Tokoh :
- Rara
- Ana
- Azqieva (Qieva)
- Kholid (Lid)
- Raihan (Rey)
- Radli (Dli)
Di SMP Nirwana, ada tiga anak yang sangat akrab. Mereka bertiga
bernama Rara, Ana dan Azqieva atau disebut Qieva/Qi. Tetapi meskipun SMP,
mereka bertiga terkenal dengan jiwa muslimahnya.
Akhir-akhir ini Rara, Qieva dan Ana mencari pacar yang kece-kece
dan cool. Kebetulan di sekolah ada tiga cowok yang terkenal diantara cewek-cewek
dan sangat di idolakan oleh mereka. Tiga cowok itu bernama Raihan (rey), Kholid
(Lid) dan Radli (Dli).
Suatu hari Rey, Lid dan
Dli duduk di lapangan. Kebetulan kelas tiga muslimah ini yaitu kelas 8.1
letaknya menghadap / dekat dengan lapangan.
“Hey!! Lihat ada cowok-cowok guanteng…” sahut Rara sambil menunjuk
ke Lapangan
“Mmmp, mereka! Biasa aja kali..”jawab Ana
“Ikh,,, ganteng tahu! Kamu pilih yang mana Qi?”
“Kalau aku pilih nomor b soalnya jawabannya gampang!”
“Idih… ituh!! Cowok-cowok ganteng di lapang!” sambil mencolek Qieva
yang duduk di depan.
“Oh…. Aku pilih Rey aja soalnya dia tuh cool, berkharisma, pinter!!
Tapi playboy.. kalo kamu Ra?”
“Aku pilih Lid lah!! Dia pendiem, kata orang dia romantis, so
sweat, menjaga ceweknya dengan baik dan tak playboy!!” sahut Rara
“Biasa aja kali Rey yang terbaik, apa tuh Lid si pendiem
misterius!!” sahut Qieva
“Hey Lid yang terbaik!!!” sahut Rara dengan suara yang keras
Tiba-tiba pak Hery melempar kapur tulis dan mengenai kepala Rara.
“Jangan berisik!! Rara kerjakan soal nomor a!!”
Semua anak tertawa melihat Rara. Teng…teng..teng lonceng pun
berbunyi tanda istirahat. Rara, Ana, Qieva pergi ke kantin.
“Ra, jangan seperti itu lagi!! Apa sih, cowok-cowok yang gak
penting!” sahut Ana dengan nada yang marah
“Yayah, aku nyesel… gak kan mikir cowok. Kecuali mikirin Lid baru
itu boleh..” sahut Rara dengan senyuman menawan
“Yeh… tetep aja! Bener kata Ana..! harus janji gak boleh mutusin
persahabatan demi cowok atau hanya berdebat tentang cowok” sahut
Qieva
“Ok… I will promise” sahut Rara
“But your promise, Alloh see it!” sahut Ana
“Aduh, kagak ngerti akh..pokoknya kalian harus janji jangan seperti
persahabatan orang lain!!” sahut Qieva
Semenjak hari itu,
Rara melupakan keinginannya untuk menjadi pacar Lid. Tapi suatu hari Rara
mempunyai teman yang bernama Lina. Lina adalah saudara dekat Lid. Ia menawarkan
Rara untuk dicomblangin dengan Lid. Rara bingung dan meminta saran sahabatnya.
“Menurut aku, jangan aja! Meskipun kamu suka…”sahut Qieva
“Bukankah sudah janji sama kita?! Mmp, tapi boleh aja karena kasihan
dari pada kamu nangis GJ (Gak Jelas) melihat Lid sama cewek lain!!” tambah Ana
“Kalian mau dicomblangin juga?? Qi sama Rey, Ana sama Dli?”
sahut
Rara dengan penuh semangat
“Yeh..
aku gak mau sama Dli! Tapi boleh lah coba-coba”
“Aku
gak mauuu… meskipun suka sama Rey soalnya dia itu playboy!! Aku gak kuat
lihatnya. Apalagi lihat cewek-cewek yang lebih cantik dari padaku!” sahut Qieva
“Ya
udah klo gak mau… Na aku akan bilang ke Lina.. besok Lina udah siapkan
skenarionya!” sahut Rara yang bahagia
“Keren
juga Lina, si mak comblang sejati” sahut Ana
Selama satu bulan Ana
dan Rara rajin pede kate sama calon pacarnya. Beragam cara
dilakukan mulai dari pura-pura ketubruk, ngobrol di gerbang sekolah dan setelah
deket sering bertemu di Kantin / Perpus. Tapi Rara dan Ana jadi lupa pada Qieva
karena rajin mengejar Lid dan Dli.
Awal Februari menjadi bulan yang terindah
bagi Rara dan Ana. Karena mereka berdua ditembak sama Lid dan Dli. (Mati donk..
hehe). Gini ceritanya :
Suatu
hari Rara janjian dengan Lid di Taman Sekolah. Setelah Rara sampai, Lid sedang
memainkan biola kesayangannya.
“Ehm…ehm..”
sahut Rara sambil mendekati Lid
“Oh..
Rara (sambil menengok kebelakang) silahkan duduk!!”
“(sambil
duduk) Lho ayo lanjutin main biolanya, mau request donk?!”
“Gak
perlu request, aku mau mainkan lagu Nikka Costa-first love”
“Yah..
aku suka itu!!”
“Di
Taman yang hanya ada kita berdua, aku akan mempersembahkan lagu first love
untuk kamu”
Lid
mulai menggesekkan biolanya. Rara sangat tersanjung dan kagum. Selesai Lid
memainkan biolanya, Lid duduk dan mengulurkan tangannya seperti pangeran yang
mengajak seorang putri berdansa.
“Ayo
tuan putriku, kita nyanyi bersama-sama”
“(tersenyum
bahagia) baiklah pangeranku” sahut Rara sambil tersipu malu
Di
akhir lagu Lid mengucapkan “Saranghae, wo ai ni, and aishiteru”. Rara tersenyum
manis dan menjawab “I love U too”
Itulah cerita Rara love Lid yang
begitu romance. Sekarang giliran cerita Ana love Dli.
Seperti
biasanya, Dli ada di Perpus dan mengajak Ana pulang sekolah ke suatu tempat
dengan alasan kerja kelompok. Sepulang sekolah Dli menunggu Ana di depan pintu
gerbang. Sampainya di tempat tersebut, mereka mulai membuka buku. Lima menit
eh, terlalu sebentar… 20 menit kemudian, Ana mulai bosan dan tak mengerti
maksud Radli.
“Dli,
aku bosan! Pulang yuk! Rara menyuruhku pergi ke rumahnya! Takut kesorean, ini
sudah jam 14.00” sahut Ana cemas
“Sabar-sabar!”
“(sambil
membereskan buku) udah! Aku mau pulang”
“Ok!
Sebenarnya selama ini I like You, because you understand me..”
“So,
you love me?” sahut Ana
“Ketahuan
yah.. hehe.. belum juga nembak!”sahut Dli yang merasa malu
“Akh..
kelamaan udah I love you too!! Aku mau ke rumah Rara, besok ketemu di Perpus”
“Thank
you, my love” sahut Dli dengan senyuman yang manis
“Youre
welcome, profesorku” jawab Ana yang membalas senyuman Dli
Ketika
diperjalanan, Ana baru menyadari kalau tadi dia sudah menjadi pacar Dli. Dan
Ana tersenyum bahagia baru menyadari Dli / yang biasa Ana panggil professor
telah menjadi professor hidup Ana.
Itulah kisah ditembaknya Ana dan Rara
yang hamper mati (hehe). Mereka bertiga (Ana,Qieva dan Rara) jadi jarang sekali
bersama, hanya Ana dan Rara yang setiap minggu sering bertemu untuk double
date. Azqieva serius belajar dan merasa rindu kepada dua sahabatnya. Setiap
hari Rara membawa bekal untuk Prince Lid (so sweat banget) karena Lid selalu
lupa makan dan punya penyakit lambung kronis. Dan Ana rajin dikasih buku yang
best seller sama Dli ! (pasangan kutu buku). Tapi sepertinya Ana cuek-cuek aja
pada Dli. Ana dan Dli memang bukan pasangan romantis, tapi Ana cinta pada Dli
yang tak bisa diterjemahkan oleh otaknya.
Tanggal 14 Februari, orang barat
bilang hari valentine / hari kasih sayang. Di sekolah diadakan acara yang
memutarkan film sejarah valentine. Dan juga disebarkan kepada seluruh murid
sebuah kertas yang berisi sejara valentine. Jam 10.00 istirahat tiba, semua
murid pergi ke kantin. Seperti biasa Ana duduk dengan Dli dan Rara dengan Lid.
“Gongju
(panggilan kesayangan Lid kepada Rara) apakah kamu tidak kasih aku hadiah?”
sahut Lid sambil melihat wajah Rara
“Ya
Alloh prince! Bukannya tadi kamu lihat bahwa hari valentine yang berasal dari
kata latin artinya : yang maha perkasa, yang maha kuat dan yang maha kuasa
maksudnya sang maha kuasa. Berarti itu syirik! Karena telah mensegalakan selain
Allah!!” sahur Rara yang panjang lebar
“Yah
nih, Lid hanya nafsu aja yang dipikirin!” sahut Dli
Tiba-tiba datang Rey
“Hey!! Malah pacaran!! Aku cari kalian…sudah nyari di semua kelas,
di tong sampah juga gak ada.. kemana aja sich?” sahut Rey
“Emangnya kita sampah! Biasalah jadi prince!” sahut Lid
“Bilang aja kangen, susah amat” sahut Dli
“Iya, iya aku kangen! Klo gituh kita main PS di rumahku! Atau kita
kumpul?!”
“Okelah,…” sahut Lid
“Sippp…” sahut Dli
Semenjak Rara dan Ana
berpacaran, mereka melupakan belajar dan selalu dimarahin guru-guru karena tak
mengerjakan PR. Tapi masih untung Ana yang suka mengerjakan PR bareng Dli. Rara
yang selalu berprestasi jadi menurun. Dia tidak serius belajar, tidak
memperhatikan guru yang sedang menerangkan, dia hanya terus memikirkan makanan
yang akan dibuat untuk Lid. Dan yang parah Rara selalu telat sholat karena
mikirin Lid. Lid, Lid dan Lid yang ada diotaknya. Azqieva sebagai sahabatnya
selalu menasihati Rara, tapi masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga
kiri. Orangtua Rara akhirnya mengetahui hal itu dari Qieva. Rara marah besar
pada Qieva.
“Rara
ayo cepat putusin Lid!!! Lid berpengaruh jelek pada kamu!” sahut Ayah rara
dengan nada yang tinggi
“Sayang..
Lid itu tidak baik bagi kamu” tambah Ibunya sambil membelai anaknya
“Tapi,
Lid my prince!! And never lost in my mind! Ayah, gak kan bisa memutuskan
hubungan kami..” sahut Rara yang cemberut
“Kita
lihat saja. Kalau nilaimu jelek, kamu harus putuskan Lid!”
“Ok!
Rara setuju!” sahut Rara yang marah pada orangtuanya
Semenjak
itu, Rara tidak berkomunikasi dengan orangtuanya apalagi dengan Qieva yang ia
anggap jadi musuh.
***
Bulan
Desember, waktu begitu cepat. Tapi pendirian dan pemikiran Rara tetap kukuh
(keukeuh bhs.sundanya). sekolah mengadakan ujian semester
1. Rara, Ana dan Qieva adalah santri kelas 8.1
sementara Lid, Rey dan Dli murid kelas 9.1.
Qieva terus giat dengan belajar dan berusaha mendekati Rara. Tapi hasilnya
nihil Rara malahan makin benci pada Qieva. Ana dan Dli nasibnya sudah tak ada
hubungannya, mereka putus semenjak kejadian Rara dibenci oleh orangtuanya.
Jadi, Ana dan Qieva bergabung untuk menyadarkan Rara.
Di
Kantin saat selesai ujian.
“Qi,
gimana donk?! Rara jadi tak percaya lagi sama kita?” sahut ana yang cemas
“Sabar
Na, Allah pasti membantu kita” sahut Qieva sambil menepuk bahu Ana
Tiba-tiba
datang Rara bersama Lid dan duduk di meja yang lain.
“Qi,
lihat itu Ara!! Lho lihat dia jadi menjadi-jadi”
“Astagfirullah,
kok Rara jadi gituh. Dia berani pegang tangan di depan semua murid!!” sahur
Qieva yang sangat cemas dan kaget
“Rara
itu mudah terpengaruhi! Qi, juga gak belajar.. padahal sekarang ulangan. Tapi
dia aku lihat malah cuek-cuek aja! Mengisi pun seenaknya”
“Kayaknya
Lid mencuci otak Rara!”
“Mungkin
aja! Jadi, gimana? Samperin??” sahut Ana sambil berdiri
“Jangan.
Aku udah minta solusi ke bibi aku yang psikolog. Biarin aja.. ntar kita lihat,
dia pasti akan nyesel”
“Aku
greget lihatnya” sahut Ana sambil jarinya membentuk kepalan. Yah, wajar karena
Ana jago bela diri karate.
Ujian pun selesai sudah, tapi Rara
tak peduli. Akhir-akhir ini Rara merasa sesuatu yang ganjil pada Lid. Lid suka
memalingkan wajahnya dan suka telat kalau janjian. Entah apa yang terjadi. Dua
hari kemudian Rara semakin curiga, dan ia pun diam-diam membuntuti Lid. Sepulang
sekolah Rara bergegas naik mobil jemputan suruhan Ayannya.
“Mang,
cepet ikutin mobil biru itu!” sahut Rara sambil menutup pintu mobil
“Tapi
neng, saur bapak neng ulah kamana-mana..”sahut Mang Dadang (supir)
“Alah,
ntar aja kasih tahu bapak. Pokoknya buntutin kalau gak..” (tangannya menunjuk
dan memasang mata seram)
“Iya,iyah
non!!” (sambil ketakutan)
Dari pulang sekolah sampai pukul 10
malam Rara tak menemukan hasil apapun. Ia menghilangkan prasangka di hatinya.
Ketika pulang ke rumah, Rara dimarahin oleh bapaknya. Dan Rara dihukum tidak
main kemanapun sepulang sekolah. Rara wajib diantar dan diawasi oleh Mang
Dadang. Rara mengerutkan keningnya dan pergi ke kamar dengan perasaan marah.
Tanggal 20 Desember, acara pembagian
rapot. Di sekolah sangat ramai karena ada panggung di Lapangan sekolah. Hari
itu di Panggung pengumuman murid-murid yang berprestasi.
“Assalamu’alaikum,,”
sahut MC yang ada di panggung
“Wa’alaikumssalam..”jawan
semua penonton
“Kali
ini akan diumumkan murid-murid berprestasi..”
(Semua
penonton bertepuk tangan)
“Kelas 7.1 yaitu Rina Reina........(menyebutkan sampai kelas 7.7) dan sekarang kelas 8.1 murid yang
berprestasi adalah...”
(Semua
penonton tegang begitupun dengan Rara yang berharap dirinya)
“Adalah..
Azqieva!!” sahut MC
Saat
itu, Rara merasa kecewa pada dirinya. Rara adalah anak yang pintar tapi
semenjak berpacaran dengan Lid, Rara yang terbiasa dengan ranking 1 berubah
menjadi ranking yang terakhir.
Entah hari apa saat tu, yang penting
itu hari yang tak beruntung bagi Rara. Sore hari (terakhir acara) ia melihat
Lid duduk berdua dengan kakak kelasnya yang selama ini jadi musuh langganan
Rara.
“Lihat
Qi, itu Lid sama teh Raina!” sahut Ana sambil menunjuk kea rah Lid
“Oh,
ya! Raina eh. Teh Raina itu musuh bubuyutannya Rara kan?” sahut Qieva
“Ya..lihat
aja di sudut kanan ada Rara yang wajahnya memerah karena marah!” sahut Ana
“Oh,,
luchu yah Rara kalau wajahnya merah!”
“Ih..
kamu! Emang kalo marah, wajah Rara memerah!”
“Tapi
aku tak mengerti kejadian lama yang menyebabkan Rara Vs teh Raina”
“Kamu
tak tahu sikon waktu itu! Lain kali aku cerita”
Sementara
di sudut kanan Rara geram
“Apa!!
The Raina bikin marah!! Awas yah..pokoknya aku mau pulang!” sahut Rara sambil
mendekati Mang Dadang
“Mang
ayok!!” tambah Rara
“Ayok,
apa neng??” sahut Mang Dadang yang asyik menonton tarian di panggung
“Pulang!!”
“Oh,,
bentar-bentar neng..”(sambil mengeluarkan kunci mobil)
“Akh,
lama!!!!” sahut Rara pergi ke Jalan Raya dan mulai menyebrang.
“Lebih
baik naik angkot saja” tambah Rara
Ketika naik angkot, Rara tidak
melihat warna angkotnya yang menandakan jurusan yang akan ditempuh oleh
angkutan umum. Dua puluh menit kemudian Pak supir angkot menyapa Rara yang
penumpang satu-satunya.
“Neng..mau
kemana? Ini angkot sudah sampai di sini”sahut supir angkot
“Oh,
ya tapi mang kok gak lewat perumahan awan?”
“Itu
mah bukan naik angkot ini! Salah naik jurusan”
“Ya..u..dah
ini uangnya” sahut Rara sambil ketakutan karena sudah salah naik jurusan
Turun
dari angkot, Rara dirampok oleh 4 preman. Semua barang-barangnya habis diambil
preman termasuk HP milik Rara. Ia menangis tersedu-sedu karena tak kenal
daerahnya. Tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang wajahnya kucel.
“Kak..
tolong sebrangi saya, saya tak bisa menyebrang”
“Ayo
de” sahur Rara sambil memegang tangan anak kecil itu.
Anak
perempuan itu sudah menyebrang, tapi Rara malah melambaikan tangannya dan tak
menyadari kalau dia masih di tengah jalan. Brukkkk!! Sebuah mobil mewah
menabrak Rara.
***
Rara
membuka matanya dengan pelan-pelan. Dilihatnya ayah dan ibu dengan wajah yang
cemas.
“Ara..
sayang, kamu tidak apa-apa kan?” sahut Ibunya rara
“Bun..
(sambil merintis kesakitan) kepada Rara sakit..”
“Dok,
sebenernya ada apa dengan anakku?” sahurt Ayah rara yang menolehkan wajah ke
dokter yang ada di sebelah kanan
“Yah,
aku dimana?? Kenapa aku bisa di sini?” sahut Rara
“Sayang,
ini di RS. Kemu diantar oleh bapak-bapak karena tertabrak olehnya”
“Apa
yang kamu rasakan?” sahut dokter sambil mendekat ke Rara
“Badanku
sakit, lemah, kepalaku sakit.. dokter, aku sudah menjadi smash!”
“Apa?
Aku tidak mengerti?” sahut dokter sambil menggaruk kepala (mungkin
banyak kutu hehe.. ^_^)
“Ih,
dokter kok gak tahu kan lagu smash ‘I heart you’ ada kata-kata cenat-cenut!”
sahur Rara sambil berkata lesu
“Oh..
dasar!!” sahut dokter yang tertawa
“Pak,
anak bapak tidak apa-apa hanya perlu istirahat di sini selama satu minggu untuk
memlihkan sedikit luka dan tubuhnya..”tambah dokter
“Iyah
dok, terimakasih” sahut Ayah rara
“Saya
tinggal dulu ya Ra..” sahut dokter
“Bunda,
Ayah terimakasih karena sudah menjaga Ara.. maafin Ara, karena selalu membantah
kata-kata Ayah dan Bunda! Ara gak kan lagi membantah.. Ara sadar maksud Ayah
melarang hubungan Ara dengan Lid” sahut Rara sambil menangis
“Sayang..
tidak apa-apa” sahut Ibu rara yang membelai Rara
“Kalo
kamu sudah sadar, sudah sehat lebih baik pindah sekolah agar kamu selalu ingat
Lid!!”
“Ara
akan putusin Lid kok, sesuai keinginan Ayah..tapi ayah dan bunda akan maafin
Ara kan?” sahut Rara sambil menangis tersedu-sedu
“Ayah
dan bunda pasti maafin kamu kok!” sahut Ayah rara
Setelah Rara sadar akan maksud
orang-orang terdekatnya, ia berusaha mencoba meminta maaf pada Qieva dan Ana.
Karena Rara masih di RS, ia hanya bisa mengirim SMS kepada Qieva dan Ana.
Begini SMSnya :
“Asslm..Ana,
Qieva mafin saya yah! Saya sadar maksud kalian melarang hubungan aku dengan
Lid. Ternyata aku dengan Lid masih kecil, masih panjang yang harus saya capai.
Lagi pula Lid telah selingkuh! Saya akan putusin Lid. Maafin Rara yah??”
3
menit kemudian Ana membalasnya
“Gak
apa-apa Rara! Aku memaafkanmu.. kamu dimana? Biar aku dan Qi menjengukmu..
dekatilah Allah dan minta maaflah kepada Allah yang telah kamu duakan! Semangat
sahabatku ^_^”
Setelah
membaca SMS dari Ana, Rara menangis terharu. Selama di RS, Rara rajin sekali
sholat tahajud, baca al-qur’an apalagi sholat 5 waktu. Karena perkembangan Rara
meningkat, dokter memulangkan Rara ke rumahnya. Di rumah, ia sendirian dan
hanya bersama Bibi (pembantu). Ayah dan ibunya adalah seorang editor di salah
satu Koran terkenal di Jawa Barat. Tak ayal, Ayah dan Ibunya jarang ada di
rumah, pulang-pulang sore hari. Tapi mereka sangat sayang pada Rara.
Sianghari,
Rara ingat tentang keputusannya untuk memutuskan hubungan dengan Lid. Rara
mengambil HPnya dan mulai mengetik kata demi kata yang dikirimkan ke Lid.
Balasan dari Lid :
“Gongju, kamu marah? Biar kita
bicara dengan ketemuan di café sepulang sekolah . kamu ngawur akh!!”
Jam 14.30 Rara bertemu denganLid di
café. Saat bertemu mereka sangat kaku mungkin karena hamper satu minggu tidak
berhubungan. Rara memberanikan diri dan bernafas dalam-dalam.
“Lid, maaf.. semenjak aku
kecelakaan, aku sudah piker-pikir ini. Kamu bukan jadi Prince aku sekarang..
aku(menarik nafas dalam-dalam) ingin putus dengan kamu!”
“Tuh..kan kamu ngawur!! Kenapa kamu
jadi begini!”
“Prince eh, Lid aku serius! Aku
ingin fokus belajar dan ingin meningkatkan akhlak terpuji, ingin mencari cinta
dan ridho Allah”
“(tersenyum karena sudah mengerti)
baiklah jika ini keputusanmu, aku mendukungmu. Aku terharu kamu sudah dewasa
pemikirannya..”
Setelah
Rara memutuskan Lid, mereka jarang komunikasi. Ayah rara mempercepat
perpindahan Rara ke pesantren yang jauh dari rumahnnya dan sekolah asal Rara.
Hari sabtu Rara sudah siap-siap membawa tas berisi baju dan perlatan lainnya.
Rara terus menuggu kehadiran Ana dan Qieva. Tapi mereka tak datang juga .
dengan perasaan sedih, ia harus naik ke mobile tanpa harus melihat Ana dan
Qieva untuk terkhir kalinya.
***
Satu minggu sudah Rara di Pesantren.
Tapi, ia masih merasa sedih dengan kedua sahabatnya yang juga tak ada kabar.
Ketika sekolah, tiba-tiba guru memperkenalkan dua santri baru dan dilihatnya
adalah Ana dan Qieva. Rara merasa senang bisa melihat mereka. Istirahatpun tiba
“Ana!
Qieva!! Kalian jahat, aku kira kalian marah padaku!! Aku kangen..”
“Yeh,
aku akan selalu memaafanmu. Ini kejutan buat kamu!!” sahut Qieva yang tersenyum
bahagia
“Sekarang,
kita sama-sama mulai dari awal berusaha sampai mengejar cita-cita. Ok!” sahut
Ana
“Eh,
satu lagi. Sama-sama berusaha meraih cinta dan ridho Allah..” tambah Qieva
Mereka
tersenyum bahagia . sekarang tiga muslimah ini terus membenahi diri dan menjadi
sangat dewasa. Prestasi-prestasi mereka selalu terukir di sekolah.
Hari kamis, Rohis sekolah mengadakan
pengajian rutin. Tiga muslimah yang selalu bersama tak pernah absen dalam
pengajian. Kali ini pengisi pengajian adalah Ust.Sholeh, ia membahas tentang
‘pergaulan anak remaja’. Berikut kutipan ceramahnya :
“Anak
muda zaman ini sangat bahaya dengan pergaulan. Karena sekarang pergaulan bebas
kian marak. Dan menyebabkan hal-hal yang bertentangan dengan agama seperti
massa pacaran remaja. Pacaran dengan berkholwat yaitu berdua-duaan, saling
memandang akhwat dan ikhwan, pegangan tangan dan akhirnya melakukan hubungan
seks bebas. Astagfirullah.. padahal sudah jelas-jelas islam melarangnya!! Ini
semata untuk menjaga para wanita tapi kenapa wanita itu sendiri yang
menghancurkan harkatnya!!”
Tiba-tiba
Rara menangis tersedu-sedu
“Ra,
lho kenapa??” sahut Qieva
“Aku..
ingat saat aku berpacaran dengan Lid. Kita suka pegangan tangan! Ya Allah
maafkan hamba” sahut Rara sambil menangis
“Sudahlah,
itu masa lalu yang harus dijadikan pelajaran” jawab Qieva
“By
the way, gimana Lid dan Dli sekarang?” sahut Ana yang penasaran
“Katanya
Lid pacaran dengan Teh Raina. Tapi teh Raina selingkuh! Jadi Lid taubat dan
aktif di Rohis. Dli.. mmp, tetep aja kutu buku! Tapi dia belum pacaran lagi”
sahut Rara
“Dan
sekarang kita harus berjuang bersama!” sahut Qieva
“Jadi
sahabat sejati ok!! Gapai cita-cita setinggi langit. Carilah suami bukan pacar!
Janji??” sahut Ana dengan mendepankan tangan kananya
“Janji”
sahut Rara yang ikut menumpukkan tangannya
“Juga
harus semangat” sahut Qieva yang ikut-ikutan
“Yes,
Alhamdulillah” sahut Rara, Qieva dan Ana yang tersenyum bahagia
Itulah tiga muslimah yang berjuang
bersama-sama dan berjuang mendapatkan surga.. ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar