Halaman

Sabtu, 06 Oktober 2012

(Novel) Bab 3: Iri.com





“Seperti sebuah permen yang begitu manis. Persahabatan kami juga tak kalah dengan manisnya sebuah permen! Setiap hari, kami selalu akrab berbicara dan saling mengingatkan dalam hal kebenaran. Tetapi seperti kehidupan yang pastinya akan ada suatu permasalahan.”
            Di sekolah, aku merenungi nasib nilai ulangan Hadis. Rasanya sulit sekali aku mendapat nilai 100. Sesulit meraih bintang di langit! Tiba-tiba guru Hadis, Pak Sholeh masuk ke kelas. aku sudah tegang beribu-ribu volt (listrik kale..).
“Aku sungguh kecewa dengan hasil ulangan kalian!”
Semua santri sudah tegang dan hanya Anna yang berani menanyakan sesuatu “Memang kami dapat nilai berapa?”
“Dapat nilai 60 jauh dari KKM 70!”
Semua kecewa dan mulai mengeluh tetapi perkataan Pak Sholeh membuat mereka berhenti atas keluhannya.
“Kecuali Anna, selamat kamu dapat nilai 100! Dan untuk yang lain kalian harus rajin menghapal betul arti, tulisan serta arabnya! Selamat berjuang dan aku akan meremid kalian semua minggu depan”
“Wah, selamat yah Anna..” semua sontak mengucapkan itu. Aku hanya terdiam merasa ingin sekali seperti Anna yang selalu dapat nilai tertinggi untuk Hadis.
            Pelajaran selanjutnya adalah Tafsir. Aku mengeluh dengan hapalan surat al-qur’an yang bejibun banget (banyak maksudnya). Tak lama kemudian, aku lihat dari belakang meja belajar, Qieva mulai maju ke depan untuk menalar surat Al-baqarah dari ayat 1-50. Aku menarik nafas dalam-dalam dan terus mencoba menghapal ayat per ayat.
Tot…..tot…tot… bel berbunyi tandanya istirahat. Seperti biasa, aku ikut dengan Anna dan Qieva membeli bakso di kantin. Ketika mangkuk yang berisi bakso sudah ada dihadapan mata, aku dengan sigap menambahkan sambal lima sendok. Anna dan Qieva melihatku dengan pandangan aneh.
“Ra? Ini kan sesendok aja udah pedas banget!” sahut Anna yang kaget melihatnya
“I..iya malah aku juga setengah sendok udah gak kuat! Ada apa ra?”
“Aku lagi setress……!”
“Stres kenapa?” Anna
“Gak biasalah dengan tugas sekolah”
“Jangan diambil pusing, anggap rutinitas aja” sahut Qieva yang mencoba menenangkanku.
“Pokoknya aku pengen meluapkan kejenuhan sekolah dengan makan bakso super pedas!”
            Keesokan harinya, aku jadi sakit perut! Malah, aku jadi gak skul gara-gara sakit perutku bertambah parah.
“Bolak-balik toilet membuatku capek hati, capek perasaan capeeek segalanya!” gumamku di dalam hati.
Pulang sekolah Anna dan Qieva menengok Rara.
            Tiga hari kemudian, aku sekolah. Kali ini, penyakitku sembuh. Aku ingat ada pelajaran Bahasa Inggris, aku sontak jadi semangat 45! Selama belajar, akulah yang begitu aktif dan bisa menjawab semua pertanyaan dari Ustadzah Imas. Ku lihat Anna dan Qieva terus menutup mulutnya dan memperhatikan aku yang begitu semangat menggebu-gebu.
            Bel berbunyi sangat panjang tandanya pulang. Aku, Anna dan Qieva berjalan ke gerbang sekolah untuk menunggu mobil jemputan. Di gerbang, suasana antara kami bertiga menjadi hening. Qieva mulai membuka pembicaraan.
“Ra, aku senang sekali melihatmu semangat begitu!”
“Iya, kamu hebat bisa menjawab semua pertanyaan”
“Akh biasa-biasa aja”
Kami masih menunggu di gerbang, aku sibuk dengan Handphone, Qieva sibuk dengan Al-qur’an kecil yang selalu ia pegang dan Anna sibuk dengan lambaian tangannya pada teman-teman yang ia kenal. Akhir-akhir ini, Anna jadi populer di sekolah. Dari santri laki-laki sampai santri wanita, semua kenal Anna. Sebuah bisikan itu datang kembali yaitu iri.
Mobil ayahku akhirnya datang juga. Padahal aku sudah menunggu begitu lama. Yah, wajar jalanan pasti macet!
            Di rumah, aku langsung menonton drama kesukaanku. Tiba-tiba bayangan Anna yang mendapat nilai 100 untuk Hadis membuatku gak mood untuk menonton! Aku langsung berhenti menonton dan mulai menghapal hadis-hadis itu. Malam hari, aku tak ikut makan malam. Aku mulai menghapal Tafsir. Ketika aku melihat jam, tak terasa sudah jam 13.00! aku kaget dan segera tidur. Adzan subuhpun tiba, aku segera sholat dan mataku terlihat ada bayangan hitam. Mataku juga masih merindukan tempat tidur yang begitu nyaman. Tak terasa tubuh mendekati tempat tidur dan mulai kembali kea lam mimpi. Tiba-tiba Ibuku, membangunkanku, ternyata sudah jam 06.00 pagi! Aku kaget karena belum mandi dan memaki kerudung! Padahal sekolahku masuh jam 07.00! dan perjalanan pasti macet, akhirnya aku memutuskan untuk tidak mandi dan hanya mencuci muka. Ketika di mobil, aku sibuk dengan merapihkan kerudung dan memakai minyak wangi yang super super banyak (supaya disangka mandi hehe). Jam 07.10, aku telat dan dihukum untuk menuliskan Al-Qur’an. Kemudian, aku masuk ke kelas dengan penuh rasa malu. Anna dan Qieva langsung menyambutku dengan sejuta pertanyaan.
            Istirahat tiba, aku mulai menjawab pertanyaan yang belum sempat aku jawab tadi.
“Aku kesiangan gara-gara bergadang menghapal Hadis juga Tafsir! Lalu aku tidur lagi karena ngantuk dan bangun kesiangan!”
“Em…apakah kamu gak mandi?” tebak Anna
“Lho kok tahu??  Padahal aku sudah menuangkan banyak parfum di seragamku!”
“Aku tahu banget kamu jarang pake parfum! Jadi aneh aja mencium kamu memakai parfum ampe 1 meter juga kecium!”
“Iya Ra! Terlalu banyak pakenya padahalkan bagi seorang wanita muslimah itu jangan!” Qieva mulai bijak
“Aku malu kalo gak pake parfum, kelihatan gak mandinya!”
“Dasar Rara…” Anna menggelengkan kepala
            Ketika pelajaran Hadis, aku bisa mengisi dengan lancar. Tetapi, ketika pelajaran Tafsir aku hanya ingat 10 ayat!! Mataku tak bisa kompromi begitujuga dengan mulut yang selalu menguap! Tak ayal, aku salah melulu nalarnya dan diulang lagi nalarnya! Aku kesal sekali, padahal aku begitu ingin mengalahkan Anna dan Qieva. Bel berbunyi, aku pergi ke kantin.
“Ada apa dengan Rara? Aneh, bukannya dia yang suka bawel..?” Tanya Anna pada Qieva
“Ra, ada apa?”
“Aku ingin sekali beres nalar surat! Tetapi kenapa aku belum beres juga..”
            Suasana jadi hening ketika Rara baru pertama kali mengungkapkan amarahnya. Tiba-tiba santri-santri kelas 7 pada lewat dan hamper semua yang lewat menyapa Anna. Rara tambah memanas tetapi untung tidak gosong juga (masak kalee).
            Keesokan harinya, komunikasi antara Rara dengan Anna dan Qieva menjadi sedikit renggang. Rara selalu ke Perpus ketika istirahat dan pagi hari, ia memilih tidak menyapa pada kedua sahabatnya. Kemudian, Anna merasa geram sekali melihat sikap aneh Rara. Dia memberanikan diri untuk membuka mulut duluan.
“Ra, kenapa kau jadi seperti ini? Aku sungguh tak mengenalmu!”
Rara hanya diam dan melanjutkan membaca buku Tafsir.
“Ra jawab donk! Kami kan sobatmu”
“Iya, aku mau ke Perpus dulu” jawab Rara dengan sikap yang dingin.
“Hey, Ra kau ini pengecut!” Anna sudah terpancing emosiny
“Katakan jika kamu tak suka pada aku dan Anna. Jangan hanya terus diam!” Qieva ikut membela Anna
Rara membalikkan tubuhnya ke arah Anna, Qieva dan menarik nafas dalam…dalam….dalam….
“Aku benci sahabatku yang selalu popular di sekolah, yang akrab dengan oranglain, yang pinter pelajaran hadis. Dan Qieva, kamu begitu hebat bisa menalar tafsir dalam beberapa waktu!” mata Rara mulai berkaca-kaca.
“Aku juga benci padamu yang suka bawel, rame dan juga pintar bahasa inggris!”
“Rara jangan iri, karena semua punya kelebihan dan kekurangan. Jangan saling membenci gitu! Kita kan sahabat”
“Iya,  aku tahu aku salah” sahut Rara yang menangis
“Aku juga salah” ikut Anna yang menangis dan memeluk Rara
“Nah, itu baru sahabatku!” Qieva memeluk mereka berdua.
            Semenjak atas terbongkarnya rasa iri Rara. Anna dan Qieva ikut membantu dan menyemangati Rara untuk mengapal Hadis dan Tafsir. Begitujuga, bahasa inggris Rara mengejarkan pada Anna dan Qieva yang lemot di bahasa inggris. Mereka berdua berusaha bersama dalam setiap pelajaran. Bukan hadiah dan gelar ranking satu yang  mereka inginkan. Tetapi mereka hanya ingin ilmu pengetahuan dan nilai sebagai mengukur kemampuan agar lebih baik lagi.
            Suatu hari, Rara mendapat gelar juara umum pertama. Rara kaget dan refleks mengucapkan syukur kepada Allah swt.
“Iri dapat membuat persahabatan kita runtuh dan tak kan rapuh. Tetapi dengan kejadian ini, persahabatan kita pasti akan kuat!” Qieva
“Aku senang sekali melihat Rara di atas panggung karena sebenarnya dia pantas mendapatkan hal itu”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar