Tokoh-Tokoh :
v
Ana
v
Rara
v
Azqieva / Qieva
v
Deny
v
Kakeknya Deny
Hari ini cuaca
panas, Rara beserta kedua sobatnya sedang minum es jeruk. Rara menghela nafas
dan berbicara “Hah, hari ini bagitu…panas! Rasanya ingin membasahi seluruh
tubuh dengan air!”
“Tentu
saja panas, karena hari ini sudah memasuki musim panas” sahut Qieva yang
menyedot es jeruk
“Hari
ini begitu boring juga! Gimana kalau kita main ke rumah Ana?”
“Ide
yang bagus! Aku juga sudah merasa bosan belajar terus”
“A..apa?
ke rumahku? Bagaimana kalau ke rumah Qieva aja? Bukankah kita belum ke rumah
Qieva!” sahut Ana seperti gelisah mungkin karena cuaca panas dia terlihat
bercucuran keringat
“Ok..kita
ke rumah Qieva! Lainkali ke rumah Ana!! Aku bosan, kita selalu kumpul di
rumahku!” sahut Rara yang senyum semangat (kayak lagu aja ^_^)
Tot…tot…
bel berbunyi panjang menandakan tanda pulang sekolah. Rara, Ana beserta Qieva
siap-siap bergegas naik mobil jemputan Rara. Lima belas menit kemudian, mereka
sampai di rumah Qieva. Rumahnya sangat sederhana tak seperti rumah Rara yang
bagus dan megah. Qieva mempersilahkan Rara, Ana dan pak supir ke dalam
rumahnya. Rara melihat rumah Qieva yang sederhana itu, dia merasa aneh karena
Qieva tidak pernah menceritakan rumahnya. Mereka duduk di ruang tamu, ibunya
Qieva membawakan makanan dan minuman..
“Neng,
mangga dileueut” sahut Ibu Qieva sambil duduk di depan mereka
“Jangan
repot-repot ibu..” sahut Ana
“Akh,
gak apa-apa. Ini sobatnya Qieva yah? Mana yang namanya Rara? Dan mana yang
namanya Ana”
“Saya
bu, yang bernama Rara” sahut Rara sambil salam pada Ibu Qieva
“Kalau
saya Ana..” sahut Ana sambil salam pada Ibu Qieva
“Qieva
sering menceritakan kalian semua jadi ibu penasaran mana yang Rara dan mana
yang Ana” sahut Ibunya tersenyum
“Oh
ibu kebelakang dulu atuh. Qieva sedang ganti baju jadi tunggu aja sebentar lagi”
tambahnya
Tak
lama kemudian Qieva datang dengan pakaian sehari-harinya.
“Maaf
yah Ra, Na, saya gak punya makanan yang enak-enak”
“Ini
juga sudah sangat merepotkan kamu!” sahut Ana
“Oh
ya, Qi kau punya ibu yang baik yah.. aku iri sama kamu!” sahut Rara
“Jangan
gitu, aku juga iri sama kamu punya ibu sehebat itu!” sahut Qieva
“Kalian..
jangan saling iri! Banggalah pada ibu kita masing-masing karena ibu kita yang
telah melahirkan kita dengan susah payah!”
“Betul
juga! Aku setuju banget!! Qi, katanya rumahmu dekat sawah yah? Aku ingin ke
sana donk?!” sahut Rara
“Kenapa
ingin? Jarang-jarang ada orang yang ingin ke sawah. Lagipula kalian memakai
seragam!”
“Aku
ingin karena aku belum pernah main-main di sawah. Sejak kecil ibuku selalu
membawaku ke taman bermain dan aku pernah lihat anak kecil main di sawah
kayaknya seru banget!”
“Intinya
masa kecil kurang bahagialah.. iya kan?” sahut Ana
“Iyyya…
hehe. Tapi aku dan Ana bawa baju salin kok!” sahut Rara
“Ok
kalau gituh! Kalian ganti baju, aku cari sandal untuk kalian!” sahut Qieva yang
semangat
Setelah
Ana dan Rara ganti baju, mereka dikasih pinjam sandal. Rara memandang sandal yang dia
pakai, karena dia gak pernah pakai sandal swallow. Mereka kemudian
berjalan ke Sawah, terlihat pemandangannya sangat indah. Rara tersenyum bahagia.
Qieva berjalan di depan untuk memandu mereka, Ana berjalan ditengah dan Rara
berjalan belakangnya. Mereka berjalan, Rara terus mengomel karena kecapean.
Sampai di Sungai dekat sawah, Rara memandangnya berdegup kagum. Tapi dia jadi
tertinggal teman-temannya. Dia bingung harus mengejar mereka kemana, karena
mereka benar-benar menghilang dari pandangannya. Rara memberanikan diri
berjalan ke arah yang dia percayai. Tapi dia tetap tak menemukan dua sobatnya..
Di lain tempat, Ana
dan Qieva terus mengobrol sambil berjalan. Mereka tak melihat kebelakang,
karena mereka kira Rara mengikuti mereka. Sampai di rumah Qieva, mereka kaget
karena tak menemukan Rara! Qieva dan Ana segera kembali ke Sawah.
Rara terus mencari
mereka, tapi dia tambah bingung dengan tempat yang tak dikenalnya! Di sana
hanya terlihat persawahan yang sangat banyak. Rara menangis karena ia takut tak
bisa bertemu dengan Qieva. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dan seorang kakek
yang menghampirinya.
“Neng,
kenapa di sini? Kok nangis?” sahut seorang kakek
“Kek,
aku tersesat. Tadi temanku berada di depanku tetapi aku tertinggal mereka! Dan
sekarang aku tak tahu mesti mencari mereka kemana!” sahut Rara yang masih
menangis
“Siapa
nama teman neng? Barangkali kami tahu rumahnya?” sahut seorang kakek
“Namanya
Qieva anak ibu..ibu.. aduh, saya lupa nama ibunya!”
“Wah,
saya kurang tahu neng”
“Kek,
saya pernah dengar nama Qieva kalau gak salah Rt 03. Tapi saya tidak tahu
rumahnya. Gimana kalau saya antar
kamu ke teman saya, karena temanku tahu
rumah Qieva”
“Iya,
makasih..”
“Tapi
saya akan antar kamu setelah saya memetik padi dulu”
Rara menunggu seorang kakek dan seorang laki-laki. Rara tertarik
ingin mencoba memetik padi, dia membantu laki-laki itu. Rara
terlihat senang, karena dia pertama kali memetik padi.
Rara juga memetik sambil mengobrol dengan laki-laki itu dan mereka terlihat
jadi akrab. Sekitar pukul 17.00 Rara diantar oleh laki-laki itu ke rumah
temannya. Setelah teman laki-laki itu memberitahu rumah Qieva,
laki-laki itu mengantarkan Rara ke rumah Qieva. Tapi laki-laki itu bingung yang
mana rumah Qieva
“Yang
mana yah rumah Qieva? Aku lupa lagi ciri-ciri rumahnya!” sahut laki-laki itu
yang menggaruk kepala (Ada kutu kali ^_^)
“Aku
juga tak ingat..”
“Masa
kau tak ingat! Kan kamu pasti udah ke rumahnya!”
“Aku
lupa hehe.. Lagi pula kau juga lupa ciri-cirinya jadi kita sama-sama lupa!”
“Beda
tahu! Aku wajar lupa karena belum pernah sama sekali ke rumah Qieva!”
Tiba-tiba
Qieva dan Ana keluar dari rumah yang berwarna Pink.
“Hah,
Rara!! Itu benar Rara?” sahut Qieva yg berharap itu Rara
“Iya,
ini aku!! Qieva, aku nyari-nyari kamu” sahut Rara berlari mendekati Qieva dan
memeluk Qieva dengan erat
“Aku
takut kalian tak ku temukan! Untung saja, ada seorang laki-laki dan seorang
kakek yang melihatku dan mengantarkan aku!”
“Maafin
kami yah? Kami kira kamu ada dibelakang..!” sahut Qieva
“Ra,
itu siapa?” sahut Ana
“Oh,
ini orang yang mengantarkanku!” sahut Rara yang melepaskan pelukan
“Perkenalkan, ini sobat-sobatku!”
“Halo,
nama saya Deny. Ini rumah Qieva kan?” sahut laki-laki itu yang sopan
“Iya,
ini rumahku. Terimakasih udah mengantarkan Rara!”
“Halo,
nama saya Ana senang berkenalan denganmu.. Kami hawatir mencari Rara untung
kamu mengantarkannya!” sahut Ana yang tersenyum bahagia sudah melihat Rara
“Senang
juga berkenalan denganmu. Aku mau pulang ke rumah yah..”
“Iya,
makasih yah!! Maaf telah merepotkanmu!” sahut Rara
“Tak
apa kok..”
Keesokan harinya, cuaca sama seperti
biasa yaitu panas. Rara terus melamun mengingat kenangan memetik
padi di Sawah.
“Dorr….”
Sahut Ana yang mengagetkan Rara dan Rara kaget seperti orang linglung
“Kamu
sedang melamunin Deny yah?” sahut Ana
“Bukan
ikh! Su’udzon aja! Aku inget kemaren di Sawah rasanya senang…sekali!” sahut
Rara sambil membayangkan pengalamannya
“Karena
kemaren udah ke rumahku bagaimana ke rumah Ana?” sahut Qieva
“Akh..mmh, jangan! Mmh, keluargaku semua pada kumpul jadi
takut kalian di cuekin oleh aku!” sahut Ana yang seperti menyembunyikan sesuatu
“Kalau
gituh lainkali aja kita ke rumahmu” sahut Qieva
Seminggu kemudian, Rara ingin ke
rumah Ana. Tapi lagi-lagi Ana beralasan, katanya ada pengajian di rumahnya.
Sehingga dia membantu ibunya untuk masak buat ibu-ibu. Sebulan sudah, Ana tetap
tak mau membawa Rara dan Qieva ke rumahnya. Sepertinya ada yang disembunyikan
olehnya. Lalu Rara menanyakan pada teman sekolah yang sekampung dengan Ana. Dia
bilang bahwa Ana mungkin malu sama Rara karena rumah Ana sangat…. Sangat
sederhana.
Hari sabtu, Rara dan Qieva menjadi mata-mata. Mereka memakai sepeda
agar bisa memata-matai Ana. Qieva sudah kecapean membonceng Rara dan ia ingin
gentian dengan Rara. Ketika Rara
menjalankan sepeda, ada seorang anak kecil yang jahil
dengan mendorong sepeda. Rara dan Qieva pun jadi jatuh. Rencana memata-mataipun
jadi gagal.
Hari senin, Rara dan
Qieva akan melanjutkan pekerjaan mereka sekarang yaitu jadi mata-mata. Kali
ini, rencana berjalan lancar. Ana
benar-benar tak menyadari dibuntutin. Tapi, ketika Qieva mengayuh sepeda agar
tidak ketinggalan Ana, ada sebuah motor yang melaju kencang sampai menyerempet
sepeda mereka. Qieva dan Rara jatuh, tangan mereka pun berdarah. Semua penduduk
mengerumuni mereka. Ana menoleh ke belakang dan melihat kerumunan di kejauhan.
Ketika masuk kerumunan itu, Ana kaget melihat Rara dan Qieva. Ana membangunkan
mereka.
“Kalian
tidak apa-apa?” sahut Ana
“Tidak,
cuman tanganku berdarah!” sahut Rara menangis
“Kenapa
kalian ke sini?”
“Kami..kami Membuntutimu!
Kami ingin tahu rumahmu!” sahut Qieva
“Ssst,
kok kamu malah dikasih tahu!” sahut Rara yang marah
“Tak
ada rahasia di muka bumi ini! Sebuah rahasia juga pasti terbongkar kok!” sahut
Qieva
“Kalo
gituh ayo..! Ikuti aku!” sahut Ana sambil berjalan di depan
“Kemana?” sahut Rara yang kebingungan
“Ke
rumah Analah. Ayo cepet! Jalannya jgn
sampai ketinggalan lagi!” sahut Qieva sambil menuntun sepeda
“Iya,
iya Qieva!” sahut Rara
Sesampainya
di rumah Ana, Rara dan Qieva tak menyangka kalau ini rumah Ana.
Rumahnya sangat sederhana, atap rumah seperti saung juga sebagian tembok
memakai bilik.
“Ana,
kenapa kau tak pernah bercerita tentang hal ini padamu!!” sahut Rara marah
“Maaf
yah.. aku malu pada kalian yang memiliki rumah yang bagus tapi aku hanya memiliki
sebuah rumah yang sangat sederhana!”
Kemudian
Ana mempersilahkan Rara dan Qieva mesuk ke rumahnya. Rara dan Qieva merasa
prihatin melihat sahabatnya yang hidup
berkecukupan. Selama di Rumah Ana, mereka tak bisa berkata-kata sepatah katapun karena mereka
masih tak menyangka bahwa Ana telah menyembunyikan sesuatu yang bagi mereka
penting.
“Mmh,
maaf yah benar-benar maaf!!!” sahut Ana yang menundukkan kepala
Rara dan Qieva menangis. Mereka benar-benar kesal karena
Ana menganggap mereka seperti bukan sahabat yang selalu terbuka.
“Aku masih kecewa sama kamu Na, karena kamu tega-teganya
menyembunyikan keadaamu yang sebenarnya pada kami!” sahut Rara
“Maaf
banget.. Saya tak bermaksud menganggap kalian bukan sahabat Karena tak
menceritakan hal ini! Saya malu pada kalian! Dan saya tak ingin kalian merasa
belas kasihan pada saya”
“Na,
kita itu kan sobat! Apa yang mesti kita maluin,, seburuk apapun sobat kita.
Kita harus menerimanya dengan lapangdada karena itulah sobat tak memperdulikan
sebuah rumah! Yang penting kita kompak terus!!”
sahut Qieva
“Tapi
kali ini apakah kalian akan memaafkanku? Karena aku telah berbohong tentang di
rumah ada keluarga besar padahal cuman sedikitan keluarga yang datang juga terus aku berbohong soal ada ibu-ibu
pengajian.. Aku lakuin ini karena aku ingin kalian tidak mengetahui rumahku!”
“Kau
tega!!! Kau benar-benar bukan sobat kami!!” sahut Rara
“Qi, ayo kita
pulang! Ana sungguh keterlaluan membohongi kita!” sahut Rara berdiri dan
memegang tangan Qieva
“Ana, aku pulang dulu yah.. Selamat bertemu di sekolah!”
sahut Qieva
Rara dan Qieva pulang ke rumah masing-masing. Di tengah
malam, mereka semua tidak bisa tidur. Rara terus menangis karena begitu
kesalnya Ana yang selama ini berbicara bohong. Rara tidak suka dengan
kebohongan.
“Kenapa Na, kenapa kau membohongi aku dan Qieva karena
alasan malu! Kita ini sahabat tak boleh ada rahasia!” sahut Rara yang
memandangi foto mereka bertiga
Sementara Ana berbaring di tempat tidur, dia memeluk erat
boneka yang dihadiahkan oleh Rara untuknya..
“Aku sungguh malu, aku tak pantas bersahabat dengan
kalian yang begitu baik kepadaku. Maafkan aku telah membuat kalian kesal. Tapi
aku sungguh tak layak menjadi sahabat kalian! Aku tak seperti kalian yang tak
punya apa-apa” sahut Ana dan meneteskan air mata
Ibunya ana mendekat dan membelai rambut Ana
“Nak, kenapa kaku menangis?”
“Ibu, apakah saya pantas bersahabat dengan mereka? Mereka
itu konglomerat apalagi Rara. Mungkin aku kan tak sanggup lagi bergaul dengan
mereka!”
“Nak, kamu jangan sekali-kali membuat mereka sakit!
Sahabat tak memandang status sosial tapi persahabatan butuh kejujuran!”
“Tapi aku tak pantas menjadi sahabat mereka!”
“Emang mereka berbicara gituh pada kamu?”
“Tidak! Mereka sama sekali tak pernah bilang gituh! Tapi
ada seorang teman yang pernah bilang padaku kalau aku tak pantas bersahabat
dengan orang yang berdarah biru”
“Kalau mereka tak pernah berbicara begitu kenapa kamu
mesti berpikir tak pantas? Di Dunia ini tak ada yang berbeda! Allah swt
menciptakan manusia dengan warna darah yang sama. Nabi Muhammad saw juga
mengajarkan pada kita bahwa miskin ataupun kaya dihadapkan Allah semua sama!”
Keesokan harinya, Ana berangkat sendiri dari
rumah ke sekolah. Rara berangkat ke sekolah naik mobil. Dan Qieva berangkat ke
sekolah dengan menaiki sepeda. Di Kelas, Rara jadi duduk dengan Qieva sementara
Ana duduk sendiri. Rara dan Qieva mengobrol dengan asyik. Dari kejauhan Ana
melihat mereka, ia rindu pada mereka tapi dia malu akan keadaannya yang kurang
mampu. Istirahat tiba, Rara dan Qieva pergi ke kantin sementara Ana di kelas
sendiri menyantap bekal makanannya. Di Kantin semua anak-anak yang mengenali
Rara menanyakan Ana karena tak biasanya mereka duduk berdua.
“Aku bosan mereka terus menanyakan Ana!”
“Em... Ra, menurutku kita seperti memutuskan hubungan
dengan Ana!” sahut Qieva yang bersuara pelan
“Dia dulu yang harus minta maaf pada kita baru aku
deketin dia!!” sahut Rara yang mulai memasukkan bakso ke mulutnya
“Sampai kapan kita seperti ini?! Kalau hanya nunggu Ana
minta maaf sampai aku nenek-nenekpun gak akan damai!”
“Lho, kenapa gituh? Habis aku malu kalau harus minta maaf
duluan!”
“Setiap orang memiliki sikap malu mereka! Setahuku, Ana
juga memiliki sikap yang malu untuk minta maaf! Ayolah, kita yang harus duluan
minta maaf!”
“Kagak mauuu!! Gengsi tahu!”
“Akh, kamu! Bukankah orang yang meminta maaf itu dapat
pahala? Kamu pikir-pikir lagi dech. Kita juga kan salah, kita langsung bersikap
gini. Padahal kita belum tahu alasan yang sebenarnya dari Ana! Terus kita juga
tidak memikirkan perasaan Ana yang mungkin sakit jika sahabat-sahabatnya
bersikap kasar!” sahut Qieva sambil memeragakan dengan sendok yang
diputar-putar
“Jangan sihir aku jadi kodok! Sihir aku jadi tuan putri,
peri!” sahut Rara
“Aku tak bercanda!! Lagi pula siapa yang jadi peri!”
“Kamu sih, tanganmu yang memegang sendok ampe muter
kayang peri yang mau nyihir aja!!”
“Oh..hehe..habis aku terlalu semangat! Gimana mau??”
“Aku mau disihir jadi princess!”
“Eh..bukan itu! Mau gak minta maaf pada Ana?”
“Ok... aku mau!”
Tot..tot bel berbunyi tanda istirahat telah selesai
“Baksoku belum habis! Ayo kita kebut!!” sahut Qieva
Rara dan Qieva makan dengan cepat. Mereka keselek dan
minum yang banyak agar tidak keselek. Selesai minum mereka berlari ke Kelas dan
duduk segera..
“Adukh, Ra aku sangat tersiksa! Karena makan terlalu
cepat jadi keselek! Terus kita malah minum yang banyak jadinya kekenyangan!!”
“kamu yang bilang bahwa minum yang banyak supaya tak
keselek! Ya allah, perutku.. kekenyangan! Padahal bu guru belum datang”
Bu guru datang, pelajaran dimulai. Bu guru menerangkan
lalu menulis sejarah yang sangat panjang. Rara mengantuk dan ia pura-pura
memegang buku sampai menbghalangi wajahnya. Qieva yang melihatnya hanya
menggelengkan kepala.
Sepulang sekolah, Qieva dan Rara mengajak Ana ke Taman
sekolah yang luas dan indah. Sampai di Taman, Rara memulai pembicaraan
“Na, aku mau minta maaf karena aku dan Qi telah
memberlakukanmu tidak baik dan selama ini juga aku minta maaf selalu
menyuruh-nyuruh kamu!”
“Kenapa kamu yang harus minta maaf seharusnya aku yang
merasa bersalah membohongi kalian! Aku benar-benar minta maaf!”
“Lalu, kau membohongi kami?” sahut Qieva
“karena aku merasa rendah diri di hadapan kalian. Aku itu
miskin dan mungkin selalu menyusahkan kalian!” sahut Ana
“Kau tidak menyusahkan kami! Aku memaafkan kamu..” sahut
Qieva dan melihat Rara
“Kenapa kau melihatku dengan tatapan begitu?? Em.. aku
juga memaafkan kamu!” sahut Rara yang tersenyum manis
“Tapi, aku telah buat kalian sakit hati, aku telah
berbohong! Aku tahu aku jadi orang munafik yang selalu berbohong!” sahut Ana
yang menangis
“Jangan menangis! Kamu memang telah berbohong dan
membuatku sakithati tapi aku akan memaafkan dan melupakan kejadian ini!” sahut
Rara
“Jangan sekali-kali lagi kamu berbohong! Apapun keadaan
kamu, kami selalu menerimanya! Kejujuran memang pahit tapi harus diungkapkan
sebelum kepahitan menambah!” sahut Qieva
“Benarkah kalian memaafkanku?”
“Iya, benar! Because we are best friend forever!” sahut Rara
“Aku jadi senang dan terharu..”
“Udah, hapus air mata mu! Jelek akh..” sahut Qieva
Rara, Ana dan Qieva memandang bunga-bunga yang ada di Taman. Mereka bertiga
tersenyum melihat bunga yang begitu indah seindah hari ini. Semenjak saat
itulah mereka bertiga tidak lagi menyembunyikan rahasia. Ana, Qieva dan Rara akan tetap bersama..!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar