“Seperti sebuah
permen yang begitu manis. Persahabatan kami juga tak kalah dengan manisnya
sebuah permen! Setiap hari, kami selalu akrab berbicara dan saling mengingatkan
dalam hal kebenaran. Tetapi seperti kehidupan yang pastinya akan ada suatu permasalahan.”
Di
sekolah, aku merenungi nasib nilai ulangan Hadis. Rasanya sulit sekali aku
mendapat nilai 100. Sesulit meraih bintang di langit! Tiba-tiba guru Hadis, Pak
Sholeh masuk ke kelas. aku sudah tegang beribu-ribu volt (listrik kale..).
“Aku sungguh kecewa dengan hasil
ulangan kalian!”
Semua santri sudah tegang dan hanya
Anna yang berani menanyakan sesuatu “Memang kami dapat nilai berapa?”
“Dapat nilai 60 jauh dari KKM 70!”
Semua kecewa dan mulai mengeluh
tetapi perkataan Pak Sholeh membuat mereka berhenti atas keluhannya.
“Kecuali Anna, selamat kamu dapat
nilai 100! Dan untuk yang lain kalian harus rajin menghapal betul arti, tulisan
serta arabnya! Selamat berjuang dan aku akan meremid kalian semua minggu depan”
“Wah, selamat yah Anna..” semua sontak
mengucapkan itu. Aku hanya terdiam merasa ingin sekali seperti Anna yang selalu
dapat nilai tertinggi untuk Hadis.
Pelajaran
selanjutnya adalah Tafsir. Aku mengeluh dengan hapalan surat al-qur’an yang
bejibun banget (banyak maksudnya). Tak lama kemudian, aku lihat dari belakang
meja belajar, Qieva mulai maju ke depan untuk menalar surat Al-baqarah dari
ayat 1-50. Aku menarik nafas dalam-dalam dan terus mencoba menghapal ayat per
ayat.
Tot…..tot…tot… bel berbunyi tandanya
istirahat. Seperti biasa, aku ikut dengan Anna dan Qieva membeli bakso di
kantin. Ketika mangkuk yang berisi bakso sudah ada dihadapan mata, aku dengan
sigap menambahkan sambal lima sendok. Anna dan Qieva melihatku dengan pandangan
aneh.
“Ra? Ini kan sesendok aja udah pedas
banget!” sahut Anna yang kaget melihatnya
“I..iya malah aku juga setengah
sendok udah gak kuat! Ada apa ra?”
“Aku lagi setress……!”
“Stres kenapa?” Anna
“Gak biasalah dengan tugas sekolah”
“Jangan diambil pusing, anggap
rutinitas aja” sahut Qieva yang mencoba menenangkanku.
“Pokoknya aku pengen meluapkan
kejenuhan sekolah dengan makan bakso super pedas!”
Keesokan
harinya, aku jadi sakit perut! Malah, aku jadi gak skul gara-gara sakit perutku
bertambah parah.
“Bolak-balik toilet membuatku capek
hati, capek perasaan capeeek segalanya!” gumamku di dalam hati.
Pulang sekolah Anna dan Qieva
menengok Rara.
Tiga
hari kemudian, aku sekolah. Kali ini, penyakitku sembuh. Aku ingat ada
pelajaran Bahasa Inggris, aku sontak jadi semangat 45! Selama belajar, akulah
yang begitu aktif dan bisa menjawab semua pertanyaan dari Ustadzah Imas. Ku
lihat Anna dan Qieva terus menutup mulutnya dan memperhatikan aku yang begitu
semangat menggebu-gebu.
Bel
berbunyi sangat panjang tandanya pulang. Aku, Anna dan Qieva berjalan ke gerbang
sekolah untuk menunggu mobil jemputan. Di gerbang, suasana antara kami bertiga
menjadi hening. Qieva mulai membuka pembicaraan.
“Ra, aku senang sekali melihatmu
semangat begitu!”
“Iya, kamu hebat bisa menjawab semua
pertanyaan”
“Akh biasa-biasa aja”
Kami masih menunggu di gerbang, aku
sibuk dengan Handphone, Qieva sibuk dengan Al-qur’an kecil yang selalu ia
pegang dan Anna sibuk dengan lambaian tangannya pada teman-teman yang ia kenal.
Akhir-akhir ini, Anna jadi populer di sekolah. Dari santri laki-laki sampai
santri wanita, semua kenal Anna. Sebuah bisikan itu datang kembali yaitu iri.
Mobil ayahku akhirnya datang juga.
Padahal aku sudah menunggu begitu lama. Yah, wajar jalanan pasti macet!
Di
rumah, aku langsung menonton drama kesukaanku. Tiba-tiba bayangan Anna yang
mendapat nilai 100 untuk Hadis membuatku gak mood untuk menonton! Aku langsung
berhenti menonton dan mulai menghapal hadis-hadis itu. Malam hari, aku tak ikut
makan malam. Aku mulai menghapal Tafsir. Ketika aku melihat jam, tak terasa sudah
jam 13.00! aku kaget dan segera tidur. Adzan subuhpun tiba, aku segera sholat
dan mataku terlihat ada bayangan hitam. Mataku juga masih merindukan tempat
tidur yang begitu nyaman. Tak terasa tubuh mendekati tempat tidur dan mulai
kembali kea lam mimpi. Tiba-tiba Ibuku, membangunkanku, ternyata sudah jam
06.00 pagi! Aku kaget karena belum mandi dan memaki kerudung! Padahal sekolahku
masuh jam 07.00! dan perjalanan pasti macet, akhirnya aku memutuskan untuk
tidak mandi dan hanya mencuci muka. Ketika di mobil, aku sibuk dengan
merapihkan kerudung dan memakai minyak wangi yang super super banyak (supaya
disangka mandi hehe). Jam 07.10, aku telat dan dihukum untuk menuliskan
Al-Qur’an. Kemudian, aku masuk ke kelas dengan penuh rasa malu. Anna dan Qieva
langsung menyambutku dengan sejuta pertanyaan.
Istirahat
tiba, aku mulai menjawab pertanyaan yang belum sempat aku jawab tadi.
“Aku kesiangan gara-gara bergadang
menghapal Hadis juga Tafsir! Lalu aku tidur lagi karena ngantuk dan bangun
kesiangan!”
“Em…apakah kamu gak mandi?” tebak
Anna
“Lho kok tahu?? Padahal aku sudah menuangkan banyak parfum di
seragamku!”
“Aku tahu banget kamu jarang pake
parfum! Jadi aneh aja mencium kamu memakai parfum ampe 1 meter juga kecium!”
“Iya Ra! Terlalu banyak pakenya
padahalkan bagi seorang wanita muslimah itu jangan!” Qieva mulai bijak
“Aku malu kalo gak pake parfum,
kelihatan gak mandinya!”
“Dasar Rara…” Anna menggelengkan
kepala
Ketika
pelajaran Hadis, aku bisa mengisi dengan lancar. Tetapi, ketika pelajaran
Tafsir aku hanya ingat 10 ayat!! Mataku tak bisa kompromi begitujuga dengan
mulut yang selalu menguap! Tak ayal, aku salah melulu nalarnya dan diulang lagi
nalarnya! Aku kesal sekali, padahal aku begitu ingin mengalahkan Anna dan
Qieva. Bel berbunyi, aku pergi ke kantin.
“Ada apa dengan Rara? Aneh, bukannya
dia yang suka bawel..?” Tanya Anna pada Qieva
“Ra, ada apa?”
“Aku ingin sekali beres nalar surat!
Tetapi kenapa aku belum beres juga..”
Suasana
jadi hening ketika Rara baru pertama kali mengungkapkan amarahnya. Tiba-tiba santri-santri
kelas 7 pada lewat dan hamper semua yang lewat menyapa Anna. Rara tambah
memanas tetapi untung tidak gosong juga (masak kalee).
Keesokan
harinya, komunikasi antara Rara dengan Anna dan Qieva menjadi sedikit renggang.
Rara selalu ke Perpus ketika istirahat dan pagi hari, ia memilih tidak menyapa
pada kedua sahabatnya. Kemudian, Anna merasa geram sekali melihat sikap aneh
Rara. Dia memberanikan diri untuk membuka mulut duluan.
“Ra, kenapa kau jadi seperti ini?
Aku sungguh tak mengenalmu!”
Rara hanya diam dan melanjutkan
membaca buku Tafsir.
“Ra jawab donk! Kami kan sobatmu”
“Iya, aku mau ke Perpus dulu” jawab
Rara dengan sikap yang dingin.
“Hey, Ra kau ini pengecut!” Anna
sudah terpancing emosiny
“Katakan jika kamu tak suka pada aku
dan Anna. Jangan hanya terus diam!” Qieva ikut membela Anna
Rara membalikkan tubuhnya ke arah
Anna, Qieva dan menarik nafas dalam…dalam….dalam….
“Aku benci sahabatku yang selalu
popular di sekolah, yang akrab dengan oranglain, yang pinter pelajaran hadis.
Dan Qieva, kamu begitu hebat bisa menalar tafsir dalam beberapa waktu!” mata
Rara mulai berkaca-kaca.
“Aku juga benci padamu yang suka
bawel, rame dan juga pintar bahasa inggris!”
“Rara jangan iri, karena semua punya
kelebihan dan kekurangan. Jangan saling membenci gitu! Kita kan sahabat”
“Iya, aku tahu aku salah” sahut Rara yang menangis
“Aku juga salah” ikut Anna yang
menangis dan memeluk Rara
“Nah, itu baru sahabatku!” Qieva
memeluk mereka berdua.
Semenjak
atas terbongkarnya rasa iri Rara. Anna dan Qieva ikut membantu dan menyemangati
Rara untuk mengapal Hadis dan Tafsir. Begitujuga, bahasa inggris Rara
mengejarkan pada Anna dan Qieva yang lemot di bahasa inggris. Mereka berdua
berusaha bersama dalam setiap pelajaran. Bukan hadiah dan gelar ranking satu
yang mereka inginkan. Tetapi mereka
hanya ingin ilmu pengetahuan dan nilai sebagai mengukur kemampuan agar lebih
baik lagi.
Suatu
hari, Rara mendapat gelar juara umum pertama. Rara kaget dan refleks
mengucapkan syukur kepada Allah swt.
“Iri dapat membuat persahabatan kita
runtuh dan tak kan rapuh. Tetapi dengan kejadian ini, persahabatan kita pasti
akan kuat!” Qieva
“Aku senang sekali melihat Rara di
atas panggung karena sebenarnya dia pantas mendapatkan hal itu”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar