New Days
Setelah aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan merantau ke
daerah orang. Aku merasa menghirup udara bebas. Tapi udara itu penuh polusi
bahkan tidak sesegar udara di daerahku. Maklum, Pameungpeuk sudah terbilang
kota dibanding dengan Cihampelas-Cililin, daerahku. Banyak mobil dan motor yang
melewat. Suasana bising dijalanan juga ikut masuk ke dalam rumah nenek yang
dekat jalan raya. Aku tak habis pikir jika rumah nenek yang banyak kamar juga
diimbangi dengan aturannya yang begitu banyak. Aturan ini tidak tertulis
mungkin sudah kebiasaan dari dulu. Aku yang pelupa mencoba mengingat seluruh
aturan yang ada :
1.
Harus
bangun pagi sebelum adzan dan tugasku di rumah adalah mencuci piring
2.
Aku
harus bersikap sopan dan memakai tutur kata yang baik
3.
Ketika
disuruh sama Bibi harus cepat dilaksanakan atau tidak Bibi akan marah
4.
Jangan
membantah ketika disuruh sama nenek
5.
Harus
membantu orang yang sedang kerja ketika sedang santai
6.
Selesai
tidur harus segera dibereskan
7.
Dan
sebagainya…….
Aturan-aturan tersebut aku ketahui
ketika aku melakukan kesalahan. Rasanya tak betah jika melakukan kesalahan aku
selalu diomel Bibi samahalnya seperti Ibu. Aku sekamar dengan seorang perempuan
yang umurnya tiga tahun lebih tua dariku. Dia adalah Teh Dini. Teh Dini
orang pangalengan yang ngekos dirumah nenekku. Dia adalah seorang pelajar di
Mu’alimin yang tak jauh dari Pesantrenku. Teh Dini sudah tinggal di
rumah nenek setahun yang lalu, aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri.
Hari sabtu, pertamakalinya aku
menginjakkan kaki di Mts yang aku kira tepat untukku ini. Aku di tes untuk
masuk ke Pesantren. Tak berat tes yang aku jalani, cuman hafalan surat pendek
yang ada di juz ‘amma juga bacaan sholat. Aku cukup pede dengan seragamku yang
merah-putih. Di ruang penerimaan siswa baru. Bibi yang mengantarku, disapa oleh
seorang laki-laki yang bertubuh tegap. Dia sepertinya kenal betul dengan kakak
perempuanku yang sudah lama lulus dari sekolah ini.
Beberapa hari kemudian, aku
dinyatakan lulus dan siap memasuki masa orientasi atau masa ta’aruf. Aku tak
sabar ingin melihat murid-murid senior dan seluk beluk tentang PPI. Ketika
dites, aku merasa senang bahkan terkagum-kagum melihat kelas yang begitu banyak
dan sangat ramai oleh siswi yang memakai kerudung unik.
Hari ta’aruf atau perkenalan itu
tiba. Sesuai informasi yang aku terima, aku diwajibkan datang ke sekolah tepat
jam 6! Aku terburu-buru memakai seragam merah-putih dan kerudung, aku hampir
kesiangan. Jam 05.50 aku diantar oleh Bibi yang juga ustadz (guru) di
Pesantren. Lama sekali aku menunggu jalan raya kosong! Padahal sekolah tidak
jauh. Sepuluh menit kemudian, jalanan sedikit kosong dan kami menyeberang.
Sesampainya di gerbang sekolah. Sudah banyak murid baru yang berbaris. Aku lari
dan langsung masuk barisan seenaknya. Sementara Bibi dikerumuni santri.
Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri dan berbincang dengan Bibi. Aku
tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian, Bibi mengenalkanku pada
seorang perempuan yang juga menjadi calon santri PPI, namanya Zulfia. Tak lama,
aku dibimbing oleh wanita berkerudung unik untuk segera masuk aula.
Acara dimulai. Pertama pembukaan
dari panitia, mudir tsanawiyah dan mudir ‘am. Aku kaget ketika melihat mudir
tsanawiyah yang mirip dengan uwa. Setelah itu, beragam permainan disuguhkan.
Aku masih merasa asing ditengah ratusan orang. Tidak ada yang aku kenal
seorangpun, kecuali Zulfia. Itupun dia mengobrol dengan teman-temannya. Aku
hanya diam membisu di tengah santri baru yang sangat riuh ketika pembagian
kelompok mulai diumumkan. Bosan sekali rasanya, bahkan aku iri pada mereka yang
mempunyai sahabat, teman yang juga masuk ke Pesantren ini!
“Irma
Maesaroh….” Aku senang sudah disebut
namaku. Akhirnya aku masuk kelompok Utsman. Setelah itu, kami dipersilahkan
pulang dan membawa catatan PR yang harus kami bawa besok.
Aku menyeberang dipandu oleh
satpam. Kalau tidak dengan satpam, aku pasti tidak akan bisa menyeberang karena
jalanan di sini selalu penuh oleh kendaraan. Sesampai di rumah, aku segera
masuk kamar dan mengganti baju. Kali ini, aku sangat lapar dan siap memakan
makanan yang Bibi siapkan. Sembari makan dengan lahap, aku lihat nenek yang
dari tadi membaca buku. Aku heran dengan wanita paruh baya itu yang masih
semangat membaca buku! Bahkan buku yang Bibi miliki seperti buku ekonomi,
sejarah dsb bahkan Al-Qur’an beliau baca! Aku sendiri yang masih muda kalah
dengan antusias nenek yang sudah lanjut usia. Semua makanan di piring telah aku
habiskan. Giliran mempersiapkan apa yang harus ku bawa esok hari. Ditemani
Bibi, aku mulai mencari satu persatu barang dari satu warung ke warung lain.
Tapi satu barang yang tidak ada, kue tambang. Memang kue tambang sangat sulit!
Aku harus ke pasar banjaran, tapi itu agak jauh! Dengan helaan nafas, aku
terpaksa rela dimarahi kakak kelas tidak membawa barang lengkap.
Pagi hari, aku berangkat bersama
Bibi. Di lapang, kakak-kakak kelas sudah siap mengecek bawaan santri baru. Aku
segera ke lapang dan mulai mengeluarkan satu persatu barang. Tetapi untungnya
kakak kelas yang mengecek bawaanku sangat baik. Dia memaklumiku yang tidak
membawa kue tambang. Tak lama, aku berkumpul dengan kelompok utsman. Terlihat
semua perempuan yang tinggi dengan papan nama yang di dadanya. Kemudian, ada
instruksi bahwa kami harus menghafalkan nama-nama kelompok dan kalau salah
harus di hukum. Kami segera memperkenalkan diri seperti hal nya aku. “Irma…”
sahutku tersenyum. Ketika suasana sudah cair diantara anggota kelompok Utsman,
aku mulai menghafal dengan mengeraskan suara. “Hanna, Ajeng, emm… maaf siapa
yah? Saya lupa” sahutku malu. “Peny..” jawabnnya pelan. Aku berulang kali
menghafal sambil menunjuk namanya tapi selalu saja tidak lengkap! Aku memang
pelupa dan susah mengingat nama dan wajah orang! Atau aku kira nama-nama mereka
yang begitu unik dan sulit aku ingat. Kemudian, kami masuk ke kelas sesuai
intruksi teteh-teteh. Sebuah lirik terlihat di papan tulis.
“Ini
adalah mars PPI. Dan kalian wajib hafal!”
Mendengar
kata hafal aku kaget bahkan cemas. Karena aku benci hafalan. Aku dan
teman-teman baruku mulai menyanyi sesuai dengan intruksi. Tetapi sayang aku
masih belum hafal dan nadanya pun masih tak karuan. Aku pikir ini gampang tapi
sulit bagiku yang hanya ada nada alamiah tanpa sebuah nada piano atau alat
musik lainnya. Berhubung waktu habis, aku pulang sendirian dengan ingatan yang
masih memikirkan nada yang tepat.
Masa ta’aruf akhirnya segera
selesai! Hari ini hari terahir. Aku begitu senang karena begitu sulit membawa
barang-barang yang langka. Dimulai dengan simulasi bai’at supaya calon santri
terbayang dan sudah tahu tentang bai’at. Bai’at adalah versi upacaranya
Pesantrenku, cumin bedanya tidak ada bendera yang dikibarkan. Dalam acara
tersebut, aku simak ada pidato empat bahasa oleh murid yaitu bahasa sunda, Indonesia,
inggris, dan arab. Setiap kelas akan mendapat giliran untuk berpidato. Kemudian
ada juga pidato mudir tsanawiyyah (kepala sekolah). Dan intinya dari bai’at
adalah pembacaan janji. Yah, dari namanya pun sudah ketahuan bai’at dari bahasa
arab yang berarti janji. Terdapat 14 janji yang harus dibacakan seperti :
1.
Aku
berjanji pada guruku (ubaayi’u ustaadzi)
2.
Aku
akan taat kepada guruku (anutii’al ustaadzi)
3.
Aku
akan berbuat baik pada orangtuaku (anabirro waalidayya)
4.
Aku
akan bersungguh-sungguh dengan ikhlas (anajtahida biikhlaashin)
5.
Aku
tidak akan berdusta (alla akdziba)
6.
Aku
tidak akan bertengkar (alla atakhoshoma)
7.
Aku
tidak akan menghina seseorang (alla ahqiro ahadaa)
8.
Aku
akan membaca al-qur’an setiap hari (anaqroalquraana kulla yaumin)
9.
Aku
tidak akan merokok (alla adkhona)
10. Aku tidak akan menampakkan perhiasan kecuali apa yang nampak
11. Aku akan meninggalkan kejelekan apa yang terlihat atau yang
tersembunyo
12. Tidaklah kalian bertiga kecuali Allah yang keempat
13. Tidaklah aku berlima kecuali Allah yang keenam
14. Tidaklah aku sedang sedikit/banyak, kecuali dia menyertai dimanapun
berada
Ketika
pembacaan bai’at dimulai, hatiku serasa penuh malu sekali. Apa yang tercantum
dalam bai’at seolah doa dan motivasi. Pembacaan bai’at harus oleh dua orang
laki-laki. Yang satu membaca bahasa Indonesia dan yang kedua membaca bahasa
arabnya. Baris perempuan dan laki-laki terpisah. Laki-laki sebelah kanan
sementara perempuan sebelah kiri.
Setelah bai’at selesai, pembawa
acara mengajarkan bahwa iyel-iyel Pesantren kami yaitu : hayatuna kulluhaa
ibaadah(Hidup segala sesuatu sesuai ibadah). Bahasa yang unik Pesantren juga
ada lho! Misalnya menyebut perempuan sebagai UG (Ummahatulghad yang artinya
calon ibu yang baik). Sementara laki-laki disebut RG (Rijaalulghad). Penutup
acara ta’aruf, diawali dengan sambutan dari panitia, mudir tsanawiyyah dan
mudir ‘am. Aku bosan sekali dengan sambutan yang begitu lama, jujur saja jika
aku ingin segera memakai seragam pesantren. Kemudian, kami disuruh melantunkan
mars pesantren yang membuat aula ini bergetar. Aku yang masih terbata-bata
menjadi ingat dan bahkan menjadi semangat ketika menyanyikan mars pesantren.
Kita pelajar Persatuan Islam,
Jadi harapan di masa depan,
Ajaran islam hakiki,
Qur’an, sunnah yang menjadi sendi
Jangan islam diselubungi,
Bid’ah kurofat keji
Musuh islam luar dalam
Tugas kita untuk menghadapi
Hatiku
seolah bergetar mendengar suara yang begitu banyak. Lantunan liriknya pun
begitu berat untuk dihayati. Aku paling suka bahkan sangat suka ketika semua
kakak kelas berbicara bahwa kami adalah keluarga Pesantren Persatuan Islam 03
Pameungpeuk. Acara ini, diakhiri dengan pemesanan kelas dengan orang pilihan.
Entah kenapa, aku memilih Hanna untuk menjadi temanku selanjutnya di kelas
baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar