Halaman

Kamis, 04 Oktober 2012

Cerpen : KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)


KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)
                                                Fiksi
            Aku adalah seseorang yang diberi musibah. Tidak musibah bagaimana, aku terpilih menjadi ketua KPK. Ketua lembaga yang sangat dibenci para pejabat. Tetapi tekadku untuk memperbaiki Negara tercintaku, Indonesia untuk menjadi Negara terbersih semakin kuat. Yah setidaknya ada 40% kebersihan dalam lembaga-lembaga tertinggi itu!
                Hari demi hari begitu sulit ku jalankan, semua tugas menumpuk. Waktu dengan keluarga sangat minim. Dari sekian kasus, aku terlebih dahulu memilih hal yang sangat rendah tingkat kemudahan memecahkan masalah yaitu kasus korupsi yang dilakukan di desa. Alhamdulillah, aku berhasil menguak kasus itu sampai ke meja hijau. Kemudian, aku memilih kasus yang sangat…sangat sulit bahkan mungkin senior-seniorku terjebak sendiri dalam permainan kasus ini! Padahal mereka tak salah, mereka hanya ingin mengungkapkan kebenaran.
                Pagi-pagi aku pergi ke kantor, istriku dengan penuh rasa cinta memakaikanku dasi. Aku tersenyum bahagia dan siap menanggung resiko di depan mata! Sesampainya di kantor, aku melihat sejumlah data yang tertumpuk.
“Ini data tentang kasus korupsi Gayus. Dalam data ini, ada cek rekening yang disinyalir hasil uang suapan”
Aku duduk dengan perasaan tenang dan langsung membuka data-data itu. Aku melihat banyak sekali uang yang disimpan dalam jumlah banyak. Padahal, jika memang gajinya tidak mungkin mendapat uang segini besarnya! Aku teliti dan lihat baik-baik kartu rekeningnya dan mulai teringat kejadian kemarin..
                Kami sekeluarga duduk riang menunggu makanan kesukaan kami, sushi. Tetapi aku lihat Gayus yang duduk diseberang sana. Tak lama, datang beberapa orang yang memakai jas rapi. Sepertinya ku kenal semua wajah itu, tetapi aku lupa siapa nama mereka. Dengan cekatan aku foto diam-diam. Pelayan restaurant datang dan aku segera kembali pada keluargaku.
(Flashback end)
“Tapi bisa saja dia menolak uang ini dan mengaku dari saudaranya! Em, bagaimana lagi aku harus dapat bukti yang kuat?”
“Dengan foto…?” sahut asistenku yang ikut duduk di kantor
Aku diam sejenak dan mulai memutuskan untuk mengintai gerak-geriknya demi mendapatkan bukti lebih lanjut. Ku tatap semua anak buahku dan ku pillih Anton untuk menjadi mata-mata. Aku sangat percaya pada dia, karena aku tahu dia benar-benar ingin dunia ini damai tanpa ada keserakahan.
               
#Anton#
                Aku semangat ketika diberi tugas untuk mengintai pejabat itu, meski resiko sudah berada di depan mata.
                Pag-pagi, aku mulai mempersiapkan segalanya dari mulai pulpen kamera, kamera kecil, handycame sampai ke mobil sudah ku persiapkan. Saatnya menjadi spy sahutku dalam hati. Kaki dengan sigap menancapkan gas dan diawali dengan rumah pak gayus. Tak jauh dari rumahnya, kulihat sebuah mobil keluar. Aku langsung mengikuti mobil itu. Dengan kehati-hatian aku menjaga jarak dari mobilnya. Mobil itu membawaku ke sebuah gedung besar, DPR. Aku senang sekali karena yang turun dari mobil itu adalah gayus yah, siapa tahu aku salah mengintai. Sudah beberapa jam belum juga ada gerak-gerik yang mencurigakan. Jam 15.00 mobil bagus itu keluar, aku siap mengincarnya tetapi mobil itu kembali ke rumahnya. Hari pertama incaran lolos.
                Sudah seminggu aku mengintai tetapi belum juga ada yang mencurigakan semua kegiatan terlihat sama seperti pejabat lain. Kemudian, aku pergi ke kantor dan melaporkan hasil kerjaku. Di dalam ruangan seorang bapak-bapak terlihat menanti kabar yang membuatnya senang.
“Hasilnya nihil pak…” sahutku sambil menundukkan kepala
Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menjawabnya “Sudahkah kita menyerah. Aku akan meminta untuk disidangkan. Setidaknya kita punya satu bukti yaitu cek rekening”
“Tapi pak kita akan kalah jika hanya memiliki satu bukti?”
“Aku tahu, tpai ini jalannya agar kasus cepat dituntaskan”
#Busyro#
Aku pergi ke pengadilan untuk mengajukan sidang atas korupsi. Tetapi, seorang jaksa menertawakanku karena memiliki seidikit bukti sudah berani mengajukan kasus. Aku merasa geram sekali pada jaksa itu!
                Hari demi hari aku merasa capek sekali. Aku masih belum mendapatkan bukti yang banyak, tetapi aku yakin Gayus melakukan korupsi! Karena setahuku orang tak mungkin mendapatkan uang banyak secepat kilat itu. Pengadilan belum juga memutuskan apakah akan mengambil kasus ini ke siding atau tidak. Suatu hari, aku mendapat sebuah surat yang berisi kasus akan diakat ke siding. Aku begitu gembira dan siap mengambil resiko apapun!
Hari persidangan tiba..
Rekan-rekanku ikut ke persidangan. Aku melangkahkan kaki ke depan ruang sidang. Bak seorang artis yang begitu terkenal, aku diminta beberapa media untuk memberikan penjelasan tapi aku diam seribu bahasa dan hanya tersenyum. Kemudian, disusul oleh gayus yang datang dalam persidangan. Dia terlihat santai dan angkuh. Aku sebal melihat pejabat belaga itu!
Tak lama persidangan di mulai. Beberapa bukti mulai diajukan, dan sanggahan dari Gayus.
“Em, urusan apa KPK mengecek hartaku? Ini uangku, mana boleh kalian mempertanyakannya!”
“Anda adalah pejabat. Apakah anda lupa? Seorang pejabat yang gaji rendah kenapa bisa mendapatkan uang segitu besarnya yah?” sahutku dengan gaya santai
“Apa? Ini dari hasil usahaku dari beberapa asset”
“Benarkah? Asset yang mana? Setahuku pendapatan dari asset anda tidak akan sampai segitu“
“Itu dari perusahaan Mery Mery. Semua pasti tahu Mery Mery telah meluncurkan produk yang sekarang menjadi sangat popular!”
“Baik ada sanggahan lain?” sahut jaksa
“Saya tidak setuju jika disebut korupsi! Saya bukanlah pejabat korup!”
Suasana begitu ricuh dan tegang. Tetapi jaksa memutuskan untuk menunda sidang.
Sampai sidang ditunda, aku menugaskan Anton untuk mengambil diam-diam file keuangan pabrik Mery Mery sementara aku akan mengintai pak gayus diam-diam.
#Anton#
Aku menghubungi rekan-rekanku yang jago berkelahi. Malam hari, semua sudah siap. Pabrik mulai terlihat sepi dan gelap. Aku kira semua sudah pulang. Aku begitu tegang, rasanya aku tak sanggup melakukannya. Tapi Pak Busyro menyuruhku, kata beliau polisi yang sudah diminta untuk melakukan penyelidikan tetapi menolak mentah-mentah. Mungkin Gayus udah menyuap ketua polisi bahkan jaksa! Karena ku lihat sidang lebih berat ke gayus.
                Suasana makin sepi, aku beserta teman-teman naik pagar. Semakin mendekat ada seorang penjaga, aku siap dengan seribu jurus. Penjaga itu tak sadarkan diri. Aku berjalan dengan cepat mengejar waktu. Teman-teman berpencar dan mencari ruang administrasi. Sudah beberapa penjaga yang ku lumpuhkan, tapi belum juga melihat pintu yang bertuliskan administrasi. Tiba-tiba ada suara langkah, aku sudah di ujung ruang dan tak bisa kemana-mana. Aku siap dengan kuda-kuda, dan yang keluar adalah tiga orang yang bertubuh atletis. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Aku siap memukul mereka dengan tanganku tapi malah aku yang tergampar. Handphoneku juga ikut terlempar jauh. Aku kembali berdiri dan memukul mereka seperti ala chris jhon. Ketiga preman itu melempar tubuhku lagi. Aku kesakitan dan tidak ada daya, badan mereka begitu besar. Aku mencari Handphone dan ku lihat ada di belakang mereka. “Ampun ya Allah, ini saat terahirku hidup!”. Aku berdiri dan memukul mereka tapi mereka menghindar dan memberiku sengatan seperti sengatan listrik. Semua terlihat hitam dan tubuhku terlempar ke atas lantai lagi…
“Sadarlah….” Sahut seorang lelaki tua
Mataku membuka perlahan-lahan dan melihat pak Busyro
“Pak, dimana aku?”
“Kamu sedang ada di Rumah sakit”
“Tapi aku harus kembali dan mendapatkan bukti itu!!”
“Sudah ada ditanganku buktinya. Teman-temanmu yang menemukan buktinya”
“Maaf pak, aku malah menyusahkanmu!”
“Tidak nak, kau telah berusaha keras. Aku salut padamu!”
Aku tersenyum melihat lelaki itu. Aku sangat senang bisa bekerja dengan Pak Busyro yang sering memanggilku “nak”. Dia seperti ayahku yang sudah lama meninggal.
#Busyro#
Aku mulai mengintai Pak Gayus, tetapi ada satu yang ganjal kenapa dia mampir ke rumah Jaka? Dia akan berkerjasama dengan orang yang selevel atau bahkan lebih tinggi level darinya. Jaka adalah seorang pejabat yang levelnya sangat rendah darinya. Aku pikir ini ada sesuatu yang aneh. Setelah beberapa jam, Gayus keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Aku menghampiri rumah Jaka. Seorang pembantu mempersilahkannya masuk. Terlihat Jaka sedang membaca Koran.
“Hai jak….” Sahutku santai lalu duduk
“Hai, ngapain kamu kesini?”
“Ada tamu yah?”
“Tidak, aku sedang di sini karena ada Koran-koran yang belum ku baca”
“Em.. rajin amat! Tapi meja ini basah kayaknya ada minuman lain yang tumpah”
“Itu karena aku tadi minum dan tumpah! Bi, cepat bersihkan meja di sini! Bawakan minum untuk tamu”
“Bibir kamu kering seperti tidak minum sama sekali”
“Mungkin cepat kering kali” Jaka terlihat gugup
“Makasih bi” sahutku pada pembantu yang memberiku segelas teh hangat
“Kau ini tidak sopan sekali! Aku lebih tinggi jabatannnya daripada kamu!”
“Aku tahu itu” sambil meminum teh
“Kamu ngapain ke sini?”
“Apa tidak boleh yah seseorang menemui sahabatnya. Aku kesini bukan sebagai ketua KPK tapi sebagai sahabatmu!”
“Tentu saja boleh! Aku kira kau ke sini untuk mengintrogasiku” senyumnya mulai terlihat dan wajahnya mulai terlihat saat Koran di simpan di atas meja
“Jaka, aku ke sini sebagai sahabatmu. Masih ingatkah kau saat masa-masa kita dulu?”
“Tentu aku ingat, kau selalu juara debat dan juga kau terkenal hebat!”
“Bukan itu, tapi ingatkah janji kita?”
“Untuk tidak mengundang saat menikah?”
“Bukan!!!!!”
“Oh, untuk membela kejujujuran”
“Iya itu. Aku harap kau masih menepati janji”
“Em, em tentu saja aku masih”
“Benarkah?” sentakku
“I…iya”
“Tapi kau gugup! Ayolah, aku tahu betul kamu! Jujur, coba jujur bukan demi aku tapi demi dirimu sendiri!”
“Baiklah, aku sudah melanggar janjiku. Aku menerima uang suap dari Pak Gayus”
“Kenapa kamu menerimanya?”
“Karena aku tak sengaja melihat seorang tewas. Lalu, aku juga melihat seseorang yang sepertinya ku kenal. Tiba-tiba Gayus datang dan memberiku cek rekening bank”
“Lalu?”
“Lalu aku menerimanya dan pergi begitu saja”
“Aku tahu tadi kamu menemui Pak Gayus. Ada apa dia datang padamu”
“Dia menyuruhku untuk tutup mulut pada orang yang bertanya padaku tentangnya. Aku menerima uang lagi darinya”
“Mana uangnya?”
“Ini” Jaka mengeluarkan sebuah amplop yang tebal dari jasnya
“WAw……. Rp. 5000.000? jaka, maukah kau jadi saksi di sidang berikutnya?”
“Kau gila?! Aku tidak mau jika keluargaku akan di ancam oleh Gayus belum lagi aku akan mati jika menjadi saksi!”
Aku terdiam sejenak. Aku ingat jika Gayus adalah pejabat yan terkenal dengan memiliki bodyguard yang banyak. Maklum, dia dulunya adalah seorang preman handal.
“Aha…. Bagaimana kalau aku berpura-pura memasang radio tape di rumahmu untuk menyadap suaramu?”
“Iya! Pintar sekali kau!! Ayo, aku siap” sambil merapihkan jasnya
Aku menyimpan radio tape dan Jaka mulai bersuara
“Haha…. Aku dapet uang lagi. Bi, kamu kesini…”
“Iya pak. Ada apa?”
“Kamu gajinya akan ditambah! Haha… kamu senang?”
“Iya atuh abi mah seneng pisan! Tapi pak uangnya darimana?”
“Dari temen bapak Pak Gayus yang tadi kesini. Dia ngasih aku uang yang banyak!”
“Asyik…pak haturnuhunnya”
Aku memencet stop dan berkata “Selesai, makasih Jaka”
“Ro, aku pikir untuk mengambalikan uang ini. Ambil uangnya dan jadikan bukti!”
“Tuan bukannya uang itu untuk tambahan gajiku”
“Bukan, tadi hanya pura-pura!”
“Akh, kirain bener! Aku sampe seneng!!”
“Kamu mau uang gak halal?”
“Gak mau tuan…”
“Ya udah..” Jaka tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang ada sejumlah uang

_Bersambung_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar