KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)
Fiksi
Aku
adalah seseorang yang diberi musibah. Tidak musibah bagaimana, aku terpilih
menjadi ketua KPK. Ketua lembaga yang sangat dibenci para pejabat. Tetapi
tekadku untuk memperbaiki Negara tercintaku, Indonesia untuk menjadi Negara
terbersih semakin kuat. Yah setidaknya ada 40% kebersihan dalam lembaga-lembaga
tertinggi itu!
Hari demi hari begitu sulit ku
jalankan, semua tugas menumpuk. Waktu dengan keluarga sangat minim. Dari sekian
kasus, aku terlebih dahulu memilih hal yang sangat rendah tingkat kemudahan
memecahkan masalah yaitu kasus korupsi yang dilakukan di desa. Alhamdulillah,
aku berhasil menguak kasus itu sampai ke meja hijau. Kemudian, aku memilih
kasus yang sangat…sangat sulit bahkan mungkin senior-seniorku terjebak sendiri
dalam permainan kasus ini! Padahal mereka tak salah, mereka hanya ingin
mengungkapkan kebenaran.
Pagi-pagi aku pergi ke kantor,
istriku dengan penuh rasa cinta memakaikanku dasi. Aku tersenyum bahagia dan
siap menanggung resiko di depan mata! Sesampainya di kantor, aku melihat
sejumlah data yang tertumpuk.
“Ini
data tentang kasus korupsi Gayus. Dalam data ini, ada cek rekening yang
disinyalir hasil uang suapan”
Aku
duduk dengan perasaan tenang dan langsung membuka data-data itu. Aku melihat
banyak sekali uang yang disimpan dalam jumlah banyak. Padahal, jika memang
gajinya tidak mungkin mendapat uang segini besarnya! Aku teliti dan lihat
baik-baik kartu rekeningnya dan mulai teringat kejadian kemarin..
Kami sekeluarga duduk riang
menunggu makanan kesukaan kami, sushi. Tetapi aku lihat Gayus yang duduk
diseberang sana. Tak lama, datang beberapa orang yang memakai jas rapi.
Sepertinya ku kenal semua wajah itu, tetapi aku lupa siapa nama mereka. Dengan
cekatan aku foto diam-diam. Pelayan restaurant datang dan aku segera kembali pada
keluargaku.
(Flashback
end)
“Tapi
bisa saja dia menolak uang ini dan mengaku dari saudaranya! Em, bagaimana lagi
aku harus dapat bukti yang kuat?”
“Dengan
foto…?” sahut asistenku yang ikut duduk di kantor
Aku
diam sejenak dan mulai memutuskan untuk mengintai gerak-geriknya demi
mendapatkan bukti lebih lanjut. Ku tatap semua anak buahku dan ku pillih Anton
untuk menjadi mata-mata. Aku sangat percaya pada dia, karena aku tahu dia
benar-benar ingin dunia ini damai tanpa ada keserakahan.
#Anton#
Aku semangat ketika diberi tugas
untuk mengintai pejabat itu, meski resiko sudah berada di depan mata.
Pag-pagi, aku mulai
mempersiapkan segalanya dari mulai pulpen kamera, kamera kecil, handycame
sampai ke mobil sudah ku persiapkan. Saatnya menjadi spy sahutku dalam hati.
Kaki dengan sigap menancapkan gas dan diawali dengan rumah pak gayus. Tak jauh
dari rumahnya, kulihat sebuah mobil keluar. Aku langsung mengikuti mobil itu.
Dengan kehati-hatian aku menjaga jarak dari mobilnya. Mobil itu membawaku ke sebuah
gedung besar, DPR. Aku senang sekali karena yang turun dari mobil itu adalah
gayus yah, siapa tahu aku salah mengintai. Sudah beberapa jam belum juga ada
gerak-gerik yang mencurigakan. Jam 15.00 mobil bagus itu keluar, aku siap
mengincarnya tetapi mobil itu kembali ke rumahnya. Hari pertama incaran lolos.
Sudah seminggu aku mengintai
tetapi belum juga ada yang mencurigakan semua kegiatan terlihat sama seperti
pejabat lain. Kemudian, aku pergi ke kantor dan melaporkan hasil kerjaku. Di
dalam ruangan seorang bapak-bapak terlihat menanti kabar yang membuatnya
senang.
“Hasilnya
nihil pak…” sahutku sambil menundukkan kepala
Dia
menarik nafas dalam-dalam, lalu menjawabnya “Sudahkah kita menyerah. Aku akan
meminta untuk disidangkan. Setidaknya kita punya satu bukti yaitu cek rekening”
“Tapi
pak kita akan kalah jika hanya memiliki satu bukti?”
“Aku
tahu, tpai ini jalannya agar kasus cepat dituntaskan”
#Busyro#
Aku
pergi ke pengadilan untuk mengajukan sidang atas korupsi. Tetapi, seorang jaksa
menertawakanku karena memiliki seidikit bukti sudah berani mengajukan kasus.
Aku merasa geram sekali pada jaksa itu!
Hari demi hari aku merasa capek
sekali. Aku masih belum mendapatkan bukti yang banyak, tetapi aku yakin Gayus
melakukan korupsi! Karena setahuku orang tak mungkin mendapatkan uang banyak
secepat kilat itu. Pengadilan belum juga memutuskan apakah akan mengambil kasus
ini ke siding atau tidak. Suatu hari, aku mendapat sebuah surat yang berisi
kasus akan diakat ke siding. Aku begitu gembira dan siap mengambil resiko
apapun!
Hari
persidangan tiba..
Rekan-rekanku
ikut ke persidangan. Aku melangkahkan kaki ke depan ruang sidang. Bak seorang
artis yang begitu terkenal, aku diminta beberapa media untuk memberikan
penjelasan tapi aku diam seribu bahasa dan hanya tersenyum. Kemudian, disusul
oleh gayus yang datang dalam persidangan. Dia terlihat santai dan angkuh. Aku
sebal melihat pejabat belaga itu!
Tak
lama persidangan di mulai. Beberapa bukti mulai diajukan, dan sanggahan dari
Gayus.
“Em,
urusan apa KPK mengecek hartaku? Ini uangku, mana boleh kalian
mempertanyakannya!”
“Anda
adalah pejabat. Apakah anda lupa? Seorang pejabat yang gaji rendah kenapa bisa
mendapatkan uang segitu besarnya yah?” sahutku dengan gaya santai
“Apa?
Ini dari hasil usahaku dari beberapa asset”
“Benarkah?
Asset yang mana? Setahuku pendapatan dari asset anda tidak akan sampai segitu“
“Itu
dari perusahaan Mery Mery. Semua pasti tahu Mery Mery telah meluncurkan produk
yang sekarang menjadi sangat popular!”
“Baik
ada sanggahan lain?” sahut jaksa
“Saya
tidak setuju jika disebut korupsi! Saya bukanlah pejabat korup!”
Suasana
begitu ricuh dan tegang. Tetapi jaksa memutuskan untuk menunda sidang.
Sampai
sidang ditunda, aku menugaskan Anton untuk mengambil diam-diam file keuangan
pabrik Mery Mery sementara aku akan mengintai pak gayus diam-diam.
#Anton#
Aku
menghubungi rekan-rekanku yang jago berkelahi. Malam hari, semua sudah siap.
Pabrik mulai terlihat sepi dan gelap. Aku kira semua sudah pulang. Aku begitu
tegang, rasanya aku tak sanggup melakukannya. Tapi Pak Busyro menyuruhku, kata
beliau polisi yang sudah diminta untuk melakukan penyelidikan tetapi menolak
mentah-mentah. Mungkin Gayus udah menyuap ketua polisi bahkan jaksa! Karena ku
lihat sidang lebih berat ke gayus.
Suasana makin sepi, aku beserta
teman-teman naik pagar. Semakin mendekat ada seorang penjaga, aku siap dengan
seribu jurus. Penjaga itu tak sadarkan diri. Aku berjalan dengan cepat mengejar
waktu. Teman-teman berpencar dan mencari ruang administrasi. Sudah beberapa
penjaga yang ku lumpuhkan, tapi belum juga melihat pintu yang bertuliskan
administrasi. Tiba-tiba ada suara langkah, aku sudah di ujung ruang dan tak
bisa kemana-mana. Aku siap dengan kuda-kuda, dan yang keluar adalah tiga orang
yang bertubuh atletis. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Aku siap memukul
mereka dengan tanganku tapi malah aku yang tergampar. Handphoneku juga ikut
terlempar jauh. Aku kembali berdiri dan memukul mereka seperti ala chris jhon.
Ketiga preman itu melempar tubuhku lagi. Aku kesakitan dan tidak ada daya,
badan mereka begitu besar. Aku mencari Handphone dan ku lihat ada di belakang
mereka. “Ampun ya Allah, ini saat terahirku hidup!”. Aku berdiri dan memukul
mereka tapi mereka menghindar dan memberiku sengatan seperti sengatan listrik.
Semua terlihat hitam dan tubuhku terlempar ke atas lantai lagi…
“Sadarlah….”
Sahut seorang lelaki tua
Mataku
membuka perlahan-lahan dan melihat pak Busyro
“Pak,
dimana aku?”
“Kamu
sedang ada di Rumah sakit”
“Tapi
aku harus kembali dan mendapatkan bukti itu!!”
“Sudah
ada ditanganku buktinya. Teman-temanmu yang menemukan buktinya”
“Maaf
pak, aku malah menyusahkanmu!”
“Tidak
nak, kau telah berusaha keras. Aku salut padamu!”
Aku
tersenyum melihat lelaki itu. Aku sangat senang bisa bekerja dengan Pak Busyro
yang sering memanggilku “nak”. Dia seperti ayahku yang sudah lama meninggal.
#Busyro#
Aku
mulai mengintai Pak Gayus, tetapi ada satu yang ganjal kenapa dia mampir ke
rumah Jaka? Dia akan berkerjasama dengan orang yang selevel atau bahkan lebih
tinggi level darinya. Jaka adalah seorang pejabat yang levelnya sangat rendah
darinya. Aku pikir ini ada sesuatu yang aneh. Setelah beberapa jam, Gayus
keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Aku menghampiri rumah Jaka. Seorang
pembantu mempersilahkannya masuk. Terlihat Jaka sedang membaca Koran.
“Hai
jak….” Sahutku santai lalu duduk
“Hai,
ngapain kamu kesini?”
“Ada
tamu yah?”
“Tidak,
aku sedang di sini karena ada Koran-koran yang belum ku baca”
“Em..
rajin amat! Tapi meja ini basah kayaknya ada minuman lain yang tumpah”
“Itu
karena aku tadi minum dan tumpah! Bi, cepat bersihkan meja di sini! Bawakan
minum untuk tamu”
“Bibir
kamu kering seperti tidak minum sama sekali”
“Mungkin
cepat kering kali” Jaka terlihat gugup
“Makasih
bi” sahutku pada pembantu yang memberiku segelas teh hangat
“Kau
ini tidak sopan sekali! Aku lebih tinggi jabatannnya daripada kamu!”
“Aku
tahu itu” sambil meminum teh
“Kamu
ngapain ke sini?”
“Apa
tidak boleh yah seseorang menemui sahabatnya. Aku kesini bukan sebagai ketua
KPK tapi sebagai sahabatmu!”
“Tentu
saja boleh! Aku kira kau ke sini untuk mengintrogasiku” senyumnya mulai
terlihat dan wajahnya mulai terlihat saat Koran di simpan di atas meja
“Jaka,
aku ke sini sebagai sahabatmu. Masih ingatkah kau saat masa-masa kita dulu?”
“Tentu
aku ingat, kau selalu juara debat dan juga kau terkenal hebat!”
“Bukan
itu, tapi ingatkah janji kita?”
“Untuk
tidak mengundang saat menikah?”
“Bukan!!!!!”
“Oh,
untuk membela kejujujuran”
“Iya
itu. Aku harap kau masih menepati janji”
“Em, em
tentu saja aku masih”
“Benarkah?”
sentakku
“I…iya”
“Tapi
kau gugup! Ayolah, aku tahu betul kamu! Jujur, coba jujur bukan demi aku tapi
demi dirimu sendiri!”
“Baiklah,
aku sudah melanggar janjiku. Aku menerima uang suap dari Pak Gayus”
“Kenapa
kamu menerimanya?”
“Karena
aku tak sengaja melihat seorang tewas. Lalu, aku juga melihat seseorang yang
sepertinya ku kenal. Tiba-tiba Gayus datang dan memberiku cek rekening bank”
“Lalu?”
“Lalu
aku menerimanya dan pergi begitu saja”
“Aku
tahu tadi kamu menemui Pak Gayus. Ada apa dia datang padamu”
“Dia
menyuruhku untuk tutup mulut pada orang yang bertanya padaku tentangnya. Aku
menerima uang lagi darinya”
“Mana
uangnya?”
“Ini”
Jaka mengeluarkan sebuah amplop yang tebal dari jasnya
“WAw…….
Rp. 5000.000? jaka, maukah kau jadi saksi di sidang berikutnya?”
“Kau
gila?! Aku tidak mau jika keluargaku akan di ancam oleh Gayus belum lagi aku
akan mati jika menjadi saksi!”
Aku
terdiam sejenak. Aku ingat jika Gayus adalah pejabat yan terkenal dengan
memiliki bodyguard yang banyak. Maklum, dia dulunya adalah seorang preman
handal.
“Aha….
Bagaimana kalau aku berpura-pura memasang radio tape di rumahmu untuk menyadap
suaramu?”
“Iya!
Pintar sekali kau!! Ayo, aku siap” sambil merapihkan jasnya
Aku
menyimpan radio tape dan Jaka mulai bersuara
“Haha….
Aku dapet uang lagi. Bi, kamu kesini…”
“Iya
pak. Ada apa?”
“Kamu
gajinya akan ditambah! Haha… kamu senang?”
“Iya
atuh abi mah seneng pisan! Tapi pak uangnya darimana?”
“Dari
temen bapak Pak Gayus yang tadi kesini. Dia ngasih aku uang yang banyak!”
“Asyik…pak
haturnuhunnya”
Aku
memencet stop dan berkata “Selesai, makasih Jaka”
“Ro,
aku pikir untuk mengambalikan uang ini. Ambil uangnya dan jadikan bukti!”
“Tuan
bukannya uang itu untuk tambahan gajiku”
“Bukan,
tadi hanya pura-pura!”
“Akh,
kirain bener! Aku sampe seneng!!”
“Kamu
mau uang gak halal?”
“Gak
mau tuan…”
“Ya
udah..” Jaka tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang ada sejumlah uang
_Bersambung_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar