Bertahan
di Rumah Sakit
Hari
itu bagi Megumi adalah hari yang sangat sial! Karena Megumi harus dilarikan ke
Rumah sakit ketika pernikahannya akan segera digelar. Ini sebuah kepahitan yang
baru ia terima. Kemudian, dokter memberitahunya bahwa dia terkena penyakit
lupus. Dokter terus memaksa untuk tinggal di Rumah sakit dan Megumi
menyetujuinya, meskipun Ibunya berat sekali membiarkan Megumi tinggal di Rumah Sakit.
Babak 1
Suatu
hari, Megumi memandang matahari yang akan bersinar lewat jendela kamar inapnya.
Ibu Megumi terus melamun dan masih tak percaya Megumi mendapat penyakit lupus.
Ibu megumi : “Nak, kenapa nasib kamu harus seperti
ini? Aku begitu kesal melihat kau berbaring dan hanya menunggu keajaiban
datang!”
Megumi : “Ibu, aku ingin sekali menikah.. tapi
gara-gara dokter itu aku jadi harus tinggal di sini!”
Ibu megumi : “Aku juga sangat mengharapkanmu menikah
dengan lelaki yang kamu cintai. (mulai berkaca-kaca matanya) putriku yang
malang..putriku yang malang..”
Ruangan tiba-tiba hening dan hanya terdengar suara
ibu Megumi yang mengulang kata-katanya.
Megumi menjadi tertekan dan mulai berteriak.
Megumi : “Aku ingin keluar dari sini!!! Aku ingin
menikah!!!
Dokter Yuri dengan sigap datang bersama perawat
Tomoko. Dokter Yuri mulai menyuntikan obat penenang dan Megumi tidur terlelap.
Ibu Megumi hanya menangis di samping anaknya.
Dokter Yuri :
“Ini adalah yang terbaik untuknya. Aku harap ibu juga menyemangati Megumi bukan
membuatnya tertekan! (sambil terkesan kesal karena Ibu Megumi terus ingin
mengeluarkan anaknya)
Perawat Tomoko : “Jika putri ibu tidak ke Rumah
Sakit. Penyakitnya, akan menambah parah. Setidaknya kami bisa merawat dan
memberikan pelayanan yang terbaik untuk Megumi”
Dokter Yuri : “Penyakit ini masih harus kami teliti
lebih lanjut. Ibu ingat kan, saya pernah berbicara bahwa ini adalah penyakit
yang belum ada obatnya hingga sekarang karena ini menyerang sistim kekebalan
tubuh seseorang!”
Ibu megumi : “Iya, aku ingat. (menarik nafas
dalam-dalam) baiklah aku akan menyemangati Megumi untuk tinggal di sini”
Babak 2
Megumi tetap saja menatap jendela itu. Ia merindukan
dunia luar Rumah Sakit yang begitu bebas dan mengasyikan. Kedua sahabat Megumi
datang.
Megumi : “Aku rindu… dunia luar rumah sakit yang
begitu bebas” (Megumi bergumam)
Haru : “Ohayou…Megumi..!” (tersenyum sambil
menghampiri Megumi dan memeluknya)
Yume : “Ohayou, Megumi!”
Megumi : “Haru? Yume? Aku senang sekali melihat
kalian ke sini! (sambil memeluk Yume dan Haru kemudian melepaskannya)
Yume : “Maaf kami baru bisa menengokmu. Karena kami
sibuk menghadapi suami-suami kami!
Haru : “Iya, suamiku bawel banget!!”
Yume : “Kau juga bawel haru..” (sambil menjulurkan
lidah)
Haru : “Dari pada kamu, sama-sama serius orangnya! Pasangan
hidup yang tak menyenangkan!”
Megumi : “Sudah-sudah, kalian masih sama saja
seperti ini! Padahal kalian sudah tua”
Yume : “Tua?? Kami kan masih 27 tahun!”
Megumi : “Kalian tuh udah nikah. Eh, gimana rasanya
punya suami?”
Haru : “Enak banget, ada temen ngobrol! Terus setiap
saat ada yang nemenin!”
Yume : “Yah biasa-biasa aja menurut aku. Eh, kapan
pernikahanmu akan digelar lagi? bukankah di undur?”
Megumi : “Entah itu diundur atau dibatalkan..em.. (menarik
nafas)”
Yume : “Lho, kok gitu?”
Megumi : “Ibunya menjadi sangat benci padaku
gara-gara tahu kondisiku sekarang!”
Haru : “Yang sabar yah Megumi! Aku yakin masih ada
kesempatan untuk membujuk hati ibu calon mertuamu”
Yume : “Iya, pasti ada kesempatan. Semangat!!!!”
(sambil tersenyum)
Haru : “(sambil melihat jam tangan) Wah aku harus
kerja nih, kalau gitu kami pergi dulu yah.. bye-bye”
Yume : “Bye-bye” (sambil keluar dan melambaikan
tangan)
Megumi : “Bye-bye..lain kali ke sini lagi yah!!”
Tak lama kemudian, sesosok laki-laki datang.
Megumi : “Nakaji..?” (kaget)
Nakaji : “Hai, maaf aku baru nengok sekarang.
Bagaimana keadaanmu?”
Megumi : “Aku sering merasa pusing di kepala,
kemudian aku sering merasa seperti sekarat”
Nakaji : “Aku yakin kau akan segera sembuh! Karena
kau ini adalah calon istriku!” (tersenyum)
“Bagaimana
kalau kita refreshing dulu?” (tambah nakaji)
Tiba-tiba perawat Tomoko datang.
Perawat Tomoko : “Maaf mengganggu, hari ini kamu
harus cek up”
Megumi : “Em..bolehkah aku jalan-jalan keluar
sebentar?”
Perawat Tomoko : “Aku pasti akan dimarahin sama
dokter Yuri!”
Megumi : “Ayoolah…”
Perawat megumi : “Baik tapi hanya 15 menit!”
Sesampainya
di Café kenangan mereka berdua. Megumi dan Nakaji asyik mengobrol sambil
menikmati susu coklat panas bersama. Tiba-tiba seorang wanita datang.
Kirei : “Kau… kenapa ada di sini?”
Nakaji : “Kirei…” (terkejut)
Kirei : “Sayang, kenapa kau ada di sini!! Siapa
wanita ini?” (menunjuk Megumi)
Nakaji : “Ini Megumi, wanita yang sering ku
ceritakan padamu”
Megumi : “Siapa ini Nakaji??”
Kirei : “Oh, cewek penyakitan itu!! Kenalkan aku
Kirei, istri sah nya Nakaji!”
Megumi : “I…istri?”
Kirei : “Oh, kamu tuli yah! Istri Nakaji!!” (sambil
memegang lengan Nakaji)
Nakaji : “Iya, ini istriku. Aku menikah dengannya
ketika kamu dilarikan ke Rumah Sakit”
Kirei : “Ayo sayang kita pulang, ngapain dengan
cewek penyakitan itu”
Nakaji : “Hey, aku yakin Megumi sembuh! Aku tidak
suka kau mengejeknya seperti ini!” (membentak Kirei dengan nada yang keras)
Kirei : “Iya yah..ayo kita pulang!” (sambil menyeret
Nakaji)
Nakaji : “Maaf Megumi aku pulang duluan”
Megumi : “Nakaji…kenapa kau begini padaku?” (sambil
melihat Nakaji dan Kirei yang meninggalkannya)
Babak ke 3
Megumi sedang duduk dan melamun. Kemudian perawat
Tomoko mendekatinya.
Megumi : “Kenapa mesti aku yang mendapatkan penyakit
ini? Kenapa mesti aku yang dibuang oleh Nakaji? Kenapa mesti aku yang harus
menanggung semua rasa sakit ini? Kenapa?! (teriak)”
Tomoko : “Dunia ini adalah dunia yang penuh dengan
kesengsaraan tapi juga penuh dengan kebahagiaan. Dunia ini penuh rintangan,
maka jangan hidup jika tidak ingin menghadapinya”
Megumi : “Tapi, kenapa aku yang harus menyebabkan
Nakaji milik oranglain?”
Tomoko : “Maksud kamu?” (bingung)
Megumi : “Nakaji telah menikah dengan Kirei saat
hari pernikahanku. Saat aku dilarikan ke Rumah Sakit!”
Tomoko : “Relakanlah dia pergi. (memegang bahu
Megumi) Cinta tak harus memiliki. Lagi pula, semua sudah terlanjur”
Megumi : “Aku tahu aku harus merelakannya. Tapi hati
ini tak bisa!!!”
Tomoko : “Cinta datang dan pergi begitu saja. Aku
yakin kau akan menemukan cinta yang lebih baik dari itu”
Megumi : “Apakah aku bisa dengan penyakit ini?”
Tomoko : “Semua bisa tak ada yang tak mungkin!”
Tiba-tiba datang Nakaji.
Nakaji : “Megumi, maafkan aku..”
Tomoko : “Em..Megumi, aku akan menunggumu di ruang
dokter Yuri” (pergi meninggalkan Megumi)
Nakaji : “Maaf,,, tapi ini bukan kehendakku! Tiba-tiba
ibu memberitahu bahwa pengantin wanita diganti oleh Kirei! Aku terkejut dan tak
bisa berbuat apa-apa”
Megumi : “Apa kau tak bisa melarikan diri hah…?! Kau
jahat!” (menangis)
Nakaji : “Maafkan aku. Tapi, dalam sebulan ini aku
akan segera menceraikan Kirei!”
Megumi : “Tidak usah, aku akan membiarkanmu pergi”
Nakaji : “Kenapa?? Aku mencintaimu!”
Megumi : “Aku punya penyakit yang tak tahu akan
sembuh atau tidak. Aku… aku .. merelakanmu dengan Kirei”
Nakaji : “Tidak!! Jangan begini!”
Megumi : “Dengarlah, kamu harus menjadi suami yang
baik untuk Kirei..” (menangis)
Dokter Yuri datang..
Dokter Yuri : “Megumi, aku sudah menunggumu! ayo
cepat kita cek up sekali lagi!”
Babak 4
Tubuh megumi sudah kehilangan keseimbangan. Tetapi
ia sudah bertekad untuk semangat mengarungi hidupnya yang penuh dengan
kepahitan. Suatu hari, ia terbangun dari tidurnya. Ia terlihat gelisah dengan
mimpinya itu.
Megumi memegang tenggorakannya. Ia mulai merasa
haus. Kemudian, Megumi mengambil gelas tetapi ia sudah kehilangan keseimbangan
dan jatuh. Perawat tomoko datang dan menolongnya.
Tomoko : “Apa kau baik-baik saja?”
Megumi : “Tidak.. aku merasa pusing dan kehilangan
keseimbangan! Tubuhku makin melemah”
Tomoko : “Meski tubuhmu melemah tapi hatimu harus
tambah kuat menghadapi kenyataan ini”
Megumi : “Iya, baiklah aku akan tambah kuat”
Tomoko : “Semangat!!!”
Tiba-tiba Ibu Megumi datang
Ibu : “Nak
kau sudah makan?”
Megumi : “Belum bu..” (tersenyum)
Ibu : “Em, ibu senang kau tersenyum seperti ini!
Mari kita makan..”
Babak 5
Megumi semakin lemah keadaanya. Kaki menjadi kaku.
System kekebalan tubuhnya drastis lemah.
Tomoko : “Aku ingin kau sembuh..”
Megumi : “Mengapa?? Aku sekarang sadar bahwa aku
harus berusaha melawan penyakitku!”
Tomoko : “Karena kau seperti adikku yang terkena
penyakit lupus juga..”
Megumi : “Lalu, kemana adikmu?”
Tomoko : “Meninggal..” (mata mulai berkaca-kaca)
Megumi : “Harus semangat Kak Tomoko!” (tersenyum
manis tetapi tubuhnya masih lemah)
Tomoko : “Lihat apa yang aku bawa?”
Megumi : “Majalah fashion!! Asyik!”
Tomoko dan Megumi asyik memilih gambar yang ada di
majalah. Megumi menunjuk sebuah gambar
Megumi : “Kak Tomoko, aku ingin sekali memakai baju
ini!”
Tomoko : “Aku akan membelikannya untukmu jadi kau
harus sembuh!”
Beberapa saat kemudian, Megumi merasakan sakit yang
sangat hebat di kepalanya. Dokter Yuri segera datang dan menyuntikkan obat
penenang. Ibu masuk ke ruang inap.
Ibu : “Dok, apa dia baik-baik saja?”
Dokter Yuri : “Sistem kekebalan tubuhnya sudah
rusak. Semua tubuh sudah terserang oleh penyakit ini. Aku harus melakukan
beberapa perlakuan medis”
Ibu: “Tolong.. lakukan yang terbaik!”
Ibu
keluar ruangan. Ibu megumi terus menanti dokter Yuri keluar ruangan. Ia terus
melihat jam tangannya. Kemudian, dokter Yuri keluar dan menggelengkan kepala.
Dokter Yuri : “Maaf..”
Ibu : “Maaf untuk apa..?”
Dokter Yuri : “Mungkin inilah takdir tuhan”
Ibu: “Kau dokter bodoh!! Bagaimana bisa anakku mati
karena kau yang tak bisa mengobatinya!! Tolong kembalikan anakku!!! (teriak)”
Tomoko : “Ibu, aku yakin Megumi juga capek menahan
semua penyakit ini. Biarkan Megumi tenang di sana”
Ibu Megumi masuk ke dalam ruangan. Di sana, Megumi
tertutupi kain putih. Perawat Tomoko dan dokter ikut masuk ke dalam ruangan.
Ibu : “Megumi…..Megumi….” (menangis)
Tomoko : “Aku belum sempat membelikanmu baju yang
kamu suka… !Megumi selamat tinggal”
Beberapa
tahun kemudian, Nakaji hidup bahagia dengan Kirei. Sementara ibunya rajin
berziarah ke makan Megumi. Mungkin itulah hidup yang tak akan ada orang yang
tahu bagaimana akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar