Halaman

Sabtu, 06 Oktober 2012

Novel: Bab 2 New Days



New Days
              Setelah aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan merantau ke daerah orang. Aku merasa menghirup udara bebas. Tapi udara itu penuh polusi bahkan tidak sesegar udara di daerahku. Maklum, Pameungpeuk sudah terbilang kota dibanding dengan Cihampelas-Cililin, daerahku. Banyak mobil dan motor yang melewat. Suasana bising dijalanan juga ikut masuk ke dalam rumah nenek yang dekat jalan raya. Aku tak habis pikir jika rumah nenek yang banyak kamar juga diimbangi dengan aturannya yang begitu banyak. Aturan ini tidak tertulis mungkin sudah kebiasaan dari dulu. Aku yang pelupa mencoba mengingat seluruh aturan yang ada :
1.      Harus bangun pagi sebelum adzan dan tugasku di rumah adalah mencuci piring
2.      Aku harus bersikap sopan dan memakai tutur kata yang baik
3.      Ketika disuruh sama Bibi harus cepat dilaksanakan atau tidak Bibi akan marah
4.      Jangan membantah ketika disuruh sama nenek
5.      Harus membantu orang yang sedang kerja ketika sedang santai
6.      Selesai tidur harus segera dibereskan
7.      Dan sebagainya…….
              Aturan-aturan tersebut aku ketahui ketika aku melakukan kesalahan. Rasanya tak betah jika melakukan kesalahan aku selalu diomel Bibi samahalnya seperti Ibu. Aku sekamar dengan seorang perempuan yang umurnya tiga tahun lebih tua dariku. Dia adalah Teh Dini. Teh Dini orang pangalengan yang ngekos dirumah nenekku. Dia adalah seorang pelajar di Mu’alimin yang tak jauh dari Pesantrenku. Teh Dini sudah tinggal di rumah nenek setahun yang lalu, aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri.
              Hari sabtu, pertamakalinya aku menginjakkan kaki di Mts yang aku kira tepat untukku ini. Aku di tes untuk masuk ke Pesantren. Tak berat tes yang aku jalani, cuman hafalan surat pendek yang ada di juz ‘amma juga bacaan sholat. Aku cukup pede dengan seragamku yang merah-putih. Di ruang penerimaan siswa baru. Bibi yang mengantarku, disapa oleh seorang laki-laki yang bertubuh tegap. Dia sepertinya kenal betul dengan kakak perempuanku yang sudah lama lulus dari sekolah ini.
              Beberapa hari kemudian, aku dinyatakan lulus dan siap memasuki masa orientasi atau masa ta’aruf. Aku tak sabar ingin melihat murid-murid senior dan seluk beluk tentang PPI. Ketika dites, aku merasa senang bahkan terkagum-kagum melihat kelas yang begitu banyak dan sangat ramai oleh siswi yang memakai kerudung unik.
              Hari ta’aruf atau perkenalan itu tiba. Sesuai informasi yang aku terima, aku diwajibkan datang ke sekolah tepat jam 6! Aku terburu-buru memakai seragam merah-putih dan kerudung, aku hampir kesiangan. Jam 05.50 aku diantar oleh Bibi yang juga ustadz (guru) di Pesantren. Lama sekali aku menunggu jalan raya kosong! Padahal sekolah tidak jauh. Sepuluh menit kemudian, jalanan sedikit kosong dan kami menyeberang. Sesampainya di gerbang sekolah. Sudah banyak murid baru yang berbaris. Aku lari dan langsung masuk barisan seenaknya. Sementara Bibi dikerumuni santri. Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri dan berbincang dengan Bibi. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian, Bibi mengenalkanku pada seorang perempuan yang juga menjadi calon santri PPI, namanya Zulfia. Tak lama, aku dibimbing oleh wanita berkerudung unik untuk segera masuk aula.
              Acara dimulai. Pertama pembukaan dari panitia, mudir tsanawiyah dan mudir ‘am. Aku kaget ketika melihat mudir tsanawiyah yang mirip dengan uwa. Setelah itu, beragam permainan disuguhkan. Aku masih merasa asing ditengah ratusan orang. Tidak ada yang aku kenal seorangpun, kecuali Zulfia. Itupun dia mengobrol dengan teman-temannya. Aku hanya diam membisu di tengah santri baru yang sangat riuh ketika pembagian kelompok mulai diumumkan. Bosan sekali rasanya, bahkan aku iri pada mereka yang mempunyai sahabat, teman yang juga masuk ke Pesantren ini!
“Irma Maesaroh….”  Aku senang sudah disebut namaku. Akhirnya aku masuk kelompok Utsman. Setelah itu, kami dipersilahkan pulang dan membawa catatan PR yang harus kami bawa besok.
              Aku menyeberang dipandu oleh satpam. Kalau tidak dengan satpam, aku pasti tidak akan bisa menyeberang karena jalanan di sini selalu penuh oleh kendaraan. Sesampai di rumah, aku segera masuk kamar dan mengganti baju. Kali ini, aku sangat lapar dan siap memakan makanan yang Bibi siapkan. Sembari makan dengan lahap, aku lihat nenek yang dari tadi membaca buku. Aku heran dengan wanita paruh baya itu yang masih semangat membaca buku! Bahkan buku yang Bibi miliki seperti buku ekonomi, sejarah dsb bahkan Al-Qur’an beliau baca! Aku sendiri yang masih muda kalah dengan antusias nenek yang sudah lanjut usia. Semua makanan di piring telah aku habiskan. Giliran mempersiapkan apa yang harus ku bawa esok hari. Ditemani Bibi, aku mulai mencari satu persatu barang dari satu warung ke warung lain. Tapi satu barang yang tidak ada, kue tambang. Memang kue tambang sangat sulit! Aku harus ke pasar banjaran, tapi itu agak jauh! Dengan helaan nafas, aku terpaksa rela dimarahi kakak kelas tidak membawa barang lengkap.
              Pagi hari, aku berangkat bersama Bibi. Di lapang, kakak-kakak kelas sudah siap mengecek bawaan santri baru. Aku segera ke lapang dan mulai mengeluarkan satu persatu barang. Tetapi untungnya kakak kelas yang mengecek bawaanku sangat baik. Dia memaklumiku yang tidak membawa kue tambang. Tak lama, aku berkumpul dengan kelompok utsman. Terlihat semua perempuan yang tinggi dengan papan nama yang di dadanya. Kemudian, ada instruksi bahwa kami harus menghafalkan nama-nama kelompok dan kalau salah harus di hukum. Kami segera memperkenalkan diri seperti hal nya aku. “Irma…” sahutku tersenyum. Ketika suasana sudah cair diantara anggota kelompok Utsman, aku mulai menghafal dengan mengeraskan suara. “Hanna, Ajeng, emm… maaf siapa yah? Saya lupa” sahutku malu. “Peny..” jawabnnya pelan. Aku berulang kali menghafal sambil menunjuk namanya tapi selalu saja tidak lengkap! Aku memang pelupa dan susah mengingat nama dan wajah orang! Atau aku kira nama-nama mereka yang begitu unik dan sulit aku ingat. Kemudian, kami masuk ke kelas sesuai intruksi teteh-teteh. Sebuah lirik terlihat di papan tulis.
“Ini adalah mars PPI. Dan kalian wajib hafal!”
Mendengar kata hafal aku kaget bahkan cemas. Karena aku benci hafalan. Aku dan teman-teman baruku mulai menyanyi sesuai dengan intruksi. Tetapi sayang aku masih belum hafal dan nadanya pun masih tak karuan. Aku pikir ini gampang tapi sulit bagiku yang hanya ada nada alamiah tanpa sebuah nada piano atau alat musik lainnya. Berhubung waktu habis, aku pulang sendirian dengan ingatan yang masih memikirkan nada yang tepat.
              Masa ta’aruf akhirnya segera selesai! Hari ini hari terahir. Aku begitu senang karena begitu sulit membawa barang-barang yang langka. Dimulai dengan simulasi bai’at supaya calon santri terbayang dan sudah tahu tentang bai’at. Bai’at adalah versi upacaranya Pesantrenku, cumin bedanya tidak ada bendera yang dikibarkan. Dalam acara tersebut, aku simak ada pidato empat bahasa oleh murid yaitu bahasa sunda, Indonesia, inggris, dan arab. Setiap kelas akan mendapat giliran untuk berpidato. Kemudian ada juga pidato mudir tsanawiyyah (kepala sekolah). Dan intinya dari bai’at adalah pembacaan janji. Yah, dari namanya pun sudah ketahuan bai’at dari bahasa arab yang berarti janji. Terdapat 14 janji yang harus dibacakan seperti :
1.      Aku berjanji pada guruku (ubaayi’u ustaadzi)
2.      Aku akan taat kepada guruku (anutii’al ustaadzi)
3.      Aku akan berbuat baik pada orangtuaku (anabirro waalidayya)
4.      Aku akan bersungguh-sungguh dengan ikhlas (anajtahida biikhlaashin)
5.      Aku tidak akan berdusta (alla akdziba)
6.      Aku tidak akan bertengkar (alla atakhoshoma)
7.      Aku tidak akan menghina seseorang (alla ahqiro ahadaa)
8.      Aku akan membaca al-qur’an setiap hari (anaqroalquraana kulla yaumin)
9.      Aku tidak akan merokok (alla adkhona)
10.  Aku tidak akan menampakkan perhiasan kecuali apa yang nampak
11.  Aku akan meninggalkan kejelekan apa yang terlihat atau yang tersembunyo
12.  Tidaklah kalian bertiga kecuali Allah yang keempat
13.  Tidaklah aku berlima kecuali Allah yang keenam
14.  Tidaklah aku sedang sedikit/banyak, kecuali dia menyertai dimanapun berada
              Ketika pembacaan bai’at dimulai, hatiku serasa penuh malu sekali. Apa yang tercantum dalam bai’at seolah doa dan motivasi. Pembacaan bai’at harus oleh dua orang laki-laki. Yang satu membaca bahasa Indonesia dan yang kedua membaca bahasa arabnya. Baris perempuan dan laki-laki terpisah. Laki-laki sebelah kanan sementara perempuan sebelah kiri.
              Setelah bai’at selesai, pembawa acara mengajarkan bahwa iyel-iyel Pesantren kami yaitu : hayatuna kulluhaa ibaadah(Hidup segala sesuatu sesuai ibadah). Bahasa yang unik Pesantren juga ada lho! Misalnya menyebut perempuan sebagai UG (Ummahatulghad yang artinya calon ibu yang baik). Sementara laki-laki disebut RG (Rijaalulghad). Penutup acara ta’aruf, diawali dengan sambutan dari panitia, mudir tsanawiyyah dan mudir ‘am. Aku bosan sekali dengan sambutan yang begitu lama, jujur saja jika aku ingin segera memakai seragam pesantren. Kemudian, kami disuruh melantunkan mars pesantren yang membuat aula ini bergetar. Aku yang masih terbata-bata menjadi ingat dan bahkan menjadi semangat ketika menyanyikan mars pesantren.
              Kita pelajar Persatuan Islam,
              Jadi harapan di masa depan,
              Ajaran islam hakiki,
              Qur’an, sunnah yang menjadi sendi
              Jangan islam diselubungi,
              Bid’ah kurofat keji
              Musuh islam luar dalam
              Tugas kita untuk menghadapi
Hatiku seolah bergetar mendengar suara yang begitu banyak. Lantunan liriknya pun begitu berat untuk dihayati. Aku paling suka bahkan sangat suka ketika semua kakak kelas berbicara bahwa kami adalah keluarga Pesantren Persatuan Islam 03 Pameungpeuk. Acara ini, diakhiri dengan pemesanan kelas dengan orang pilihan. Entah kenapa, aku memilih Hanna untuk menjadi temanku selanjutnya di kelas baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar