakan musyawarah besar yang diikuti oleh
perwakilan tiap kelas tentang kelas unggulan. Semua bersorak ria, kecuali
program IPA yang sepertinya merasa tersudutkan oleh program-program lain yang
menentang hal itu. Selesai upacara, aku masuk ke kelas dan datanglah guru-guru
bahasa. Kelas XI Bahasa 2, wali kelasku mengirim aku sebagai perwakilan. Siap
tak siap aku harus mempersiapkan mentalku untuk berdebat nanti.
Pukul 10.00 wib. Semua
sudah siap di ruang aula. Udara terasa panas karena hati kami begitu
menggebu-gebu. Setiap anak duduk sesuai programnya, dan di depannya ada
guru-guru yang siap membantu mereka. Pak Hary, Kepala Sekolah kami yang membuka
rapat. Kemundian, MC membacakan aturan-aturan rapat. Kemudian, mempersilahkan
setiap perwakilan program menyampaikan ketidaksetujuannya. Lagi-lagi aku
dipilih menjadi juru bicara jurusan Bahasa! Padahal masih ada kelas tiga yang
ikut dalam rapat itu.
“Kami dari program IPS
tidak setuju sama sekali dengan kelas unggulan. Dikarenakan kelas unggulan itu
hanya ada di kelas IPA. Padahal, semua jurusan juga mempunyai unggulannya
masing-masing”
“Kami dari program Agama
kurang setuju terhadap kelas unggulan karena program lain juga berhak
mengadakan kelas unggulan”
Aku maju ke depan podium
dengan perasaan gugup. Tetapi aku harus berani demi membela murid-murid yang
merasa terpinggirkan! “Kami dari program Bahasa sangat tidak setuju. Adapun
alasannya : Pertama, Kami merasa terpinggirkan selama ini oleh sekolah dengan
selalu mengutamakan program IPA…”. Pembicaraanku berhenti saat semua orang dari
jurusan IPS bertepuk tangan. MC menyuruh aku melanjutkan “Kedua, semua jurusan
juga mempunyai kesulitan tersendiri sehingga juga pantas sekali mempunyai kelas
unggulan. Ketiga, kasihan kepada anak yang pintar tetapi orangtua mereka kurang
mampu membiayai untuk membeli fasilitas di kelas unggulan sepeti laptop.
Keempat, kami menilai dan menimbang jika banyak anak yang oleh sekolah. kelima,
sebenarnya psikologi yang begitu hebat terhadap anak yang masuk kelas unggulan
dan semua memandang iri pada mereka yang masuk sehingga merasa beban pada anak
yang masuk kelas unggulan”. Selesai mengajukan alasan, aku kembali ke tempat
dudukku. Semua bertepuk tangan dan Jurusan IPS dan Agama mengucapkan
“Setuju….”. dari tadi, ku lihat jurusan IPA diam seribu bahasa, tak ada reaksi
apapun dari mereka. Tetapi setelah aku maju kedepan ada seorang perwakilan yang
maju ke depan.
“Kami mengakui alasan
yang dikemukakan dari program Bahasa bahwa banyak dampak negative. Tetapi kami
sebagai jurusan IPA berhak mengadakan kelas unggulan”
Dari pihak IPS dan Bahasa
sontak menyoraki perwakilan IPA itu. Kemudian, giliran Pak Hary yang kala itu
menjadi hakim dalam musyawarah.
“Apakah ada yang
disampaikan dari pihak yang mengadakan kelas unggulan? (terlihat WAKAMAD
mengangguk) kalau begitu silahkan kepada WAKAMAD untuk menyampaikan pendapatnya
terlebih dahulu.
“Memang kapan jurusan
Bahasa terpinggirkan oleh sekolah?”
Ibu guru bahasa jepang
dipersilahkan berbicara “ketika lomba ada, kami dar jurusan bahasalah yang
seharusnya diajukan bukan dari jurusan IPA. Kami memiliki anak-anak yang pintar
dalam sastra karena di jurusan bahasa ada bahasannya. Sementara IPA tidak ada sama
sekali bahasan yang lebih rinci tentang kesusastraan! Apakah sekolah tidak
mengakui anak-anak kami pintar? Jika begitu kami bisa memasukan anak didik kami
mengikuti lomba matematika?! Seharusnya semua dilakukan secara professional dan
sesuai dengan jurusan masing-masing”
“Em, saya baru menyadari
ananda dari kelas Bahasa merasa terpinggirkan. Baik untuk urusan itu aka nada
pelanjutan yang jelas. Bahasa akan mengirimkan lomba sesuai bidangnya dan begitu
juga dengan IPA”
“Maaf pak, saya ingin
berpendapat” sahut Pak Beny yang ikut dalam pihak kelas unggulan
“Silahkan…” sahut Pak
Hary
“Maaf, kelas unggulan ini
merupakan inisiatif dari guru-guru IPA saja. Mungkin guru-guru sekalian yang
kurang kreatif tidak mengadakan seperti kami”
“Pak, saya meminta izin
untuk menanggapi hal tersebut” sahut Ibu Tina dari pihak IPS
“Silahkan…” jawab Pak
Hary
“Kami mengakui kurang
kreatif. Tetapi anda seharusnya tidak menjelek-jelekkan jurusan lain! Saya
banyak keluhan dari anak didik saya yang mengaku orangtua mereka merasa jurusan
IPA yang terbaik akibat dari perkataan anda pada orangtua murid!”
“Kalau begitu mana
buktinya?” lawan Pak Beny
“Ayo harap maju ke depan
bagi anak-anak yang orangtuanya mendengar perkataan Pak Beny menjelek-jelekkan
jurusan lain”
Suasana semakin memanas.
Semua terlihat gaduh ketika Ibu Tina mengatakan hal yang mengejutkan.
Murid-murid banyak sekali yang maju, tidak hanya jurusan IPS, dari jurusan
Bahasa dan Agamapun ada murid yang ikut maju ke depan. Pak hary terlihat kaget.
“Sebanyak ini…?” sahut
Pak Hary masih tak percaya
“Pak, orangtua saya
menjadi tidak setuju saya masuk jurusan IPS. Karena kata Pak Beny juga jurusan
IPA adalah jurusan terbaik dan terbagus”
“Iya pak orangtua saya
berkata begitu!” sahut salah seorang murid
“Pak beny apakah anda
masih tidak yakin dengan bukti ini…?!” sahut Pak Hary dengan nada yang keras.
Mungkin beliau kesal pada perbuatan Pak Beny yang tidak terpuji itu.
“Saya mengaku
melakukannya…” sesal Pak Beny
“Sebagai guru seharusnya
anda panutan murid-murid! Sebagai guru seharusnya anda menghargai betul itu
jurusan-jurusan! Jadi harap anda meminta maaf pada mereka semua!” bentak Pak
Hary
“Sa….. saya meminta maaf
pada semua perkataan yang membuat murid-murid merasa dirugikan. Saya bersalah
dan meminta maaf. Sesungguhnya saya hanya seorang manusia yang lemah”
Semua murid yang maju ke
depan bersorak merasa sudah puas dengan pengakuan Pak Beny. Tiba-tiba seseorang
datang dari pintu aula. Semua orang menatap wajah sosok itu.
“Maaf pak, ada kiriman
surat dari Depdiknas. Saya lupa untuk menyampaikannya pada anda. Surat ini
kemarin sampainya” sahut satpam sekolah yang kemudian segera beranjak ke luar
ruangan
Pak hary membuka surat itu. Tak lama membacanya dengan
suara keras.
“……Bahwa Depdiknas
menyarankan untuk mempunyai kelas unggulan”
Semua terlihat memelas
lemah tak berdaya. Kemudian, Pak Hary segera memberi keputusan dan dibuat surat
keputusannya secara resmi esok hari.
“Saya sebagai hakim dalam
musyawarah ini akan memutuskan bahwa kelas unggulan akan tetap diadakan…”
Semua terlihat gaduh,
bahkan banyak helaan nafas dari kami.
“Musyawarah ini
memutuskan mensahkan kelas unggulan di jurusan IPA. Akan tetapi musyawarah akan
diadakan lagi enam bulan kemudian setelah melihat, menimbang fakta tentang
kelas unggulan. Harap semua menyetujuinya. Besok akan dibuat surat pernyataan
dan setiap guru dari pihak Bahasa, IPS dan Agama harus menandatanganinya.
Palu diketuk oleh Pak
Hary. Bukan sorak bahagia yang mereka pertontonkan tapi sorak kekecewaan pada
Pak Hary.
Hari demi hari, aku mulai melupakan masalah itu. Capek
dan kesal jika aku mengingatnya! Sudahlah, lagipula palu sudah diketuk tak kan
bisa ditarik lagi. Pulang sekolah hujan turun begitu deras. Aku sengaja pulang
sambil hujan-hujanan untuk menghilangkan setres. Bersama kedua temanku, aku
menari-nari riang di atas bumi ini.
Suasana sekolah sudah tak begitu panas. Akan tetapi masih
banyak pembicaraan kecil mengenai kelas unggulan. Aku sudah lupa bahkan tidak
peduli lagi. Tapi aku masih mengamati kelas unggulan. Kelihatannya mereka yang
masuk kelas unggulan tambah banyak. Akan tetapi mereka menjadi diperolok-olok
karena kesombongan mereka yang seolah-olah anak paling pintar di sekolah ini.
Padahal nilai psycotest mereka kalah dengan Ryana yang tidak ikut dan menolak
kelas unggulan!
Pulang sekolah, aku menunggu temanku yang juga
ikut-ikutan masuk kelas unggulan. Begitu lama sekali aku menunggu tetapi aku
tak begitu bosan karena SMSan dengan teman yang sedang belajar! Ya itulah kelas
unggulan seusngguhnya. Setahuku banyak guru yang mengeluh anak unggulan memakai
laptopnya untuk Fb-an saat pelajaran berlangsung.
Enam bulan tak begitu terasa bagiku. Tetapi bagi
anak-anak yang masih menentang begitu terasa dan begitu menyedihkan. Faktanya
sekarang bukan makin meningkatnya prestasi malahan murid-murid yang kurang
merasa tak perduli terhadap pelajaran karena mereka beralasan sekolah tidak
mengharapkan dan tidak memperdulikan mereka.
Musyawarah digelar kembali setelah pembagian prestasi.
Ternyata yang jadi juara umum bukan dari anak unggulan malah dari anak yang
menentang kelas unggulan. Semua bukti sudah terkumpul, semua pendapat sudah
dikemukakan. Hasilnya sama, Bahasa, IPS bahkan sekarang Agama menjadi ikut
menentang kelas unggulan. Dari sekian banyak manfaat, tetapi kenyataannya siswa
unggulan memakai fasilitas itu untuk hal yang tidak bermanfaat! Berulangkali,
pihak IPA masih kukuh ingin tetap lanjut. Kemudian, Pak Hary menanyakan
perasaan menjadi siswa yang masuk kelas unggulan.
“Saya merasa beban
sekali. Setiap ditanya kelas berapa, aku jawab kelas Star yang berarti kelas
unggulan. Mereka semua seakan-akan memandang iri dan memperolok-olok saya. Saya
mengaku senang ada laptop, tetapi rasanya tak tertahankan jika laptop yang dilengkapi
hot spot ingin membuka Fb saat belajar!” sahut temanku yang ikut dalam kelas
unggulan
“Menurut saya, adanya
laptop seperti pisau yang akhirnya menggoda saya juga teman-teman untuk
menggunakan kepada hal-hal yang tidak bermanfaat” sahut salah seorang murid dari kelas unggulan
“Saya sangat senang masuk
kelas unggulan dan membuat motifasi setiap hari. Tetapi saya tidak senang
dengan situasi sekolah yang masih memanas”
Pak hary diam sejenak.
Semua sudah gaduh sekali. Kemudian, beliau mendekatkan mic ke depan mulutnya.
“Saya memutuskan……..
untuk tidak melanjutkan kelas unggulan. Dikarenakan fakta yang menunjukkan
anak-anak menyalah gunakan hal itu! Saya harap semua pihak menyetujuinya”
Semua bersorak riang.
“Hari hari kedepan, sekolah akan menjadi damai” sahutku
dalam hati. Kemudian pihak sekolah mengganti kelas unggulan dengan bimbingan
khusus untuk murid yang ingin sekali pandai entah itu jurusan IPA, IPS, Bahasa
bahkan Agama. Tak ayal, banyak murid yang tertarik karena benar-benar dibimbing
dengan baik.
Hari senin yang begitu indah, tahun 2013 yang begitu
damai. Aku merasakan banyak anak yang semangat belajar. Aku juga ikut bimbingan
psycology dimana mendapat arahan dan motivasi dalam belajar…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar