Halaman

Sabtu, 06 Oktober 2012

(Novel) Bab 2: Rahasia membuatmu mesti berbohong



 Rahasia membuatmu mesti berbohong

Tokoh-Tokoh :
v  Ana
v  Rara
v  Azqieva / Qieva
v  Deny
v  Kakeknya Deny


Hari ini cuaca panas, Rara beserta kedua sobatnya sedang minum es jeruk. Rara menghela nafas dan berbicara “Hah, hari ini bagitu…panas! Rasanya ingin membasahi seluruh tubuh dengan air!”
“Tentu saja panas, karena hari ini sudah memasuki musim panas” sahut Qieva yang menyedot es jeruk
“Hari ini begitu boring juga! Gimana kalau kita main ke rumah Ana?”
“Ide yang bagus! Aku juga sudah merasa bosan belajar terus”
“A..apa? ke rumahku? Bagaimana kalau ke rumah Qieva aja? Bukankah kita belum ke rumah Qieva!” sahut Ana seperti gelisah mungkin karena cuaca panas dia terlihat bercucuran keringat
“Ok..kita ke rumah Qieva! Lainkali ke rumah Ana!! Aku bosan, kita selalu kumpul di rumahku!” sahut Rara yang senyum semangat (kayak lagu aja ^_^)
Tot…tot… bel berbunyi panjang menandakan tanda pulang sekolah. Rara, Ana beserta Qieva siap-siap bergegas naik mobil jemputan Rara. Lima belas menit kemudian, mereka sampai di rumah Qieva. Rumahnya sangat sederhana tak seperti rumah Rara yang bagus dan megah. Qieva mempersilahkan Rara, Ana dan pak supir ke dalam rumahnya. Rara melihat rumah Qieva yang sederhana itu, dia merasa aneh karena Qieva tidak pernah menceritakan rumahnya. Mereka duduk di ruang tamu, ibunya Qieva membawakan makanan dan minuman..
“Neng, mangga dileueut” sahut Ibu Qieva sambil duduk di depan mereka
“Jangan repot-repot ibu..” sahut Ana
“Akh, gak apa-apa. Ini sobatnya Qieva yah? Mana yang namanya Rara? Dan mana yang namanya Ana”
“Saya bu, yang bernama Rara” sahut Rara sambil salam pada Ibu Qieva
“Kalau saya Ana..” sahut Ana sambil salam pada Ibu Qieva
“Qieva sering menceritakan kalian semua jadi ibu penasaran mana yang Rara dan mana yang Ana” sahut Ibunya tersenyum
“Oh ibu kebelakang dulu atuh. Qieva sedang ganti baju jadi tunggu aja sebentar lagi” tambahnya
Tak lama kemudian Qieva datang dengan pakaian sehari-harinya.
“Maaf yah Ra, Na, saya gak punya makanan yang enak-enak”
“Ini juga sudah sangat merepotkan kamu!” sahut Ana
“Oh ya, Qi kau punya ibu yang baik yah.. aku iri sama kamu!” sahut Rara
“Jangan gitu, aku juga iri sama kamu punya ibu sehebat itu!” sahut Qieva
“Kalian.. jangan saling iri! Banggalah pada ibu kita masing-masing karena ibu kita yang telah melahirkan kita dengan susah payah!”
“Betul juga! Aku setuju banget!! Qi, katanya rumahmu dekat sawah yah? Aku ingin ke sana donk?!” sahut Rara
“Kenapa ingin? Jarang-jarang ada orang yang ingin ke sawah. Lagipula kalian memakai seragam!”
“Aku ingin karena aku belum pernah main-main di sawah. Sejak kecil ibuku selalu membawaku ke taman bermain dan aku pernah lihat anak kecil main di sawah kayaknya seru banget!”
“Intinya masa kecil kurang bahagialah.. iya kan?” sahut Ana
“Iyyya… hehe. Tapi aku dan Ana bawa baju salin kok!” sahut Rara
“Ok kalau gituh! Kalian ganti baju, aku cari sandal untuk kalian!” sahut Qieva yang semangat
Setelah Ana dan Rara ganti baju, mereka dikasih pinjam sandal. Rara memandang sandal yang dia pakai, karena dia gak pernah pakai sandal swallow. Mereka kemudian berjalan ke Sawah, terlihat pemandangannya sangat indah. Rara tersenyum bahagia. Qieva berjalan di depan untuk memandu mereka, Ana berjalan ditengah dan Rara berjalan belakangnya. Mereka berjalan, Rara terus mengomel karena kecapean. Sampai di Sungai dekat sawah, Rara memandangnya berdegup kagum. Tapi dia jadi tertinggal teman-temannya. Dia bingung harus mengejar mereka kemana, karena mereka benar-benar menghilang dari pandangannya. Rara memberanikan diri berjalan ke arah yang dia percayai. Tapi dia tetap tak menemukan dua sobatnya..
          Di lain tempat, Ana dan Qieva terus mengobrol sambil berjalan. Mereka tak melihat kebelakang, karena mereka kira Rara mengikuti mereka. Sampai di rumah Qieva, mereka kaget karena tak menemukan Rara! Qieva dan Ana segera kembali ke Sawah.
          Rara terus mencari mereka, tapi dia tambah bingung dengan tempat yang tak dikenalnya! Di sana hanya terlihat persawahan yang sangat banyak. Rara menangis karena ia takut tak bisa bertemu dengan Qieva. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dan seorang kakek yang menghampirinya.
“Neng, kenapa di sini? Kok nangis?” sahut seorang kakek
“Kek, aku tersesat. Tadi temanku berada di depanku tetapi aku tertinggal mereka! Dan sekarang aku tak tahu mesti mencari mereka kemana!” sahut Rara yang masih menangis
“Siapa nama teman neng? Barangkali kami tahu rumahnya?” sahut seorang kakek
“Namanya Qieva anak ibu..ibu.. aduh, saya lupa nama ibunya!”
“Wah, saya kurang tahu neng”
“Kek, saya pernah dengar nama Qieva kalau gak salah Rt 03. Tapi saya tidak tahu rumahnya.  Gimana kalau saya antar kamu  ke teman saya, karena temanku tahu rumah Qieva”
“Iya, makasih..”
“Tapi saya akan antar kamu setelah saya memetik padi dulu”
Rara menunggu seorang kakek dan seorang laki-laki. Rara tertarik ingin mencoba memetik padi, dia membantu laki-laki itu. Rara terlihat senang, karena dia pertama kali memetik padi. Rara juga memetik sambil mengobrol dengan laki-laki itu dan mereka terlihat jadi akrab. Sekitar pukul 17.00 Rara diantar oleh laki-laki itu ke rumah temannya. Setelah teman  laki-laki itu  memberitahu rumah Qieva, laki-laki itu mengantarkan Rara ke rumah Qieva. Tapi laki-laki itu bingung yang mana rumah Qieva
“Yang mana yah rumah Qieva? Aku lupa lagi ciri-ciri rumahnya!” sahut laki-laki itu yang menggaruk kepala (Ada kutu kali ^_^)
“Aku juga tak  ingat..”
“Masa kau tak ingat! Kan kamu pasti udah ke rumahnya!”
“Aku lupa hehe.. Lagi pula kau juga lupa ciri-cirinya jadi kita sama-sama lupa!”
“Beda tahu! Aku wajar lupa karena belum pernah sama sekali ke rumah Qieva!”
Tiba-tiba Qieva dan Ana keluar dari rumah yang berwarna Pink.
“Hah, Rara!! Itu benar Rara?” sahut Qieva yg berharap itu Rara
“Iya, ini aku!! Qieva, aku nyari-nyari kamu” sahut Rara berlari mendekati Qieva dan memeluk Qieva dengan erat
“Aku takut kalian tak ku temukan! Untung saja, ada seorang laki-laki dan seorang kakek yang melihatku dan mengantarkan aku!”
“Maafin kami yah? Kami kira kamu ada dibelakang..!” sahut Qieva
“Ra, itu siapa?” sahut Ana
“Oh, ini orang yang mengantarkanku!” sahut Rara yang melepaskan pelukan “Perkenalkan, ini sobat-sobatku!”
“Halo, nama saya Deny. Ini rumah Qieva kan?” sahut laki-laki itu yang sopan
“Iya, ini rumahku. Terimakasih udah mengantarkan Rara!”
“Halo, nama saya Ana senang berkenalan denganmu.. Kami hawatir mencari Rara untung kamu mengantarkannya!” sahut Ana yang tersenyum bahagia sudah melihat Rara
“Senang juga berkenalan denganmu. Aku mau pulang ke rumah yah..”
“Iya, makasih yah!! Maaf telah merepotkanmu!” sahut Rara
“Tak apa kok..”
            Keesokan harinya, cuaca sama seperti biasa yaitu panas. Rara terus melamun mengingat kenangan memetik padi di Sawah.
“Dorr….” Sahut Ana yang mengagetkan Rara dan Rara kaget seperti orang linglung
“Kamu sedang melamunin Deny yah?” sahut Ana
“Bukan ikh! Su’udzon aja! Aku inget kemaren di Sawah rasanya senang…sekali!” sahut Rara sambil membayangkan pengalamannya
“Karena kemaren udah ke rumahku bagaimana ke rumah Ana?” sahut Qieva
“Akh..mmh, jangan! Mmh, keluargaku semua pada kumpul jadi takut kalian di cuekin oleh aku!” sahut Ana yang seperti menyembunyikan sesuatu
“Kalau gituh lainkali aja kita ke rumahmu” sahut Qieva
            Seminggu kemudian, Rara ingin ke rumah Ana. Tapi lagi-lagi Ana beralasan, katanya ada pengajian di rumahnya. Sehingga dia membantu ibunya untuk masak buat ibu-ibu. Sebulan sudah, Ana tetap tak mau membawa Rara dan Qieva ke rumahnya. Sepertinya ada yang disembunyikan olehnya. Lalu Rara menanyakan pada teman sekolah yang sekampung dengan Ana. Dia bilang bahwa Ana mungkin malu sama Rara karena rumah Ana sangat…. Sangat sederhana.
Hari sabtu, Rara dan Qieva menjadi mata-mata. Mereka memakai sepeda agar bisa memata-matai Ana. Qieva sudah kecapean membonceng Rara dan ia ingin gentian dengan Rara. Ketika Rara menjalankan sepeda, ada seorang anak kecil yang jahil dengan mendorong sepeda. Rara dan Qieva pun jadi jatuh. Rencana memata-mataipun jadi gagal.
       Hari senin, Rara dan Qieva akan melanjutkan pekerjaan mereka sekarang yaitu jadi mata-mata. Kali ini, rencana berjalan lancar. Ana benar-benar tak menyadari dibuntutin. Tapi, ketika Qieva mengayuh sepeda agar tidak ketinggalan Ana, ada sebuah motor yang melaju kencang sampai menyerempet sepeda mereka. Qieva dan Rara jatuh, tangan mereka pun berdarah. Semua penduduk mengerumuni mereka. Ana menoleh ke belakang dan melihat kerumunan di kejauhan. Ketika masuk kerumunan itu, Ana kaget melihat Rara dan Qieva. Ana membangunkan mereka.
“Kalian tidak apa-apa?” sahut Ana
“Tidak, cuman tanganku berdarah!” sahut Rara menangis
“Kenapa kalian ke sini?”
Kami..kami Membuntutimu! Kami ingin tahu rumahmu!” sahut Qieva
“Ssst, kok kamu malah dikasih tahu!” sahut Rara yang marah
“Tak ada rahasia di muka bumi ini! Sebuah rahasia juga pasti terbongkar kok!” sahut Qieva
“Kalo gituh ayo..! Ikuti aku!” sahut Ana sambil berjalan di depan
“Kemana?” sahut Rara yang kebingungan
“Ke rumah Analah.  Ayo cepet! Jalannya jgn sampai ketinggalan lagi!” sahut Qieva sambil menuntun sepeda
“Iya, iya Qieva!” sahut Rara
Sesampainya di rumah Ana, Rara dan Qieva tak menyangka kalau ini rumah Ana. Rumahnya sangat sederhana, atap rumah seperti saung juga sebagian tembok memakai bilik.
“Ana, kenapa kau tak pernah bercerita tentang hal ini padamu!!” sahut Rara marah
“Maaf yah.. aku malu pada kalian yang memiliki rumah yang bagus tapi aku hanya memiliki sebuah rumah yang sangat sederhana!”
Kemudian Ana mempersilahkan Rara dan Qieva mesuk ke rumahnya. Rara dan Qieva merasa prihatin melihat sahabatnya yang hidup berkecukupan. Selama di Rumah Ana, mereka tak bisa berkata-kata sepatah katapun karena mereka masih tak menyangka bahwa Ana telah menyembunyikan sesuatu yang bagi mereka penting.
“Mmh, maaf yah benar-benar maaf!!!” sahut Ana yang menundukkan kepala
Rara dan Qieva menangis. Mereka benar-benar kesal karena Ana menganggap mereka seperti bukan sahabat yang selalu terbuka.
“Aku masih kecewa sama kamu Na, karena kamu tega-teganya menyembunyikan keadaamu yang sebenarnya pada kami!” sahut Rara
“Maaf banget.. Saya tak bermaksud menganggap kalian bukan sahabat Karena tak menceritakan hal ini! Saya malu pada kalian! Dan saya tak ingin kalian merasa belas kasihan pada saya”
“Na, kita itu kan sobat! Apa yang mesti kita maluin,, seburuk apapun sobat kita. Kita harus menerimanya dengan lapangdada karena itulah sobat tak memperdulikan sebuah rumah! Yang penting kita kompak terus!!” sahut Qieva
“Tapi kali ini apakah kalian akan memaafkanku? Karena aku telah berbohong tentang di rumah ada keluarga besar padahal cuman sedikitan keluarga yang datang juga  terus aku berbohong soal ada ibu-ibu pengajian.. Aku lakuin ini karena aku ingin kalian tidak mengetahui rumahku!”
“Kau tega!!! Kau benar-benar bukan sobat kami!!” sahut Rara
 “Qi, ayo kita pulang! Ana sungguh keterlaluan membohongi kita!” sahut Rara berdiri dan memegang tangan Qieva
“Ana, aku pulang dulu yah.. Selamat bertemu di sekolah!” sahut Qieva
Rara dan Qieva pulang ke rumah masing-masing. Di tengah malam, mereka semua tidak bisa tidur. Rara terus menangis karena begitu kesalnya Ana yang selama ini berbicara bohong. Rara tidak suka dengan kebohongan.
“Kenapa Na, kenapa kau membohongi aku dan Qieva karena alasan malu! Kita ini sahabat tak boleh ada rahasia!” sahut Rara yang memandangi foto mereka bertiga
Sementara Ana berbaring di tempat tidur, dia memeluk erat boneka yang dihadiahkan oleh Rara untuknya..
“Aku sungguh malu, aku tak pantas bersahabat dengan kalian yang begitu baik kepadaku. Maafkan aku telah membuat kalian kesal. Tapi aku sungguh tak layak menjadi sahabat kalian! Aku tak seperti kalian yang tak punya apa-apa” sahut Ana dan meneteskan air mata
Ibunya ana mendekat dan membelai rambut Ana
“Nak, kenapa kaku menangis?”
“Ibu, apakah saya pantas bersahabat dengan mereka? Mereka itu konglomerat apalagi Rara. Mungkin aku kan tak sanggup lagi bergaul dengan mereka!”
“Nak, kamu jangan sekali-kali membuat mereka sakit! Sahabat tak memandang status sosial tapi persahabatan butuh kejujuran!”
“Tapi aku tak pantas menjadi sahabat mereka!”
“Emang mereka berbicara gituh pada kamu?”
“Tidak! Mereka sama sekali tak pernah bilang gituh! Tapi ada seorang teman yang pernah bilang padaku kalau aku tak pantas bersahabat dengan orang yang berdarah biru”
“Kalau mereka tak pernah berbicara begitu kenapa kamu mesti berpikir tak pantas? Di Dunia ini tak ada yang berbeda! Allah swt menciptakan manusia dengan warna darah yang sama. Nabi Muhammad saw juga mengajarkan pada kita bahwa miskin ataupun kaya dihadapkan Allah semua sama!”
Keesokan harinya, Ana berangkat sendiri dari rumah ke sekolah. Rara berangkat ke sekolah naik mobil. Dan Qieva berangkat ke sekolah dengan menaiki sepeda. Di Kelas, Rara jadi duduk dengan Qieva sementara Ana duduk sendiri. Rara dan Qieva mengobrol dengan asyik. Dari kejauhan Ana melihat mereka, ia rindu pada mereka tapi dia malu akan keadaannya yang kurang mampu. Istirahat tiba, Rara dan Qieva pergi ke kantin sementara Ana di kelas sendiri menyantap bekal makanannya. Di Kantin semua anak-anak yang mengenali Rara menanyakan Ana karena tak biasanya mereka duduk berdua.
“Aku bosan mereka terus menanyakan Ana!”
“Em... Ra, menurutku kita seperti memutuskan hubungan dengan Ana!” sahut Qieva yang bersuara pelan
“Dia dulu yang harus minta maaf pada kita baru aku deketin dia!!” sahut Rara yang mulai memasukkan bakso ke mulutnya
“Sampai kapan kita seperti ini?! Kalau hanya nunggu Ana minta maaf sampai aku nenek-nenekpun gak akan damai!”
“Lho, kenapa gituh? Habis aku malu kalau harus minta maaf duluan!”
“Setiap orang memiliki sikap malu mereka! Setahuku, Ana juga memiliki sikap yang malu untuk minta maaf! Ayolah, kita yang harus duluan minta maaf!”
“Kagak mauuu!! Gengsi tahu!”
“Akh, kamu! Bukankah orang yang meminta maaf itu dapat pahala? Kamu pikir-pikir lagi dech. Kita juga kan salah, kita langsung bersikap gini. Padahal kita belum tahu alasan yang sebenarnya dari Ana! Terus kita juga tidak memikirkan perasaan Ana yang mungkin sakit jika sahabat-sahabatnya bersikap kasar!” sahut Qieva sambil memeragakan dengan sendok yang diputar-putar
“Jangan sihir aku jadi kodok! Sihir aku jadi tuan putri, peri!” sahut Rara
“Aku tak bercanda!! Lagi pula siapa yang jadi peri!”
“Kamu sih, tanganmu yang memegang sendok ampe muter kayang peri yang mau nyihir aja!!”
“Oh..hehe..habis aku terlalu semangat! Gimana mau??”
“Aku mau disihir jadi princess!”
“Eh..bukan itu! Mau gak minta maaf pada Ana?”
“Ok... aku mau!”
Tot..tot bel berbunyi tanda istirahat telah selesai
“Baksoku belum habis! Ayo kita kebut!!” sahut Qieva
Rara dan Qieva makan dengan cepat. Mereka keselek dan minum yang banyak agar tidak keselek. Selesai minum mereka berlari ke Kelas dan duduk segera..
“Adukh, Ra aku sangat tersiksa! Karena makan terlalu cepat jadi keselek! Terus kita malah minum yang banyak jadinya kekenyangan!!”
“kamu yang bilang bahwa minum yang banyak supaya tak keselek! Ya allah, perutku.. kekenyangan! Padahal bu guru belum datang”
Bu guru datang, pelajaran dimulai. Bu guru menerangkan lalu menulis sejarah yang sangat panjang. Rara mengantuk dan ia pura-pura memegang buku sampai menbghalangi wajahnya. Qieva yang melihatnya hanya menggelengkan kepala.
Sepulang sekolah, Qieva dan Rara mengajak Ana ke Taman sekolah yang luas dan indah. Sampai di Taman, Rara memulai pembicaraan
“Na, aku mau minta maaf karena aku dan Qi telah memberlakukanmu tidak baik dan selama ini juga aku minta maaf selalu menyuruh-nyuruh kamu!”
“Kenapa kamu yang harus minta maaf seharusnya aku yang merasa bersalah membohongi kalian! Aku benar-benar minta maaf!”
“Lalu, kau membohongi kami?” sahut Qieva
“karena aku merasa rendah diri di hadapan kalian. Aku itu miskin dan mungkin selalu menyusahkan kalian!” sahut Ana
“Kau tidak menyusahkan kami! Aku memaafkan kamu..” sahut Qieva dan melihat Rara
“Kenapa kau melihatku dengan tatapan begitu?? Em.. aku juga memaafkan kamu!” sahut Rara yang tersenyum manis
“Tapi, aku telah buat kalian sakit hati, aku telah berbohong! Aku tahu aku jadi orang munafik yang selalu berbohong!” sahut Ana yang menangis
“Jangan menangis! Kamu memang telah berbohong dan membuatku sakithati tapi aku akan memaafkan dan melupakan kejadian ini!” sahut Rara
“Jangan sekali-kali lagi kamu berbohong! Apapun keadaan kamu, kami selalu menerimanya! Kejujuran memang pahit tapi harus diungkapkan sebelum kepahitan menambah!” sahut Qieva
“Benarkah kalian memaafkanku?”
“Iya, benar! Because we are best friend forever!” sahut Rara
“Aku jadi senang dan terharu..”
“Udah, hapus air mata mu! Jelek akh..” sahut Qieva
Rara, Ana dan Qieva memandang bunga-bunga yang ada di Taman. Mereka bertiga tersenyum melihat bunga yang begitu indah seindah hari ini. Semenjak saat itulah mereka bertiga tidak lagi menyembunyikan rahasia. Ana, Qieva dan Rara akan tetap bersama..! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar