Halaman

Sabtu, 06 Oktober 2012

Drama : Bertahan di Rumah Sakit



Bertahan di Rumah Sakit
          
              Hari itu bagi Megumi adalah hari yang sangat sial! Karena Megumi harus dilarikan ke Rumah sakit ketika pernikahannya akan segera digelar. Ini sebuah kepahitan yang baru ia terima. Kemudian, dokter memberitahunya bahwa dia terkena penyakit lupus. Dokter terus memaksa untuk tinggal di Rumah sakit dan Megumi menyetujuinya, meskipun Ibunya berat sekali  membiarkan Megumi tinggal di Rumah Sakit.
Babak 1
            Suatu hari, Megumi memandang matahari yang akan bersinar lewat jendela kamar inapnya. Ibu Megumi terus melamun dan masih tak percaya Megumi mendapat penyakit lupus.
Ibu megumi : “Nak, kenapa nasib kamu harus seperti ini? Aku begitu kesal melihat kau berbaring dan hanya menunggu keajaiban datang!”
Megumi : “Ibu, aku ingin sekali menikah.. tapi gara-gara dokter itu aku jadi harus tinggal di sini!”
Ibu megumi : “Aku juga sangat mengharapkanmu menikah dengan lelaki yang kamu cintai. (mulai berkaca-kaca matanya) putriku yang malang..putriku yang malang..”
Ruangan tiba-tiba hening dan hanya terdengar suara ibu Megumi yang mengulang kata-katanya.
Megumi menjadi tertekan dan mulai berteriak.
Megumi : “Aku ingin keluar dari sini!!! Aku ingin menikah!!!
Dokter Yuri dengan sigap datang bersama perawat Tomoko. Dokter Yuri mulai menyuntikan obat penenang dan Megumi tidur terlelap. Ibu Megumi hanya menangis di samping anaknya.
Dokter  Yuri : “Ini adalah yang terbaik untuknya. Aku harap ibu juga menyemangati Megumi bukan membuatnya tertekan! (sambil terkesan kesal karena Ibu Megumi terus ingin mengeluarkan anaknya)
Perawat Tomoko : “Jika putri ibu tidak ke Rumah Sakit. Penyakitnya, akan menambah parah. Setidaknya kami bisa merawat dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk Megumi”
Dokter Yuri : “Penyakit ini masih harus kami teliti lebih lanjut. Ibu ingat kan, saya pernah berbicara bahwa ini adalah penyakit yang belum ada obatnya hingga sekarang karena ini menyerang sistim kekebalan tubuh seseorang!”
Ibu megumi : “Iya, aku ingat. (menarik nafas dalam-dalam) baiklah aku akan menyemangati Megumi untuk tinggal di sini”
Babak 2
Megumi tetap saja menatap jendela itu. Ia merindukan dunia luar Rumah Sakit yang begitu bebas dan mengasyikan. Kedua sahabat Megumi datang.
Megumi : “Aku rindu… dunia luar rumah sakit yang begitu bebas” (Megumi bergumam)
Haru : “Ohayou…Megumi..!” (tersenyum sambil menghampiri Megumi dan memeluknya)
Yume : “Ohayou, Megumi!”
Megumi : “Haru? Yume? Aku senang sekali melihat kalian ke sini! (sambil memeluk Yume dan Haru kemudian melepaskannya)
Yume : “Maaf kami baru bisa menengokmu. Karena kami sibuk menghadapi suami-suami kami!
Haru : “Iya, suamiku bawel banget!!”
Yume : “Kau juga bawel haru..” (sambil menjulurkan lidah)
Haru : “Dari pada kamu, sama-sama serius orangnya! Pasangan hidup yang tak menyenangkan!”
Megumi : “Sudah-sudah, kalian masih sama saja seperti ini! Padahal kalian sudah tua”
Yume : “Tua?? Kami kan masih 27 tahun!”
Megumi : “Kalian tuh udah nikah. Eh, gimana rasanya punya suami?”
Haru : “Enak banget, ada temen ngobrol! Terus setiap saat ada yang nemenin!”
Yume : “Yah biasa-biasa aja menurut aku. Eh, kapan pernikahanmu akan digelar lagi? bukankah di undur?”
Megumi : “Entah itu diundur atau dibatalkan..em.. (menarik nafas)”
Yume : “Lho, kok gitu?”
Megumi : “Ibunya menjadi sangat benci padaku gara-gara tahu kondisiku sekarang!”
Haru : “Yang sabar yah Megumi! Aku yakin masih ada kesempatan untuk membujuk hati ibu calon mertuamu”
Yume : “Iya, pasti ada kesempatan. Semangat!!!!” (sambil tersenyum)
Haru : “(sambil melihat jam tangan) Wah aku harus kerja nih, kalau gitu kami pergi dulu yah.. bye-bye”
Yume : “Bye-bye” (sambil keluar dan melambaikan tangan)
Megumi : “Bye-bye..lain kali ke sini lagi yah!!”
Tak lama kemudian, sesosok laki-laki datang.
Megumi : “Nakaji..?” (kaget)
Nakaji : “Hai, maaf aku baru nengok sekarang. Bagaimana keadaanmu?”
Megumi : “Aku sering merasa pusing di kepala, kemudian aku sering merasa seperti sekarat”
Nakaji : “Aku yakin kau akan segera sembuh! Karena kau ini adalah calon istriku!” (tersenyum)   
            “Bagaimana kalau kita refreshing dulu?” (tambah nakaji)
Tiba-tiba perawat Tomoko datang.
Perawat Tomoko : “Maaf mengganggu, hari ini kamu harus cek up”
Megumi : “Em..bolehkah aku jalan-jalan keluar sebentar?”
Perawat Tomoko : “Aku pasti akan dimarahin sama dokter Yuri!”
Megumi : “Ayoolah…”
Perawat megumi : “Baik tapi hanya 15 menit!”
            Sesampainya di Café kenangan mereka berdua. Megumi dan Nakaji asyik mengobrol sambil menikmati susu coklat panas bersama. Tiba-tiba seorang wanita datang.
Kirei : “Kau… kenapa ada di sini?”
Nakaji : “Kirei…” (terkejut)
Kirei : “Sayang, kenapa kau ada di sini!! Siapa wanita ini?” (menunjuk Megumi)
Nakaji : “Ini Megumi, wanita yang sering ku ceritakan padamu”
Megumi : “Siapa ini Nakaji??”
Kirei : “Oh, cewek penyakitan itu!! Kenalkan aku Kirei, istri sah nya Nakaji!”
Megumi : “I…istri?”
Kirei : “Oh, kamu tuli yah! Istri Nakaji!!” (sambil memegang lengan Nakaji)
Nakaji : “Iya, ini istriku. Aku menikah dengannya ketika kamu dilarikan ke Rumah Sakit”
Kirei : “Ayo sayang kita pulang, ngapain dengan cewek penyakitan itu”
Nakaji : “Hey, aku yakin Megumi sembuh! Aku tidak suka kau mengejeknya seperti ini!” (membentak Kirei dengan nada yang keras)
Kirei : “Iya yah..ayo kita pulang!” (sambil menyeret Nakaji)
Nakaji : “Maaf Megumi aku pulang duluan”
Megumi : “Nakaji…kenapa kau begini padaku?” (sambil melihat Nakaji dan Kirei yang meninggalkannya)
Babak ke 3
Megumi sedang duduk dan melamun. Kemudian perawat Tomoko mendekatinya.
Megumi : “Kenapa mesti aku yang mendapatkan penyakit ini? Kenapa mesti aku yang dibuang oleh Nakaji? Kenapa mesti aku yang harus menanggung semua rasa sakit ini? Kenapa?! (teriak)”
Tomoko : “Dunia ini adalah dunia yang penuh dengan kesengsaraan tapi juga penuh dengan kebahagiaan. Dunia ini penuh rintangan, maka jangan hidup jika tidak ingin menghadapinya”
Megumi : “Tapi, kenapa aku yang harus menyebabkan Nakaji milik oranglain?”
Tomoko : “Maksud kamu?” (bingung)
Megumi : “Nakaji telah menikah dengan Kirei saat hari pernikahanku. Saat aku dilarikan ke Rumah Sakit!”
Tomoko : “Relakanlah dia pergi. (memegang bahu Megumi) Cinta tak harus memiliki. Lagi pula, semua sudah terlanjur”
Megumi : “Aku tahu aku harus merelakannya. Tapi hati ini tak bisa!!!”
Tomoko : “Cinta datang dan pergi begitu saja. Aku yakin kau akan menemukan cinta yang lebih baik dari itu”
Megumi : “Apakah aku bisa dengan penyakit ini?”
Tomoko : “Semua bisa tak ada yang tak mungkin!”
Tiba-tiba datang Nakaji.
Nakaji : “Megumi, maafkan aku..”
Tomoko : “Em..Megumi, aku akan menunggumu di ruang dokter Yuri” (pergi meninggalkan Megumi)
Nakaji : “Maaf,,, tapi ini bukan kehendakku! Tiba-tiba ibu memberitahu bahwa pengantin wanita diganti oleh Kirei! Aku terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa”
Megumi : “Apa kau tak bisa melarikan diri hah…?! Kau jahat!” (menangis)
Nakaji : “Maafkan aku. Tapi, dalam sebulan ini aku akan segera menceraikan Kirei!”
Megumi : “Tidak usah, aku akan membiarkanmu pergi”
Nakaji : “Kenapa?? Aku mencintaimu!”
Megumi : “Aku punya penyakit yang tak tahu akan sembuh atau tidak. Aku… aku .. merelakanmu dengan Kirei”
Nakaji : “Tidak!! Jangan begini!”
Megumi : “Dengarlah, kamu harus menjadi suami yang baik untuk Kirei..” (menangis)
Dokter Yuri datang..
Dokter Yuri : “Megumi, aku sudah menunggumu! ayo cepat kita cek up sekali lagi!”

Babak 4
Tubuh megumi sudah kehilangan keseimbangan. Tetapi ia sudah bertekad untuk semangat mengarungi hidupnya yang penuh dengan kepahitan. Suatu hari, ia terbangun dari tidurnya. Ia terlihat gelisah dengan mimpinya itu.
Megumi memegang tenggorakannya. Ia mulai merasa haus. Kemudian, Megumi mengambil gelas tetapi ia sudah kehilangan keseimbangan dan jatuh. Perawat tomoko datang dan menolongnya.
Tomoko : “Apa kau baik-baik saja?”
Megumi : “Tidak.. aku merasa pusing dan kehilangan keseimbangan! Tubuhku makin melemah”
Tomoko : “Meski tubuhmu melemah tapi hatimu harus tambah kuat menghadapi kenyataan ini”
Megumi : “Iya, baiklah aku akan tambah kuat”
Tomoko : “Semangat!!!”
Tiba-tiba Ibu Megumi datang
Ibu  : “Nak kau sudah makan?”
Megumi : “Belum bu..” (tersenyum)
Ibu : “Em, ibu senang kau tersenyum seperti ini! Mari kita makan..”

Babak 5
Megumi semakin lemah keadaanya. Kaki menjadi kaku. System kekebalan tubuhnya drastis lemah.
Tomoko : “Aku ingin kau sembuh..”
Megumi : “Mengapa?? Aku sekarang sadar bahwa aku harus berusaha melawan penyakitku!”
Tomoko : “Karena kau seperti adikku yang terkena penyakit lupus juga..”
Megumi : “Lalu, kemana adikmu?”
Tomoko : “Meninggal..” (mata mulai berkaca-kaca)
Megumi : “Harus semangat Kak Tomoko!” (tersenyum manis tetapi tubuhnya masih lemah)
Tomoko : “Lihat apa yang aku bawa?”
Megumi : “Majalah fashion!! Asyik!”
Tomoko dan Megumi asyik memilih gambar yang ada di majalah. Megumi menunjuk sebuah gambar
Megumi : “Kak Tomoko, aku ingin sekali memakai baju ini!”
Tomoko : “Aku akan membelikannya untukmu jadi kau harus sembuh!”
Beberapa saat kemudian, Megumi merasakan sakit yang sangat hebat di kepalanya. Dokter Yuri segera datang dan menyuntikkan obat penenang. Ibu masuk ke ruang inap.
Ibu : “Dok, apa dia baik-baik saja?”
Dokter Yuri : “Sistem kekebalan tubuhnya sudah rusak. Semua tubuh sudah terserang oleh penyakit ini. Aku harus melakukan beberapa perlakuan medis”
Ibu: “Tolong.. lakukan yang terbaik!”
            Ibu keluar ruangan. Ibu megumi terus menanti dokter Yuri keluar ruangan. Ia terus melihat jam tangannya. Kemudian, dokter Yuri keluar dan menggelengkan kepala.
Dokter Yuri : “Maaf..”
Ibu : “Maaf untuk apa..?”
Dokter Yuri : “Mungkin inilah takdir tuhan”
Ibu: “Kau dokter bodoh!! Bagaimana bisa anakku mati karena kau yang tak bisa mengobatinya!! Tolong kembalikan anakku!!! (teriak)”
Tomoko : “Ibu, aku yakin Megumi juga capek menahan semua penyakit ini. Biarkan Megumi tenang di sana”
Ibu Megumi masuk ke dalam ruangan. Di sana, Megumi tertutupi kain putih. Perawat Tomoko dan dokter ikut masuk ke dalam ruangan.
Ibu : “Megumi…..Megumi….” (menangis)
Tomoko : “Aku belum sempat membelikanmu baju yang kamu suka… !Megumi selamat tinggal”
            Beberapa tahun kemudian, Nakaji hidup bahagia dengan Kirei. Sementara ibunya rajin berziarah ke makan Megumi. Mungkin itulah hidup yang tak akan ada orang yang tahu bagaimana akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar